Secangkir Teh

Selain Mas Husein dan Mbak juli, Mas Robit Mikrojul Huda yang dulu pernah namu dan njagong juga kembali bercerita. Kali ini soal kegemaran sodara beliau pada teh seduh yang makin langka. Dan, tetep, jangan lupa untuk berkenalan dan menjalin tali kasih –halah– dengan sodara beliau via twitter atau blog nya di ceritarobit.wordpress.com


Saya sudah lama tak minum teh yang seduhannya masih bener-bener teh. Maksudnya bukan seperti teh celup yang tinggal celup dan dikasih gula, tapi menyeduh dengan daun dan tangkainya yang rasanya berbeda dengan teh celup yang saya minum setiap hari. Di Jakarta, jarang sekali kita temukan di perumahan maupun di warung-warung yang menjual teh seperti itu. Pun juga di angkringan atau tempat sejenisnya. Mungkin sang penjual berpikiran bahwa lebih praktis dengan teh celup dan lebih simpel. Satu lagi, gak ribet juga kalo diminum.

Hingga beberapa hari yang lalu, tetangga saya punya hajatan, dan memberi bingkisan kepada tetangga-tetangganya. Salah satunya keluarga kakak saya mendapatkan bingkisan itu. Bingkisan dari tetangga saya itu berupa bahan pokok yang masih mentah. seperti mie instan, gula, kopi dan tentu ada teh juga. Kami mendapatkan Teh yang dibungkusnya bermerk “Teh Wangi 999”. Dalam bungkusan itu, teh yang mempunyai slogan “Teh jang paling enak” diproduksi di Surakarta.

teh 999Belum lama ini, saya baru sempat menyeduhnya. Dengan komposisi teh dan gula berdasar feeling sendiri, jadilah teh manis yang saya nikmati di waktu sore yang berbalut gerimis. Saya seperti berputar jauh ke waktu beberapa tahun silam, 13 tahun yang lalu. Ketika saya masih bersekolah dasar. Di kampung saya, tak ada tuh yang namanya teh celup dan semacamnya. Yang ada adalah teh tjap djenggot dan semacamnya. Bagi saya dulu, waktu pertama datang di Jakarta, saya merasakan asing pada teh celup. Tapi dengan berjalannya waktu, saya mulai terbiasa minum teh celup dan menjadi asing dengan teh yang saya minum sejak kecil di kampung dulu. Memang, Jakarta bisa mengubah apapun. Dari yang baik menjadi jahat, ramah menjadi acuh, tak terkecuali dengan hal minuman yang bernama Teh.

Di Jakarta juga jika kalian ingin memesan es atau teh harus bilang manis atau tawar. Itu terjadi di semua warteg, angkringan, dan tempat makan lainnya. Berbeda dengan di kampung saya, jika sedang membeli makan di warung saya cuma bilang es teh atau teh saja. Itu berarti menjadi kamu memesan es teh manis atau teh manis. Tak berlaku tuh di kampung yang namanya es teh tawar dan teh tawar. Itu juga berlaku untuk makanan soto yang dicampur dan dipisah. Dan masih banyak lagi di Jakarta yang seperti ini.

Hampir lima tahun saya hidup di Jakarta dan belum menemukan di tempat makan yang menyajikan teh yang bukan celup. Apakah kalian merasakan seperti saya? Ataukah saya sendiri yang merasakan seperti ini? Entahlah. Intinya, minum teh adalah salah satu kegiatan saya jika sedang bosen dengan kopi dan rokok.

Saya sedang tak menjadi buzzer teh lho. Dan saya tak dibayar sepeserpun oleh merk teh yang saya sebutkan di atas.

Originally posted 2015-02-16 16:31:10.

Comments 10

  • Teh andalan tetap teh hitam + melati ala Slawi.

  • Di tempat tinggal saya tiap kali habis punya hajatan memang selalu diberi semacam bingkisan berupa teh, gula, sarimi, beras, dan telur.. Biasanya sekalian sama jenang sumsum kalau acara hajatanya mantenan.

    Ngomongin soal teh, kota Solo sebenernya juwarane.. Disana beragam nama teh ada dan di tiap rumah punya racikan teh yang berbeda beda kerna ngoplos dewe.. Nek ndak percaya coba tanya Mas Jun. 🙂

    Saya dirumah sekarang ngoplos teh sendiri dengan beberapa komposisi teh yang HARUS beli di SOLO.. Ning rasane jiyan kemepyar..

    Kebetulan di tempat saya bekerja teh-nya juga JUWARAK.. 😀

  • Memang teh paling enak adalah teh yang harus di tedak, sayang teh tedak belum ada versi botolan atau kotakan yang langsung minum 😐 . Kemarin saya kepadang dan jambi minum teh sepanjang sumtra sepanjang lintas sumatra blas gak ada yang enak. 3 minggu tanpa minum teh seperi siksaan 😐

    Aku sukanya pendowo atau catut yang tidak sepet, nek jemnggot terlalu sepet. Kalau di angkringan itu jane ya gabungan minimal 2 merek tapi biasane bakul angkringan merahasiakan. Ane lebih gak tahan gak ngeteh segari dari pada gak ngopi 😐

  • Kalau di Malaysia (di sekitar KL paling gak), teh biasa diasosiakeun sebagai teh tarik (teh + susu + tarikan). Sementara teh biasa (?) seperti yang kita minum namanya Teh O atau Teh Kosong. Tetapi paling sering pedagangnya akan memastikan ulang kalau kita cuma bilang “Nak teh!”, tanpa detail tarik atau O.

    Sementara, kalau kadar kemanisan, rasanya orang-orang Malaysia setingkat di atas kita. Bahkan secangkir teh seringkali lebih tepat disebut air gula campur teh, bukan teh campur gula. Malaysia nomer satu di ASEAN untuk urusan diabet ngomong-ngomong.

    Dan karena kebanyakan orang mengkonsumsi teh celup, istilah kenthel juga hampir tidak ada di sini. Teh dimana-mana pasti bening. Bikin kepala pusing. 🙁

  • teh seduhan cen ra tergantikan kok.. oh iya kalau mau sedikit tes, coba buat dua cangkir teh, yang satu teh celup, sementara satunya teh seduhan dari merk teh kesukaan kita.

    Kalau udah jadi, syukur-syukur ndak usah dikasih gula dulu, coba cicipi teh seduh terlebih dahulu. Rasakan benar-benar. Kemudian setelah selesai, langsung coba teh celup. Biasanya nanti ada samar-samar sedikit ada rasa “kertas” di teh celup itu. 😀

  • Perlu dicoba tuh mas perbandingane, oh mbokya diumpan lambung tuh kalo ada teh yang manteb. Haha

  • teh yang enak adalah yang sepaket sama teteh..

  • Bagi saya, kentel atau cuer gak masalah, yang penting tehnya panas, manis, dan kemepyar..

  • teh kalo g ada pendamping nya kurang mantebbbb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares