Lik Puji dan Onthel Kluwih

Ada yang spesial hari ini. Pa Gogon (bukan Gogon Srimulat) menyumbang cerita dan tulisan di Jagongan. Cerita tentang #turunjaba dan istikomah –ikatan suami takut istri kalau di rumah.

Memang, mengalah tidak selalu berarti kalah, tapi bisa berarti juga yang lainnya. Okek mari kita ikuti cerita yang menjadi semacam pembelaan Pa Gogon soal sikap istikomahnya. Oiya, bagi yang mau nyumbang tulisan atau cerita, boleh lho kontak ke [email protected] buat diobrolkan. Dan buat yang pengen kenal lebih lanjut sama Pa Gogon, bisa lihat-lihat blog atau follow twitternya


Malam itu hujan baru saja reda, lik Puji baru keluar dari pabrik tempatnya bekerja.

“Duh, aku kok ya lali kalau malem ini aku kudu ronda”, batinnya sambil menuju parkiran pabrik. Hari ini lik Puji lembur sampai malam, dia hampir lupa kalau malam ini jadwalnya ronda.

Dengan sedikit tergesa-gesa dia ngeslah motor pitungnya untuk pulang. Lik Puji mengendarai motornya menembus malam yang dingin menuju pedukuhan kampungnya di lereng Gunung Anyar.

Malam itu begitu gelap dan dingin, lik Puji tak menjumpai satu orang pun yang jadi teman rondanya yang keluar di jalan kampungnya. Sampai di rumah lik Puji memarkir pitungnya dan berniat untuk memasukkan motor kesayangannya. Lik Puji merogoh kantong celana dan kemeja panjang kotak-kotak yang lusuh mencari-cari kunci. Namun dia belum juga menemukan kunci rumahnya.

“Trembelane! Kunci rumah ketinggal di loker”, lik Puji misuh dengan lirih takut membangunkan istri tercintanya.

“Ya wislah tak mangkat ronda wae”, kata lik Puji dalam hati. Dia mblusuke pitung tuanya ke tanaman teh-tehan rimbun yang menjadi pagar rumahnya.

Sambil berjalan menuju cakruk tempatnya biasa berkumpul lik Puji menyalakan rokok kretek untuk menghangatkan badannya. Mendapati cakruk kosong melompong dia nggrundel, “Wong-wong iki pada nggak ronda apa piye to? Kok nggak ada yang kelihatan blas? Cakruk sepi kaya kuburan”.

“Ada kok lik! Aku!” sahut Gombloh dari belakang cakruk.

Lik Puji kaget lalu misuh, “Trembelane! Bikin lik mu ini kaget mbloh…”

Gombloh tertawa sambil membenarkan reslitingnya. “Woo lha kamu ki nguyuh di belakang cakruk? Hok o? Mambu pesing ngerti ra?”, kata Lik Puji pada Gombloh.

“Sori lik, aku mau wis kebelet.”, sahut Gombloh prengas-prenges.

“Mbloh, iki sing mangkat ronda cuman awak dhewe berdua?”, tanya lik Puji pada Gombloh

“Iya lik, mungkin yang lain pada males keluar. Adem, hujan baru saja berhenti. Enak kelon sama bojo lik”, jawab Gombloh. “Halah lambemu mbloh, kamu itu udah punya bojo yang bisa dikeloni po? Kok bisa bilang enak”, timpal lik Puji.

“Wah ngece sampeyan ki lik! Mbok saya itu didoakan biar cepet punya bojo.” Gombloh menjawab sambil prengat-prengut.

Lik Puji tertawa terkekeh lalu berkata, “Ealah mbloh, lik mu ini sudah lama berharap kamu itu punya bojo. Aku ki bingung kalau mau mendoakan kamu biar cepet punya bojo. Hehehe…”

Sambil menghisap rokok kretek yang hampir habis lik Puji berkata pada keponakan satu-satunya itu, “Kamu tau to? Harapan orang tua seperti lik mu ini sama saja doa lho mbloh”.

“Iya lik, iya… sampeyan ki pancen ngeten!”, tukas Gombloh sambil mengacungkan jempolnya.

“Gini mbloh, aku mau tanya sama kamu. Kamu itu pengen punya bojo yang seperti apa?”, tanya lik Puji. Gombloh bingung, lalu menjawab “Nganu lik, saya pengen punya bojo persis lik Lina itu lho lik”.

Lik Lina merupakan istri dari lik Puji, pak liknya Gombloh. Lik Lina itu adik dari bapaknya Gombloh. Bagi Gombloh, lik Lina sudah seperti ibunya. Lik Puji sendiri, sudah seperti bapaknya Gombloh.

“Owalah mbloh… Kamu ini ora edan to? Mosok kaya bulik mu? Mana ada yang persis sama bulik mu itu”

“Ora edan lik, maksud ku bukan wajahnya. Tapi perilakunya itu lho lik yang saya pengeni. Terus nganu lik, saya lihat sampeyan sama lik Lina itu kok bisa harmonis itu piye resepnya? Ada rahasianya nggak lik?”, kata Gombloh.

“Rahasia kok diomongke to mbloh. Rahasia ya tetep rahasia mbloh. Kamu nggak boleh tau itu”. Lik Puji berkata sambil tertawa.

Jam di cakruk menunjuk pukul 10 malam lewat 5 menit, lik Puji mengajak Gombloh berkeliling untuk ronda. “Ayo mbloh kita keliling. Berdua sama aku kamu berani to mbloh?”

“Haiya berani lik. Gombloh kok nggak berani, isin karo sampeyan nek nggak berani”, Gombloh menjawab lalu berdiri menyiapkan kantong kain untuk koin jimpitan.

Di kampung lik Puji, jimpitan ronda sekarang koin lima ratusan rupiah bukan beras lagi. Lik Puji dan Gombloh berjalan meronda keliling kampung mengambil koin jimpitan di tiap rumah yang dilewati. Sampai akhirnya di ujung kampung mereka berbalik arah untuk kembali ke cakruk.

“Gimana lik, apa resepnya? Apa rahasianya sampeyan sama lik Lina bisa bahagia begitu?”, kali ini Gombloh bertanya dengan muka serius.

Lik Puji menatap wajah Gombloh sambil tersenyum tanpa menjawab pertanyaan. “Wah gerimis lagi. Ayo balik cakruk, terus hitung jimpitan yang didapat malam ini”. Lik Puji melangkah agak cepat meninggalkan Gombloh yang baru saja mau menyalakan rokok mildnya.

Gombloh lari mengejar lik Puji lalu tiba-tiba dia menabrak pak liknya. “Woo! Kamu itu mbloh.. Kalau aku njungkel piye?”, lik Puji meringis kesakitan.

“Sori lik, lha sampeyan tiba-tiba berhenti. Ada apa lik? Ada maling?” Gombloh bersiap-siap memukul tiang listrik untuk membangunkan orang kampung.

“Ora mbloh, ora… Kamu tunggu di sini sik ya?”, kata lik Puji masuk ke pekarangan sebelah rumah pak RT.

Beberapa lama kemudian lik Puji keluar dari pekarangan membawa onthel kluwih sambil tersenyum, “Lumayan, nemu yang kering”.

“Itu buat apa lik? Kok bisa kering, bukannya seharian ini hujan?”, tanya Gombloh sambil berjalan mengiringi pak liknya menuju cakruk. Lik Puji diam tak menjawab.

Sampai di cakruk Gombloh menghitung koin jimpitan ronda, “Lumayan lik dapat 31200 rupiah.” Lik Puji mencatat hasil jimpitan lalu menyerahkan catatan ke Gombloh untuk disetorkan ke pak RT besok siang.

“Mbloh…”, panggil lik Puji ke Gombloh.

“Ya lik? Ada apa?”, tanya Gombloh.

“Kamu tadi tanya apa rahasia aku sama lik mu Lina harmonis?”, “Iya lik, apa lik?”

“Sori lho mbloh, aku ndak bisa ngasih tau rahasianya. Soalnya itu kan rahasia, nggak boleh ada orang yang tau. Hahaha”, kata lik Puji sambil tertawa.

“Tapi kalau kamu tanya apa resepnya kamu tak kasih tau apa resepnya”, lanjut lik Puji lagi.

“Ini resepnya mbloh”, lik Puji menunjukkan 3 onthel kluwih kering yang diambil di pekarangan miliknya samping rumah pak RT.

Gombloh melongo, dia berpikir lik Puji mau mengoloknya lagi. Belum sempat Gombloh ngomong, lik Puji sudah berkata lagi, “Kamu jangan berpikir kalau aku mau ngece kamu lho mbloh. Ini bener-bener resepnya”.

“Kok bisa lik? Onthel itu buat apa?” tanya Gombloh bingung

“Ini perlengkapan buat turu njaba, kalau kata mahasiswa yang suka naik gunung logistik buat surevel.” jawab lik Puji.

“Halah… sampeyan ini sok tau lik. Survival yang dieja surfaifel bukan surevel” kata Gombloh mengoreksi pak liknya

“Ha! Yaitu maksud ku mbloh. Aku ceritakan kisah mbloh, kamu dengerin lho ya. Gini kisahnya mbloh”, kata lik Puji.

Suatu subuh, saat terbangun dari tidurnya, seorang istri tidak mendapati suaminya. Sang istri panik dan bingung. Ketika membuka pintu rumah, dia kaget mendapati suaminya tidur di depan pintu. Dia lalu bertanya, “Kenapa engkau tidur di luar?” Sang suami lantas menjawab, “Semalam aku pulang larut. Aku takut mengganggu tidurmu. Sehingga, aku tidur di sini.”

“Kamu tau siapa pasangan suami istri itu mbloh?” tanya lik Puji.

“Ndak tau lik, memangnya siapa mereka itu?” Gombloh balik bertanya pada lik Puji.

“Sang suami itu bernama Muhammad bin Abdullah, dan sang istri bernama Aisyah binti Abu Bakar As-Sidiq” kata lik Puji

“Itu kisah kanjeng Nabi SAW, mbloh. Mbuh itu ceritanya benar atau tidak ndak masalah, yang penting makna dari kisah itu yang menjadi resepnya mbloh. Kalau kamu memahami kisah itu lho ya.” lanjut lik Puji.

“Lho? lha itu onthel sama kisahnya kanjeng Nabi apa hubungannya lik?” tanya Gombloh.

“Sebenernya nggak ada hubungannya sih mbloh. Wong di Arab nggak pohon kluwih kaya di kampung sini. Tapi onthel ini bisa jadi senjata melawan nyamuk saat aku turu njaba.” kata lik Puji.

“Aku ki kadang balik kerja malem mbloh. Maklum aku ini cuman buruh pabrik jadi ya kadang lembur. Kalau pas ada lembur dadakan lik mu Lina itu kan nggak tau, ndilalah pas nggak bawa kunci rumah, ya mau nggak mau aku turu njaba to mbloh. Aku nggak mau ngganggu tidur bulik mu itu. Kasihan” lanjut lik Puji.

“Jadi itu resepnya lik? Turu njaba biar harmonis… Gitu to lik?” tanya Gombloh. “Ya pokoknya onthel sama turu njaba itu lah resepnya.” jawab lik Puji.

“Wah! Sekarang sudah jam setengah 2 pagi mbloh, aku pulang sik mbloh. Adem je di cakruk. Kamu mau pulang apa turu njaba di sini?” tanya lik Puji. “Ayo pulang wae lik, aku juga sudah ngantuk iki. Matane sudah ndluyup. Lagian yang ronda juga cuman kita berdoa, aku takut di cakruk sendiri” jawab Gombloh.

“Huu… jirih! Ya wis ayo”, kata lik Puji. Mereka berdua berjalan sambil cincing celana melewati jalanan kampung yang becek. Tiba-tiba lik Puji menepuk jidatnya dan berkata, “Waduh! aku lali kalau kunci rumah ketinggal di loker pabrik mbloh. Wah ngalamat turu njaba tenan ini.”

Gombloh tertawa terbahak-bahak, “Hahaha… Ya wis lik sampeyan tidur di rumah ku aja po?”

“Trembelane! Ketawa mu ngece aku mbloh. Ora, aku tak menjalankan ritual ibadah ngobong onthel buat sangu turu njaba wae. Ya wis mbloh aku balik sik.” kata lik Puji

“Iya lik, hati-hati ibadahnya lik. Selamat turu njaba.” Gombloh menimpali pak liknya. Gombloh heran bagaimana pak liknya itu bisa menemukan onthel kluwih yang kering, padahal seharian hujan.

Sesampainya di rumah lik Puji merebahkan tubuh di lincak reyot. Setelah membakar onthel kluwih kering, lik Puji menyelimuti dirinya dengan mantrol hujan yang diambil dari bawah jok pitung tua miliknya untuk menahan hawa dingin.

Selesai subuh, lik Lina membangunkan suaminya. “Mas, bangun mas… Njenengan ki kok ya sare njaba. Kok nggak mbangunin aku to mas.”

“Ndak apa-apa dik”, kata lik Puji sembari mengucek matanya.

“Ndak apa-apa piye to mas, mesake njenengan ki lho, kedinginan, selimutan cuman mantrol dikruyuk nyamuk.” ujar lik Lina mengusap-usap lengan suaminya dengan lembut.

“Tenang to dik, kan ada ini.. hhe..”, sahut lik Puji sambil menunjukkan ontel yang masih menyala.

“Ya wis, shalat dulu mas. Itu sudah tak bikinin unjukan buat njenengan. Kopi tubruk gula batu kesukaane njenengan”. kata lik Lina.

“Wah ini kopine mesti istimewa! Enak tenan! Nuwun lho dik”, sahut lik Puji sambil tersenyum seakan sudah mendapatkan surga dunia.

Originally posted 2014-11-21 13:13:49.

Comments 15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares