Melinjo Part II

IMG_20160518_092734_1

Setelah kemarin saya mbahas tentang pengalaman ocek melinjo, sekarang saya mau mbahas tentang berbagai makanan dari melinjo. Monggo..

*bagi yang kolesterolnya tinggi, ampun maos pas luwe.

Melinjo dan segala hal yang berhubungan denganya menjadi hal yang menakutkan bagi njenengan yang punya kolesterol tinggi. Tapi apalah itu namanya, makanan yang berbau melinjo ini enak semua sodara-sodara. Percayalah.

Sebut saja kulit melinjo. Ini yang dimaksud adalah kulit bagian luar dari melinjo loh ya. Meskipun hanya kulit, namun ketika bahan masakan ini dicampur dengan tempe, daun so, pete, dan sedikit mis-mis berupa sandung lamur pasti akan membuat tanduk ketika menyantapnya. Jangan lupa diolah oseng-oseng dengan pendamping kerupuk kampung atau kerupuk yang bulat bolong-bolong itu loh. Eh, satu lagi, dipedesi alias gunakanlah lombok yang banyak sampai pedes dan membuat gobyos kalau makan. Hehe..

Tadi saya menyebutkan daun so kalau njenengan masih kelingan. Yes, betul daun so atau daun melinjo yang masih muda juga merupakan sayuran berwarna hijau yang rasanya inuk tenan. Selain ditumis atau dioseng-oseng, daun melinjo biasanya sebagai campuran sayur lodeh. Isinya? Beragam. Bisa dengan campuran kulit melinjo, papaya yang dirajang seperti korek api, tambahkan uceng, ebi, dan mis-misnya berupa daging ayam. Santanya tidak perlu kental, santan encer saja. Eh, petenya jangan lupa ya. Sambalnya berupa sambal tomat dengan kerupk berupa kerupuk lémpéng atau karak. Kalau ada yang bilang daun so itu pahit, pasti yang dipakai daun so yang sudah tua. Menggunakan daun so yang masih muda itu sebuah keharusan kalau mau menggunakanya sebagai sayur.

Apalagi bagian dari melinjo yang enak dimakan? Ucengnya sodara-sodara. Uceng adalah bakal melinjo yang masih muda. Uceng biasanya untuk makanan bersantan seperti lodeh yang saya sebutkan tadi. Bisa juga uceng bersama daun so sebagai sayur hijau dalam pembuatan gudeg. Ini sering dipakai simbok saya dikarenakan kalau gudeg hanya gori, kurang ada ijo-ijonya kata beliau.

Adakah lagi? Jelas ada. Isi melinjo itu bisa dijadikan emping dan ini sudah sangat terkenal. Emping melinjo itu rasanya gurih dan cocok untuk sendok saat menyantap tape ketan pas lebaran. Beberapa pembuat emping melinjo punya cirri khas masing-masing. Bagi yang ndak mau rugi, mereka membuat emping dari lebih dari satu melinjo sehingga bentuknya tebal. Biasanya ini dioplos denga melinjo yang gosong atau yang kualitasnya kurang bagus. Alasanya? Menambah berat ketika ditimbang dan biasanya mereka menjual ketika kondisi belum kering benar. Khusus bagi yang pembuat emping melinjo kualitas wahid, mereka membuat dari satu melinjo untuk satu emping dengan teknik memukul yang khas dan tingkat kematangan melinjo ketika disangrai yang pas pula supaya emping menjadi lebar sempurna dan warnanya tidak gosong.

Bagi yang tidak tau apa itu emping, emping adalah kerupuk. Jadi, emping melinjo adalah kerupuk melinjo dan tidak hanya isi melinjo yang bisa dijadikan sebagai camilan. Kulit melinjo juga bisa sebagai camilan. Biasanya kulit melinjo langsung digoreng dan ketika diangkat langsung ditaburi garam atau serbuk bumbu penyedap supaya lebih enak.

Masih ada yang lainya? Jamur melinjo juga enak. Ini bukan jamur yang terdapat dalam melinjo, tetapi jamur yang tumbuh disekitar akar pohon melinjo. Jamur ini biasanya tumbuh pada saat musim penghujan dan menjadi rebutan warga desa dari yang tua sampai yang muda. Percayalah, dioseng-oseng dengan rasa pedas yang dominan menjadikan jamur melinjo makanan yang cocok menghilangkan lapar sehabis bekerja atau ketika rolasan tiba.

Njenengan semua lebih suka yang mana?

Author: Alfonsa Juliana

Originally posted 2016-05-22 15:21:09.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares