Rok Span: Sebuah Simbolisasi Perjuangan Kaum Perempuan

Mbak Juli datang dan njagong lagi! Setelah dulu pernah njagong dan ngobrolke soal daster, kini saudari beliau njagong lagi perihal rok span senengan e Pak Dir Vindrasu.


Saia mungkin terlihat kepengen eksis, hahaha.. Tidak, tidak.. Saia hanya ingin menumpahkan isi kepala saia saja. Sebetulnya saia juga ada blog, tempat dimana saia sebut sebagai rumah virtual dimana saia bisa menceritakan segala tentang apa yang ada di kepala saia. Tetapi karna entah kenapa saia sangat malas menulis disana, maka tempat ini saia jadikan sebagai tempat pelampiasan saia. Semoga anda semua berkenan. Terimakasih. ๐Ÿ™‚

Baeklah, setelah kemaren saia bercerita tentang pakaian bernama daster, kali ini saia akan sedikit membagi tentang isi otak saia mengenai pakaian bernama rok span. Entah kenapa rok ini selalu identik dengan kaum pekerja. Percaya atau tidak, rok ini awalnya juga terinspirasi oleh salah satu pakaian jawa bernama jarik. Hal yang mendasari kenapa pakaian ini terlihat identik dengan kaum pekerja khususnya perempuan karena rok ini selalu menjadi idola kami, kaum perempuan untuk selalu memakainya. Memang tidak bisa dipungkiri, rok span itu yang terbaik. Kami terlihat seksi dan sebetulnya sangat nyaman karna bentuknya yang biasanya pendek dan warnanya yang polos atau tanpa motif. Wanita dengan badan subur seperti saia saja bisa terlihat lumaian kalo pakai rok ini.

Jarik, memang identik dengan ukuran yang panjang dan corak yang beragam. Kekhususan jarik tersebut membuat kaum perempuan yang memakainya harus punya setidaknya dua atau tiga baju kebaya berwarna polos. Jaman berubah, perempuan yang identik dengan dapur, pupur, kasur, dan sumur juga ingin bekerja dan mempunyai uang sendiri untuk beli keperluan tambahan atau sekadar tumbas mbang gulo. Pekerjaan yang tetap terlihat perempuan adalah jualan jamu. Yak, jualan jamu menjadi cikal bakal jarik digunakan dengan ukuran pendek. Prajurit perempuan pun, banyak dilihat dalam baju kasatrian perempuan, menggunakan jarik pendek sebagai pelapis celananya.

Jadi to, menurut otak saia, rok span itu awalnya terinspirasi dari mbok2 jamu itu. Kan mereka tipe pekerja yang tak pernah lelah, menggunakan jarik panjang tentu saja merepotkan mereka. Penggunakan jarik dengan ukuran minimalis dan pendek membuat mereka berjalan lebih enak dan menemui para pelangganya dengan waktu yang singkat.

Sekarang ini begitu banyak rok span yang ditawarkan pasar karena memang sumbangsih bangsa lain sangat banyak untuk merubah design dan style rok span. Meskipun begitu, warna hitam tetap menjadi kebanggan. Warna hitam bisa membuat pemakainya terlihat lebih kurus katanya. Bagi saia pribadi, warna rok span yang hitam membuat saia tidak canggung untuk memakainya sampai dua atau tiga hari. Warna ini juga bisa di padu padankan dengan warna lain. Nek nganggo klambi podo nganti rong dino kui kadang akeh sek ngilokne, ning nek rok ora soale ora ketoro. Sekarang ini bahkan ada yang namanya rok haigh waist yang menurut saia juga bentuk perpanjangan kreatifitas seorang designer rok. Rok ini memaksa penggunanya mempunyai bentuk perut yang bagus memang, tapi seksi. Tidak percaya? Cek saja rok span high waist.

Originally posted 2015-02-13 13:13:28.

Comments 9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares