Teman Yang Baik #NjagongHamid

Siapa yang nggak kenal Mz @arman_dhani  ? Sodara beliau ini kemarin yang mengajak temen-temen di jagongan membuat semacam tribute to hamid. Tapi aja digawe nggrantes katanya, eling ginjutnya ja :). Nah, mas @arman_dhani memulai hari ini dengan tulisannya untuk teman kita semua yang baik, hamid.

Jika temen-temen ingin berpartisipasi #NjagongHamid bisa kirim tulisan ke imil [email protected] atau nulis di blognya masing masing, Bebas. Tapi kalau nulis di blog sendiri, kasih trackback ke jagongan ya, atau mensen ke twitter @njagongan. Karena rencananya akan kami kumpulkan tulisan panjenengan semua. Nuwun.


 

1923168_1035890779268_1203211_n

Bagaimana caranya berduka? Kalau itu ditanyakan padamu Mid, pasti dijawab dengan kelakar. Paling jawabanmu berkisar antara “Iki ki mah dha ngapa?” atau “Ha njuk didoakan jeh, mosok diaboti?”. Mereka yang mengenalmu paham ini mid, lha njuk piye ya, kamu bahkan dalam nasib yang paling ambruk saja masih bisa menemukan sudut komikal. Bahwa hidup itu ya gini, gusti Allah menegurmu dengan hal hal yang ga kamu sukai, kamu bisa jadi lelah mid. Lho siapa ya ndak lelah diuji? Ujian terus kapan yang-yangane?

Tapi Mid, ini ya nganu, aku lupa atau bahkan gak sadar, kamu pernah nesu apa ndak tho jane? Paling banter pas kemarin masalah pembacaan Qur’an dengan langgam jawa, kamu mumbling in sewonnesse, soal kalo tajwid bener ya kenapa ribut? Sa nda pernah liat kamu misuh misuh jeh, kecuali pas nganu, pas kita lagi rebutan perhatiannya mb anissa HHe.

Aku bar kelar baca blogmu jeh mid, aku lagi sadar kalau kamu merekomendasikan blogku buat dibaca. Halah, padahal ya blog kui mung isine mbribikan curhatanku sing ra cetha. Tapi menarik Mid, membaca blogmu membuatku sadar, kowe ki jane kesepian. Ning kesepianmu tersubtitusi dengan demikian banyak kawan-kawan yang hadir untukmu dan demikian juga sebaliknya. Aku ndak bisa gitu jeh mid, kalau ada temen yang ra cocok, wis tak tinggal. Kamu bahkan ketika kawanmu jelas jelas nyusain, kamu masih bela. “Tapi, teman…” katamu.

“Saya sendiri tidak akan menjual status pertemanan saya,” lamismu Mid lamis tenan. Tapi kowe konsisten mid, sik sik pas nulis babakan iki pipiku gobyos, motoku kemringet kakean liat mbak owsom dunga. Tapi iki tenan Mid. Dari sekian banyak orang orang yang mencintaimu, yang kamu anggap teman, yang menganggapmu teman dan semua yang menyadari bahwa kamu lebih dari sekedar teman. Kamu tidak, dan mungkin, tidak akan pernah menjual temenmu, sesusah dan senelangsa apapun dirimu.

Tulisan ini bukan untuk glorifikasi lho Mid, lha tenan, njuk ngapa? Kowe ki wis cetha apik, buat apa di apik apike. Saat kanca-kancamu sukses, situ ndak ngebut pengen ikutan sakses, malah yang ada ngerem pelan-pelan, menikmati momen. Situ bukan hanya ndak iri, tapi juga malah mendukung dan selalu ada. “Kabeh ki ana wektune,” katamu. Nah terbukti tho? Pas samean jatuh, kekurangan dan sedang susah, ana wae kanca sing mbela, tapi nganu Mid nek urusan yhank ki abot jeh kancamu do ra isa nolong.

Ngaku Mid, kowe ki jane Sufi to? Sufi sing macah prohemer? Ha njuk piye? Au moco twitmu ki ra isa dimaknai gojekan jeh. Kamu pernah bilang “Dear Tuhan yang maha ngetroll. Percaya sekali baginda memberikan cobaan hidup ini. :)),” lalu di lain kesempatan kamu bilang “Sering banget ditampol sama Tuhan dengan cara-cara yang sungguh uh woow. Apa yang saya kurang suka justru saya dapet =D,” lantas kemudian kamu bilang “Tuhan, kapan aku dibolehkan ngeslow meski sebentar…”. Salah satu favoritku “Tuhan, terima kasih telah ngetroll dengan berbagai macam keadaan, tetapi tetap memberikan jalan di tiap kesempitan,” katamu. Njuk ngaku kowe Mid, kowe sufi tho?. Tak uyel lho gelambir lemakmu nek ora.

Twit Twitmu saat malam membuat kami banyak mikir mid. Seperti beberapa di antaranya

“Hari hampir berganti. Tuhan sang pencipta hati, ijinkanlah kami saling mencintai, saling mengamini doa-doa kami.”

“Tuhan yang Maha Baik Hati, ijinkanlah kami saling mencintai, juga saling melengkapi, dan saling membukakan pintu rizky.”

“Tuhan Pencipta Matahari, ijinkanlah kami saling mencintai, saling mencerahkan hari-hari kami, tanpa perlu saling menipu diri.”

“Tuhan Pencipta Mimpi, ijinkanlah kami saling mencintai, tulus dari hati, seperti doa-doa dini hari.”

“Tuhan yang menjadikan dia secantik hari ini, ijinkanlah kami saling mencintai, saling mengisi hati, dan berbagi indahnya hari.”

“Tuhan penguasa dini hari, ijinkanlah kami saling mencintai, saling merajut asa masa depan kami, tanpa mengingkari yang sudah terjadi.”

Twit twitmu itu menunjukan betapa luas penampang (((PENAMPANG))) hatimu Mid. Mas Ajdie Silarus menyebutmu sumeleh, orang yang berbesar hati berserah diri. Sesuatu hal yang tidak mudah. Tidak di zaman ketika menuntut adalah keharusan, sementara sadar diri adalah hal yang asing. Kamu Mid, pada satu titik, lebih mirip laut. Tempat segala sungai menumpahkan isi hati, selalu menerima, bahkan segala yang pahit juga getir.

Wong sumeleh ki mesti sakti lho Mid, kaya kowe misale, au nyambut gawe njuk pengen tumbas sepatu, vinyl atau mbribik mbak mbak lucu. Tapi kowe ki selo. “Aku ki ra golek duit jee..nek aku golek duit seki ra nek kene, aku mung golek nyamane,” katamu pada seorang teman. Saat yang lain do sibuk startap, ha kowe malih asyik menyemangati, bantu ini itu. Jagongan dan Pamityangyangan, kata mas Vindra dan mas Veta adalah mustahil nek kowe ra rusuh nulung. Mugi mugi manfaate isa dadi amalanmu lho mid.

Kan yo sopo ngerti? Bidadari jeh, bidadari sing artsy ganjaranmu mid. Lahul fatihah.

Ini menarik lho Mid, persaingan kita soal mb mb owsom yang ngesoul ini memang bikin mumet. Ha piye, sa udah berupaya lamis lamisan bikin puisi sebagai penglaris ra payu. Situ mung komen Hae Mb, wis dibales nganti emoticon senyum. Wah iki jane rahasiamu opo tho bung? Masak sedemikian banyak mb mb yang kita hai kan ndak ada satupun yang kemepyar? Reka reka sebagai pujaan hati? Situ akh mung curhat terus di blog, hambok wani sithik kaya saya. Biar ngisin ngisini yang penting mbribik.

Kamu pernah bilang, “Kadang, berdamai meski sejenak, melupakan hal semacam ego dan gengsi sungguh menenangkan hati. Terima kasih, teman,” berulang kali Mid. Kamu selalu mengagungkan dan memuliakan temanmu, seolah bahwa kamu itu ndak punya keagungan, wah fak tenan ki Mid. Njuk piye Mid? Kamu itu sudah pernah sakses jodohkan orang, sakses mendorong orang bikin startap, dan sakses bikin orang memulai sesuatu yang tal sekedar wacana. Sementara kamu sendiri melabeli diri Pemimpi Tak Bernyali. Fak Mid, kowe ki sing nggawe kancamu wani dadi wong sukses.

Kenapa kita cocok Mid? Karena mungkin, nek tak rasan rasan, kita hobi self degrading. Secara komikal menertawai diri sendiri. Haaaa njuk piye? “Sudah menyelesaikan satu draft blog tentang rinduku pada si itu. Setelah tak baca lagi dalam hati kuberkata: bajingan luwih nggilani mbang abg labil,” katamu suatu kali? Soal cinta ini kita sama Mid, sama sama pecundang, ning bedane kowe ngadepi nyambi cekikikan, au ngadepi nyambi mbribik.

Aku membaca lagi Mid, membaca lagi pelan pelan tulisanmu. Kamu punya empati sing luwih alus saka senyume mbak Raisa Mid. Tenan, aluse nganti lunyu, luwih lunyu saka DM e Genna atau bribikane Bernad. Kowe iki selo, selomu mung isa ditandingi mas Lantip. Njuk piye, ndadak pengen jodohke londo barang. Objek bullymu Mas Jun kiye pasti lagi galau arep rabi mikirin ekspor batik kowe Mid. Sing tenang Mid ya Mid? Jagongan mengko diurusi karo mas Veta, gus Vin, mas Jun, pokmen sing urusan owsom owsom mengko au karo bernad, karo adit sing mbribik ya Mid? Di loske lho mid.

Penutup au pengen ngoreksi tulisanmu Mid. Tulisan sing mbok tulis dewe nang blogmu. Begini bunyinya.

“Teman teman saya contohnya, mereka punya pacar yang cantik cantik dan banyak teman. Saya iri. Saya ingin seperti mereka. Saya bukannya tidak mau, tapi saya tidak pernah bisa. Saya pernah mencoba mengikuti ajakan ajakan tersebut, tapi saya ditertawakan. Saya malah kelihatan seperti seorang badut. Kami dikelompokkan menurut kastanya masing masing. Saya si badut ini, berada di kasta paling bawah, hanya karena saya tidak sanggup mengikuti yang lain.”

Kamu bukan badut Mid. Kamu banyak hal. Kamu, pun jika harus mbadut, adalah semar. Seseorang yang rela menerima. Yang tabah, yang memberikan nasihat, padahal ya kamu punya masalah juga. Kamu selalu tampak tabah Mid, selalu kuat dihadapan temenmu, kamu mungkin rapuh, tapi memilih tidak menunjukan. Kamu bukan pengikut, kamu adalah seorang gembala, orang yang mendorong dan memberikan semangat, menunjukan jalan, menjadikan tiap tiap dari kawanmu menjadi manusia yang paham artinya hidup.

Gitu Mid. Iki mataku kemeringet meneh lho mid, njuk asu tho? Wis ya Mid, ajarkan kami merelakan. Seperti kamu merelakan hal hal yang tidak bisa kamu kendalikan.

“Tuhan, hampir mati aku diterkam rindu. Apa rencana Mu?” ~ HMD

Author: Veta Mandra

Karyawan Kerja Waktu Tertentu bagian HRD, tinggal di Bantul bagian timur. Istrinya satu anaknya tiga. Tiga sudah cukup, karena yang ditanggung asuransi perusahaan cuma segitu.

Originally posted 2015-05-21 20:00:43.

Comments 9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *