Malam Seperti Biasanya

Malam itu, angkringan Pak Ngadiyo tidak begitu ramai seperti biasanya. Pak Ngadiyo terlihat sedang mengelap meja yang baru saja ditinggalkan pembelinya. Malam itu Pak Ngadiyo ditemani oleh Mas Toro, keponakan semata kebonya yang tersohor jadi penulis terkenal Serial Keluarga Api. Di sela kegiatan mengelap mejanya, datanglah seorang pemuda yang sebenarnya tak lagi muda. Dialah Mas Tama, adik Mas Lantip. Bapak beranak tiga yang sering mengaku muda di mana-mana, padahal sodara beliau sudah tak lagi muda. Yha, persis seperti es kelapa. Tua, ngaku muda.

“Pak Ngadiyo, kopi setunggal nggeh”, kata Mas Tama sambil duduk di sebelah Mas Toro.

“Beris Mas”, sahut Pak Ngadiyo.

Tak berapa lama, Pak Ngadiyo pun membuatkan kopi yang harumnya menyebar sampai ke pojok angkringan.

Mas Tama sambil mengambil mendoan pun menyerutup kopi buatan Pak Ngadiyo. Kopi Pak Ngadiyo pun beradu dengan bibir Mas Tama, dan mulai memasuki kerongkongannya. Kemepyar.

“We lah, seperti biyasa Pak Ngadiyo, kopi sampeyan ndak pernah mengecewakan”, ujar Mas Tama. “Pakai resep rahasia apa toh?”, lanjutnya.

“Lhadalah mas, biasa saja kok. Itu cuma sachetan. Kopi Cap Ayam Geprek, yang biasa dijual di warung-warung itu”, sahut Pak Ngadiyo

“Ndak mungkin, saya di rumah biasa bikin ndak bisa enak begini kok”, sanggah Mas Tama dengan semangatnya.

“Lha itu mas, bedanya, saya menyeduhnya dengan cinta pada pelanggan saya, selain itu, istilah orang jaman sekarang juga make fashion“, kata Pak Ngadiyo sambil menambahkan arang di tungku tiga ceret nya. Diikuti Mas Tama yang memasang tampang kebingungan.

“Uopo toh lek? Kopi kok bisa sampai soal baju, pakai fashion-fashionan segala”. Mas Toro tiba-tiba menyambar pembicaraan mereka bagai bus malam.

“Lho, fashion kok klambi. Bukan, itu lho apa namane, sing melakukan pekerjaan dengan senang”, sahut Pak Ngadiyo seraya mempertahankan ke-enggresannya.

“O… Passion…”, Mas Tama dan mas Toro pun kompak melongo.

“Nah itu. Itu maksud saya”, tukas Pak Ngadiyo. Pokoke, saya mbikin kopinya dengan bahagia, gembira. Kopinya juga biasa saja. Cuma ya, arang saya istimewa. Arang semangka!

“Wis wis, lik. Jangan rusuh. Mas Tama ini rumahe mung kidul lapangan ndek situ, ya ndak mungkin kapusan perkara areng”, kata mas Toro sambil geleng-geleng. Sementara Mas Tama plendhas-plendhus menahan ketawa.

“Iya lho tapi Pak Ngadiyo, areng sampeyan, eh, kopi sampeyan ini memang luar biasa. Pasti pada ndak percaya kalau kopi sampeyan ini kopi sachetan biasa”, puji Mas Tama pada Pak Ngadiyo seraya melanjutkan seruputan kopinya.

Tak terasa, malam makin larut. Mas Tama pun bergegas pamit pulang. Tak berapa lama Pak Ngadiyo pun sadar, kalau Mas Tama belum bayar. Pak Ngadiyo pun berteriak

“Mas Tama… Belum itungan!”

“Besok nggeh Pak. Pokoke kopi satu, gorengan tiga, sate telur puyuh satu” teriak Mas Tama sambil terkekeh seraya menggenjot sepedanya.

“Kuapok lik! Sok sokan ngapalke Basa Inggris, pake kata-kata njlimet fesen-pesen. Malah lali itungan”, kata Mas Toro diikuti dengan tawa sejadinya.

Malam sudah hampir pagi. Kalau orang Jawa bilang sudah lingsir wengi. Jalan depan angkringan yang biasanya ramai pun sudah tinggal satu dua yang lewat. Pak Ngadiyo pun memutuskan untuk menyudahi jualannya malam itu.

“Le, sudah dulu yo? Besok lagi. Besok rak koe masih harus ke UwaUwu Media pagi-pagi sekali buat ngerembuk stok ulang bukumu itu tha?”, Ajak Pak Ngadiyo kepada Mas Toro

“Nggih lik.”, jawab Mas Toro dengan takzimnya.

Originally posted 2015-04-06 18:53:22.

Comments 6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares