Soto ke Nasi atau Nasi ke Soto?

Setelah mbolos sekitar dua minggu sejak posting terakhir saya bab makanan dulu itu, sekitar dua minggu lalu saya menemukan pertanyaan menarik di twitter dari seorang kawan. Gini pertanyaannya:

Bayangkan, jika ada kawan yang se-selo itu berdiskusi intens tentang perkara soto dan nasi tersebut, pasti yang bersangkutan memiliki kemampuan pengamatan yang teliti dan di atas rata-rata.

Soto Kudus
Soto Kudus

Oh iya, sekedar catatan, polemik soto dan nasi ini hanya terjadi jika kita memesan “soto pisah”, memang perpisahan sering membawa polemik sih. Mesakke ya. Nah sedangkan kalau kita pesan soto biasa atau “soto campur”, maka dilemma “nasi dan soto” ini tak akan muncul. Ha gimana mau muncul, lha wong wis pinuk-pinuk campur je

Sebenarnya, kalau melihat asal mula kemunculan soto, konon asal mulanya adalah Caudo, yang lebih mirip ke sup yang dimakan dan dinikmati secara mandiri, ketimbang sayur alias jangan (seperti sayur lodeh, jangan bobor, dan sejenisnya) yang untuk menikmatinya biasanya masih dicampur karbohidrat seperti nasi, nasi jagung, atau ketela.

Tapi kemudian dalam perkembangannya, soto bisa diperlakukan sebagai sup (benar-benar berdiri sendiri tanpa nasi dan sejenisnya), bisa juga sebagai lauk (jadi didampingi nasi), atau jadi hidangan “sepinggan” yang benar-benar soto dan nasi sudah tercampur jadi satu di dalam mangkok. Terima kasih untuk Mbak Elsa Mareta yang memberikan pencerahan ini.

Jadi, sebenarnya agak kurang tepat jika yang cara penyajian soto yang satu dianggap lebih benar ketimbang penyajian soto yang lainnya. Semuanya murni tergantung selera masing-masing.

Tapi sebenarnya, ada atau tidak to perbedaan rasa secara umum antara dua macam perlakuan kita terhadap soto pisah itu?

Kalau saya sendiri sih, jika niatnya ingin mat-mat-an mencicipi soto dan/atau sedang ingin pengganjal perut yang lebih semego, biasanya akan pesan soto pisah, lalu cara menikmatinya dengan cara sotonya yang sedikit demi sedikit disiramkan di atas nasi yang mendampinginya, bukan nasi yang dicemplungkan ke mangkok soto.

Pertimbangannya adalah, rasa kaldu yang ada di kuah soto itu tetap terjaga kemurniannya, sementara nasi yang sedikit demi sedikit disiram kuah soto, juga tetap terjaga bentuknya. Selain itu jika nasi dan kuah sotonya sama-sama panas sesaat setelah kuah soto menyiram nasi, akan segera tercium aroma wangi yang khas, apalagi jika nasinya dari beras yang berkualitas tinggi.  Tambahan lagi, saya menyukai cara ini juga karena bisa menjaga nasi tidak menjadi mengembang alias mbedhedheg karena terlalu lama direndam dalam kuah.

Sebagai bonus kenikmatan mencicipi soto dengan cara ini adalah, saat nasinya sudah habis tapi kuah sotonya masih ada, monggo cemplungkan paru goreng ke kuah tersebut, tunggu sampai kuah terserap ke paru tersebut, lalu nikmati sebagai gong dari rangkaian prosesi makan soto ini. Jangan lupa sesudah itu sisa, kuahnya disruput sampai habis. Silahkan dicoba saat nanti pesan soto ya. Saran saya untuk pemula, coba lakukan teknik ini di Soto Pak Sholeh yang di Kridosono, Yogyakarta.

Oh iya, tentu saja metode tadi dapat dilaksanakan dengan sempurna dengan syarat jika kondisi keuangan sedang prima dan digdaya sehingga bisa pesen soto pisah yang harganya sedikit di atas soto campur.

Tapi setelah cerita teknik menikmati soto yang tadi itu,  bukan berarti saya tidak suka cara nasi yang dicemplungkan ke kuah soto. Hanya saja untuk metode ini, saya lebih suka sekalian pesan soto campur,  yang sudah dari bakulnya kuah soto dan nasi berpadu satu dalam deru nafas yang menggebu. iki uopuoooh..

Biasanya saya memilih soto seperti ini jika ingin benar-benar menikmati makan secara cepat, atau bisa pula saat gejala-gejala flu mulai terasa, soto seperti ini biasanya lumayan jadi alat pencegahnya.

Kenapa ini sesuai untuk menikmati makan soto secara cepat? Karena ini adalah hidangan sepinggan yang ringkes. Semua jadi satu, tinggal suap saja. Selain itu, jika kita agak kelamaan menikmati soto seperti ini, resiko nasi yang mengembang dan mbedhedheg akan menghantui. Percayalah, ini akan mengurangi kenikmatan soto kita.

Jika sebagai pencegah flu, biasanya soto dalam hidangan seperti ini dikeceri jeruk yang agak banyak plus sambal yang juga dalam takaran ekstra. Lalu rasakan rasa pedes, jeruk, dan rempah-rempah lainnya itu menunaikan tugasnya di tubuh kita. Biasanya sih kalo ndak parah banget, flu-nya batal menghampiri kita.

Biasanya teknik ini saya praktekkan di Soto Kudus yang berada di selatannya Yap Square Terban, sebelah kiri jalan kalau kita dari perempatan Mirota Kampus. Pertimbangan mencicipi soto di warung ini karena, sejauh yang saya tahu, hanya warung ini yang menggunakan kaldu udang ebi sebagai tambahan umami kuah sotonya. Udangnya ndak keliatan lho, lha wong cuma kaldunya aja kok yang diambil.

Jadi ya gitu deh, sama seperti jurus silat, setiap teknik menikmati soto sebenarnya sama enaknya, tergantung niat dan tujuannya.

Oh iya, kedua warung soto yang saya tadi sama sekali tidak memberikan bayaran, imbal balik, atau gratifikasi apapun sehubungan dengan penyebutan nama mereka di tulisan ini.

Semuanya murni berdasarkan pengalaman saya sendiri, tanpa ditawari bayaran ataupun digratisi soto oleh kedua warung tersebut. Malah kene ki sing metu biaya je.. Ha mbok tenin.. 😀

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | TemuKonco

Originally posted 2014-12-14 09:29:45.

Comments 20

  • Sotoku selalu sudah dicampur nasi, jarang dipisah. Emang salah apa mereka kok sampai dipisahkan? 🙁

  • Untuk soto kudus dan soto sokaraja (alias sroto), biasanya aku memilih campur. Utk soto lamongan atau soto-soto yg masih belum terlalu akrab, biasanya milih pisah.

  • Setauku soto sekarang itu nggak pakai sego.

    Pakainya sega

  • ada beberapa temen yang gak bisa ndelok nasi lembek kecampur kuah. makanya untuk beberapa orang jijikan itu menikmati sotonya dipisah.

    oh, ya.. kebiasaan soto dipisah itu ternyata sudah membuat para bakulnya mempersiapkan menu dan harga sendiri. lebih mahal dari soto yang dicampur(mungkin karena nambahi isah2an kali ya)

    dan satu lagi, mbuh ini kebeneran apa gak. tapi rata2 yang suka soto dipisah itu rata-rata orang jakarta. apa mung rata2 kancaku cah jakarta tok yang gitu ya?? apa memang kebiasaan bakul soto di sana yang memisahkan kuah dan nasi?

  • Mungkin sebagian besar pecinta soto campur didominasi oleh perawat dan bidan ya Mas.. Mungkin…

  • Kalau saya lebih suka soto campur yg bermula dari soto pisah. Alasan pertama, nasinya (seperti) lebih banyak. Kedua, saya bisa lebih kenyang. Ketiga, jika dicampur bisa melihatnya meh mbludak.

    Nah, untuk mencampurnya saya lebih suka menyemplungkan semua nasi sekaligus ke dalam mangkok soto. Alasannya sederhana sih, mandi kungkum itu lebih seru daripada mandi gebyar-gebyur pakai cidhuk.

    • iya bener Mas, soto pisah itu nasinya biasanya lebih banyak dari yang ndak pisah. luwih semego.. 😀

      nek bab mandi, ketokke luwih penak sing kungkum sinambi showeran banyu anget. luwih juosss.. :))

  • aku malah pgn nyoto ik saiki.. :||
    *bakule wes tutupan.

  • nek aku tak delok sek mas.. soto karo segone wis muhrim hurung? nek hurung njuk campur kan malah iso digropyok satpol keple.. 😐

  • menurut pengamatan saya sebagai salah satu penggemar soto campur, analisa mas temukonco ini sudah cukup tajam setajam silet, akan tetapi,,,mungkin ada baiknya jika diberikan penjelasan yang lebih tajam terhadap lauk yg menemani soto tadi, khususnya soto campur, ini penting menurut saya karena banyak opsi lauk yang ditawarkan mendukung dan bahkan menjadi penentu kenikmatan soto itu sendiri, terima kasih,,,,, 🙂

  • Kalo soto gagrak Mataraman saya milih soto campur. Konsekuensi sebagian rasa yang ilang karena nasi dibayar dengan pilihan lauk yang justru total jenderalnya jadi lebih mahal daripada harga sotonya 😐

    Tapi kalo soto ke arah kulon (soto Betawi, Soto Bogor) ya pisah. Dulu di depan Stasiun Bogor ada warung soto mie khas Bogor yang enak, sekarang mungkin sudah kena gusuran.

  • kalau menurut riset saya yang cenderung banyak mimilih soto pisah adalah kaum wanita, biasanya pake acara nasinya separo saja. Mungkin biar keliatannya makannya sedikit. Namun ngambil empal, sate dan gorengnnya tak terkira :mrgreen: . Di Jogja dan sekitarnya sendiri biasanya pisah dan tidak bisa selisih 2000.

    Kalau penjual soto yng surungan makan cuma kursi itu lebih seneng soto campur karena pembeli mesti tidak ribet tangannya dan bisa ngambil gorengan sate dll yang tentu akan menambah banyak inkam

  • […] akan kita dapatkan jika kita mengkonsumsi es jeruk dan makan soto secara bersamaan. Entah itu dalam soto pisah atau soto campur apalagi dalam rangka Gerakan Sotoisasi Sebagai Duta Pariwisata Bangsa mungkin akan dicanangkan […]

  • nek jarene mbah Jiwo : Tak ada pernikahan yg batal gara-gara perbedaan aliran soto masing-masing mempelai.

  • Tim soto campur , segone pas . Yen kirang tinggal imbuh . Seneng soto surungan . Napa malih wonosarinan .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *