Tulup

tulup -- senjata tradisional indonesia
sumber: http://kotakitaku-tamanbambunusantara.blogspot.com

Dahulu, jaman ketika cahaya bintang masih menjadi penguasa malam, jaman ketika rumah-rumah memiliki pojok-pojok berhias lengas, hasil dari lampu teplok berbahan bakar minyak tanah, adalah jaman ketika kegiatan keluar malam adalah sesuatu yang membanggakan, terutama bagi anak-anak. Kala itu, ketika Bon Setiajo masih berumur 18 tahun, hampir bisa dipastikan tidak ada anak-anak yang kelayapan di malam hari. Di samping jalanan masih gelap karena minimnya cahaya, juga karena segala tetek bengek cerita seram merupakan bagian yang sangat lekat bagi anak-anak kala itu.

Pada masa-masa seperti itu, anak-anak di kampung saya –setelah selesai mengaji dan sholat Isya’, rutinitas yang berakhir sekitar pukul 19.30 WIB– biasanya meringkuk di rumahnya, mengerjakan PR atau tidur. Acara TV tinggal berisi kisah cinta roman ala dewasa, seperti The Bon and The Beautiful. Iya, kala itu Bon sudah dewasa.

Nah, tetapi seperti biasa, selalu saja ada sekelompok anak yang cukup selo dan agak entah, kumpul-kumpul lalu berkeliling kampung melakukan kegiatan yang tak kalah entahnya. Untuk hal ini mungkin akan jadi cerita sendiri, tetapi saya akan membahas salah satu kegiatan yang kami lakukan waktu itu, berburu.

Berburu Apa?

Pertanyaan bagus, karena di Jogja ini wilayah yang ada hutannya tinggal bisa dihitung jari, bahkan semenjak jaman Bon masih belum terhitung tua. Tidak, kami tidak berburu binatang-binatang hebat seperti rusa, kijang atau sejenisnya. Kami berburu tokek.

Lantas senjata apa yang kami gunakan? Seperti judul di atas, senjata kami adalah Tulup. Sederhana saja, dengan memotong satu ruas bambu muda dengan diameter sekitar kurang dari 5cm (kalau tidak salah), dan jarum goni yang berhias jumbai dari tali rafia. Jarum goni adalah jarum besar yang biasanya dipakai untuk menjahit karung goni atau kasur. Di bagian pangkalnya kita ikatkan beberapa potong pendek tali rafia, yang kemudian tali rafia ini disuwir-suwir menjadi jumbai. Sedangkan ukuran panjang ruas bambu bisa beraneka ragam, tetapi rata-rata tak lebih dari panjang penggaris 30cm.

Cara menggunakan tulup adalah dengan meniup kencang-kencang jarum di dalamnya sehingga terlontar keluar. Dari panjangnya ruas bambu, posisi mulut dengan mata, bisa dibayangkan cukup sulit mengincar dengan tepat sasaran. Apalagi ketika sasarannya adalah tokek yang biasanya berada di bagian teratas tembok rumah, kira-kira 2 hingga 3 meter dari permukaan tanah. Tinggi tubuh kami yang masih dalam kisaran 1 meter tentu semakin menyulitkan.

Feeling, itu yang dijadikan alat utama. Dalam kondisi remang, jarak yang tinggi, sasaran bergerak, dan sungguh suatu pytagoras yang absurd, sangat mustahil mengincar sasaran dengan sebenar-benar mengincar seperti seorang sniper memicingkan satu matanya melalui lobang teleskop.

Namun nyatanya, kami bisa melakukannya! Dan dengan tingkat kerumitan ini pula, sempat saya membayangkan bahwa ini adalah senjata dari Jepang, sebuah teknologi Ninja. Apalagi saya sempat juga melihat satu film ninja dimana ada adegan sang tokoh meniup sebatang ruas bambu seperti tulup ini, hanya saja yang keluar bukan jarum tetapi asap. Sirep.

Hingga ketika saya sudah dewasa, Bon sudah tua tetapi masih terhitung muda untuk highlander sejenisnya, barulah saya tahu bahwa Suku Dayak menggunakan tulup juga untuk berburu. Hanya saja tulup milik suku Dayak panjangnya hampir atau malah lebih tinggi dari ketinggian orang dewasa, dan jarumnya pun besar, hampir seukuran anak panah.

Oh iya, kami memilih tokek yang diburu karena dia cukup menantang keberadaannya. Suaranya berbeda sehingga bisa di-track dari jarak jauh, mengasah kemampuan kami mencari jejak, dan dia juga cukup lincah bergerak.

Untuk Apa?

Nah ini agak looping. Mohon maaf kepada para pecinta binatang, waktu itu kami masih sangat muda, hanya Bon yang sudah dewasa dan itupun saya ndak tahu apakah Bon pecinta binatang atau bukan, jadi kami masihlah sangat naif.

Saya sebut looping karena ketika kami berhasil mendapatkan satu tokek, maka kami akan membasahi jarum-jarum tulup kami dengan cairan yang keluar dari tubuh tokek. Kami cukup percaya bahwa cairan ini berbisa, sehingga harapannya di kemudian hari kami cukup menggunakan satu jarum untuk menjatuhkan tokek. Hal yang kami lupa adalah bahwa tokek hidup dengan cairan itu dan belum pernah sekalipun kami melihat tokek keracunan ketika menjilat kakinya sendiri. Absurd.

Biasanya tokek lantas menjadi makanan kucing, pernah juga tokek ini dikasihkan makan ke merpati oleh tetangga saya, karena dia yakin bahwa dengan dikasih makan tokek maka merpatinya akan menang balapan. Dan benar saja, setelah diberi makan tokek, merpati tetangga saya jadi menang balapan, balapan menghadap yang kuasa.

Lantas?

Ndak ada lantas, wong ini cuma bercerita saja apa yang saya ingat. Dan mestinya ini saya ceritakan pas hari Sabtu, jatah saya, hanya ndilalahnya harus mundur sehari. Lagian saya ndak ingin membuat cupid gelisah, ya kan? Cupid kan masih kecil, masa-masa labil lah. Kalau dia baca ini terus berpikir,”wah ini lebih cool dari panah” kan repot. Saya jamin meleset semua yang dia sasar.

Ingat ya pid, cupid, tulup itu butuh menyatunya semua indra untuk menguasainya. Ini agar kamu jangan coba-coba dan membuat para jomblo semakin merana.

vale, demi tiup meniup

el rony, dodolan rafiah suwir.

n.b: sebaiknya jangan mainan tulup. dulu pernah kejadian, entah bagaimana jarum yang seharusnya ditiup malah tersedot, sehingga ada anak yang menelan jarum tulup karena kesalahan fatal ini. kabarnya sih selamat, karena jarumnya menghadap ke atas, cuma bayangkan kalau rafiah suwir itu ada di ususmu, ngilikithik ora iso ngindo, po ra bongko?

Originally posted 2015-02-15 22:13:03.

Comments 12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *