Godaan Nama

Sama seperti tempat layanan jasa dan barang lainnya, nama adalah hal yang dipandang penting sebagai alat goda calon konsumen agar berkunjung.

Gula Jawa
Gula Jawa yang Red Sugar

Bahkan, beberapa waktu lalu ada yang sampai masuk koran karena nama warung dan nama menu yang ditawarkan dianggap terlalu saru dan porno. Walaupun sesungguhnya menu yang ditawarkan biasa saja baik dari segi rasa dan penampilan.

Setidaknya tak ada yang sampai beraroma pandan sih.

Itu tadi salah satu contoh yang ekstrem, yang langsung dapat sorotan dari masyarakat.

Di luar itu, sebenarnya ada beberapa tempat makan menggunakan nama tertentu untuk menarik para pengunjung, tapi sesungguhnya apa yang ditawarkan di tempat itu tak sesuai dengan namanya.

Bagi pengunjung yang awam, mungkin hal ini tidak terlalu menganggu. Tapi bagi mereka yang tahu dan berharap apa yang mereka peroleh di tenpat itu sesuai dengan nama yang tertera, tentu saja akan kagol, kecewa.

Contohnya tempat-tempat makan baru,  yang menggunakan nama “lesehan” sebagai label mereka. Warung/rumah makan baru lho ya, bukan lesehan pinggir jalan yang udah ada dari dulu dan memang benar-benar wujud asli lesehan.

Coba deh disensus, dari beberapa warung yang gunakan “lesehan” pada nama mereka, berapa yang benar-benar formatnya lesehan? Atau dari semua tempat yang tersedia untuk pengunjung, berapa persen yang benar-benar lesehan?

Sejauh yang saya temui, jarang tempat-tempat makan baru yang mengusung nama “lesehan” memiliki lebih dari 50% space berformat lesehan bagi pengunjungnya. Biasanya lebih banyak yang pakai meja dan kursi seperti tempat makan lainnya. Ini godaan nama yang harus diwaspadai terutama bagi para fanatik lesehan.

Ini mirip dengan tempat-tempat nongkrong baru yang menggunakan istilah “angkringan” untuk nama mereka. Ing atase namanya “angkringan” tapi penampakannya sangat rapi dan resmi, sehingga membuat orang-orang segan untuk duduk methangkring di sana. Padahal, kalau tak salah kata angkringan berasal dari kata “methangkring” sebuah gaya yang sangat pewe untuk menikmati hangatnya jahe atau teh nasgitel di sana.

Terakhir, ada sebuah tempat kumpulnya kawula muda yang saat baru buka memasang label sebagai “tempat nongkrong dengan suasana dan rasa London”.

Beberapa hari kemudian, seorang kawan ngedumel dan menceritakan pengalamannya saat nongkrong di tempat tersebut.

Kata kawan saya, ia tergoda ke tempat tersebut karena ada label “suasana dan rasa London”-nya itu. Namun alangkah kecewanya saat melihat menu di sana yang tersedia hanya masakan-masakan dari Eropa Daratan.

Si waiter-pun tak bisa menjawab saat kawan saya itu minta fish n chips yang konon kudapan umum di Inggris sana.

Puncaknya, saat kawan saya itu ingin memesan teh English Breakfast, si waiter menjawab, “Maaf Mas, tidak ada menu sarapan di sini karena kami mulai buka jam 12:00 WIB.”

Demikianlah, kena goda karena nama.

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | TemuKonco

Originally posted 2015-05-17 18:36:32.

Comments 10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares