Kula Naming Nyambut Damel Ten Griya

Jadi gini, saya memutuskan untuk tidak bekerja di kantor itu hampir 3 tahun yang lalu dan memutuskan untuk pulang ke Solo untuk membayar ‘hutang’ saya ke orang tua saya. Cerita lengkap di sini.

Nah, karena memang dari awal saya ingin mencoba usaha sendiri, dari jualan tiket online di rumah dan sekarang akhirnya saya bekerja menjadi bagian dari sebuah perusahaan yang menjual hasil batik yang berada di Amerika sana. Memang agak susah awalnya bekerja sendiri, dari yang sebelumnya bekerja dengan penghasilan yang tetap dan berubah menjadi penghasilan yang kadang ada kadang enggak. duh, malah surhat

Ok, gini.. Saya pun menetapkan kamar saya di rumah menjadi sebuah ‘kantor’ asal-asalan. Kantor yang ketika bangun tidur 5 meter dari kasur sudah kantor. Gak perlu bangun pagi untuk mandi dan bergegas berangkat buru-buru ke kantor untuk menghindari macet. Menyenangkan sekali memang bekerja di rumah/kantor itu. Tampak santai, bahkan saya sampai lupa penampilan saya gimana ketika pakai baju resmi untuk ke kantor. :))

Tapi, bekerja dari rumah juga punya pengamalan yang kurang mengenakan. Ketika seorang tetangga menyapa dan bertanya kepada saya di pagi hari.

“Mas, Iwan libur ya?” tanya Budhe Giman kepada saya.

“Mboten Budhe..” Jawab Saya..

“Kok jam sementen tasih santai?!” tanyanya lagi.

“Kula masuk siang kok.” Jawab saya agar pembicaraan itu segera terputus.

Akhirnya saya masuk rumah dan segera mandi. Setelah mandi saya pun segera bergegas duduk manis di meja kerja saya depan kasur, tak lupa pula segelas kopi dan kretek di pagi hari. Membaca dan membalas email yang semalam dikirim oleh rekan kerja saya di sana.

Setelah lewat siang, sayapun segera pergi bergegas melihat stok kain di pabrik batik langganan saya, apakah ada kain dengan motif baru yang datang. Biar bisa saya foto dan saya laporkan ke rekan saya untuk dijadikan referensi pemilihan motif.

Setelah dari pabrik batik langganan saya, ritual seharian saya adalah antara main ke Rumah Blogger Indonesia atau duduk manis sambil wang-sinawang di ‘kantor’ saya satunya di sebuah warung kopi di sebuah Mall di Solo. Tapi saya lebih sering nongkrong di ‘kantor’ itu. Karena internet-nya cepat dan banyak sawangan. hehe.. alasan saya sih lebih ke banyak sawangan, karena di rumah saya internet juga cukup cepat.

Banyak orang mengira ini adalah gaya hidup hedon atau apa, sok ngopi2 di cafe harga secangkir lebih dari 20ribu. Saya terserah saja apa kata mereka. Wong saya juga ndak minta duit mereka. Alasan saya yang lain adalah, selain bosen liat atap genteng tetangga dari kamar saya di atas yaitu biar para tetangga tau kalau saya berkesan berangkat kerja, ndak hanya di rumah saja. Nanti dikira saya dapat duit dari orang tua atau ngepet, kan repot. Itu baru tentangga, gimana menjelaskan dengan keluarga dan keluarga dari pacar? ๐Ÿ˜

Seperti itulah pengalaman saya kerja di rumah. Monggo di-share pengalaman teman-teman yang punya ‘kantor’ di rumah.. apakah juga mengalami pengalaman seperti saya???

Originally posted 2015-03-20 17:29:30.

Comments 18

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares