Cowok Pagob di Film Indonesia dan Dampaknya pada Para Pemuda

Sebelumnya, demi kenyamanan membaca, perlu diketahui bahwa yang dimaksud pagob itu kurang lebih sama dengan songong. Demikian.

Coba perhatikan deh FTV (dan beberapa sinetron) yang bertebaran televisi kita, cowok-cowok songong dengan mudah ditemui sebagai salah satu tokoh di FTV-FTV yang ada.

Umumnya sih cowok-cowok songong itu jadi pemeran utamanya, dengan bertemu dengan pemeran utama perempuan melalui jalan yang kurang manis. Biasanya tanpa sengaja ketabraklah, kesenggol sampe jatuh, kecipratan air yang menggenang di jalan saat mobil melintasinya, atau -ini saya pernah liat sendiri- tertukar kamar di sebuah penginapan.

Nah dari pertemuan yang kurang manis itu, terjadilah adu mulut antara keduanya. Iya cekcok gitu maksudnya, bukan french kiss lho.

Kedua pihak tak ada yang mau mengalah, bahkan si cowok sampai dengan tega mengucapkan kata-kata seperti: “Kalau jalan pake mata dong!” atau “Makanya pake to mata!” dan sejenisnya yang saya sebagai cowok baik-baik keliatannya akan sukar melontarkannya walau di saat mangkel-mangkelnya.

Walaupun mungkin dalam proses berikutnya, si cowok jadi perlahan-lahan berubah tidak sepagob sebelumnya karena ia dan tokoh cewek jadian, namun fakta bahwa makin banyaknya cowok-cowok pagob sebagai tokoh utama FTV yang akhirnya bisa mendapatkan perempuan ayu manis dambaan hati yang dulu pernah dibentak-bentak, sangat menarik untuk diamati.

Apa benar agar bisa mendapatkan kekasih perempuan ayu dan manis, perempuan itu harus kita pagob-i dulu? Apa iya para perempuan lebih suka diperlakukan begitu demi menarik hatinya?

Atau, apakah iya cowok-cowok keren jaman sekarang adalah cowok yang pagob?

Kalau dilihat ke belakang, ke film-film nasional masa lalu, nampaknya asal muasal muncul kesan “cowok pagob itu wangun” di pandegani oleh Rangga di Ada Apa dengan Cinta deh.

Tidak percaya? Lihat saja tokoh-tokoh cowok di film tahun-tahun sebelumnya.

Almarhum Romi (Sophan Sophiaan) di Pengantin Remaja (1971), misalnya. Bermanis mesra dengan Juli (Widyawati) saat mereka berduaan di film itu. Tidak ada pagob-pagoban.

Pengantin Remadja (1971)
Pengantin Remadja (1971)

Bergerak maju sedikit di Gita Cinta dari SMA (1979), bahkan diperlihatkan bagaimana Galih (Rano Karno) sebagai pemeran utama pria di awal pendekatan ke Ratna (Yessy Gusman) terlihat kalem bahkan cenderung malu-malu minder.

Gita Cinta dari SMA (1979)
Gita Cinta dari SMA (1979)

Oh iya, pas agak tuaan dikit, Rano Karno yang berperan sebagai Doel di sinetron Si Doel Anak Sekolah (1994) juga tetap anteng dan kalem saat berhadapan baik dengan Sarah maupun Zaenab.

Kembali di era 80-an, tau dong film Catatan si Boy (1987). Walaupun digambarkan sugih tenan, jantan, gagah perkasa. Si Boy (Onky Alexander) digambarkan selalu berlaku lembut pada kekasihnya. Bahkan di sequel-sequel berikutnya, diperlihatkan mereka uleng-ulengan lho… 😀

Catatan Si Boy (1987)
Catatan Si Boy (1987)

Film Lupus yang diputar di layar bioskop pada tahun yang sama, juga bukan merupakan tokoh cowok yang pagob terhadap ceweknya. Tokoh Lupus yang diperankan Ryan Hidayat ini memang digambarkan iseng dan suka ngerjain orang lain sih (terutama hobby menempelkan bekas permen karet sembarangannya itu), tapi ndak sampai bentak-bentak ceweknya kok.

Lupus (1987)
Lupus (1987)

Nah, baru di Ada Apa dengan Cinta (2001), pagob sebagai sebuah metode membuat cowok tampak keren mulai diperkenalkan. Pada film ini penonton diberi gambaran bagaimana Rangga (Nicholas Saputra) yang acuh, dingin, dan pagob dengan sukses malah bisa merebut hati dan perhatian serta cinta si Cinta (Dian Sastro). Ini sebuah pendekatan baru atas metode pendekatan terhadap cewek yang selama ini dipertunjukkan di film-film lho.

Nicholas Saputra di AADC (2001)
Nicholas Saputra di AADC (2001)

Kesan cowok pagob ini makin dipertegas di film Eiffel I’m In Love (2003), oleh Adit (Samuel Rizal). Di film tersebut digambarkan walaupun sudah bentak-bentak Tita (Sandy Aulia) waktu mereka tanpa sengaja bertabrakan (dan si cewek jatuh, dan alih-alih nolongin, si cowok -mungkin karena lagi PMS- malah marah-marah dan ngomel-ngomel ke cewek), akhir-akhirnya si cewek tertarik pada cowok ini.

Kalau tidak percaya silahkan langsung menuju ke menit 1:05 di video ini:

Nah, sebenarnya dari ocehan panjang lebar ini, saya cuma mau bilang:

Sadar endak kalau wabah “cowok jomblo” mulai terdengar dan kian meledak di tahun-tahun setelah film-film yang menggambarkan cowok pagob (disusul di sinetron serta FTV) mulai populer dan gampang ditemui di media?

Terus coba perhatikan kalau punya kawan-kawan cowok yang jomblo, apakah kebanyakan mereka termasuk tipe cowok yang baik-baik atau yang pagob? Kalau di sekitar saya sendiri, yang jomblo malah cowok-cowok yang baik hati, tidak sombong. Apalagi pagob, wah jauuuh…

Ini terus membuat berpikir, jangan-jangan para perempuan di sana sudah banyak yang terpengaruh film, sinetron, dan FTV itu, sehingga mendambakan dan memilih pria-pria judes, ketus, dan pagob sebagai pasangan hidupnya.

Efeknya, cowok-cowok baik, sabar, dan penyayang menjadi terbengkalai, jadi jomblo, dan seiring waktu berlalu populasinya semakin bertambah.

Kasian kan?

Tapi sekasian-kasiannya kita pada kawan-kawan cowok kita yang baik tapi jomblo itu, sebenarnya lebih kasihan pada perempuan-perempuan yang terjerumus ke dalam pelukan cowok pagob yang (menurut para cewek itu mungkin) menggoda tadi.

Tidak percaya? Ini buktinya:

Kasus KDRT Meningkat
Kasus KDRT Meningkat

Medeni to ternyata efek peran cowok pagob di film Indonesia?

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | TemuKonco

Originally posted 2015-02-10 19:02:38.

Comments 26

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares