Ponakan Pak Ngadiyo Itu Bernama Mas Toro

Hari ini penjagong favorit kita semua Gus Vin absen ngisi karena kesibukan yang larr byasa. Disamping mempersiapkan event jazz-jazzan yang melegenda itu, sodara beliau juga konon sedang sibuk mencari inspirasi untuk melanjutkan Serial Keluarga Api. Sementara ini, saya mocok Gus Vin untuk bercerita di hari Rabu. Seperti halnya bis, supir pocokan tidak pernah bisa lebih baik dari supir asli, demikian juga dengan penjagong pocokan. Tapi ya, mbangane ndak ada lah ya. 😀


Malam itu, angkringan Lik Ngadiyo tidak begitu ramai, hanya ada Mas Roni juragan kapur barus yang selalu tampak nyeni itu, sedang srupat-sruput menikmati teh panas gula batu kesukaannya sambil sedikit bersungut-sungut. Lapak onde-onde Mak Sum juga tidak tampak buka. Tak lama kemudian tampak Baba dan Hamid yang berboncengan mampir ke angkringan itu. Setelah memarkir sepedanya, merekapun menghampiri Mas Roni dan menyapa.

“Apa kabar Mas Roni”, sapa Baba. “Sehat-sehat?”, tambah Hamid.

“Kabar baik, cuma sedikit gelo, Mak Sum tutup, katanya sedang pulang kampung mengurus panenan sawah”, tukas Mas Roni sambil kembali menyeruput tehnya.

“Lik Ngadiyo, es teh satu, sama koe mau minum apa mid?”, tanya Baba kepada Hamid.

“Sama wae lah ba”, jawab Hamid singkat.

“Lik Nga…” teriak Baba.

“Anu e mas, Lik Yo sedang mengantarkan Mak Sum pulang kampung ke Klaten, sementara saya yang ngganteni”, tukas seorang mas-mas gundul ginuk-ginuk yang tiba-tiba muncul.

“Woo, lah kemarin kok ndak bilang-bilang kalau mau mrei dulu. Ndak beres ini Lik Ngadiyo”, kata Baba.

“Iya e Mas, soalnya Mak Sum juga dadakan ngabarine, lha karena sudah terlanjur kulakan, dan kebetulan saya selo, saya yang ngganti Lik Yo”, jawab mas-mas gundul ginuk-ginuk itu dengan ramah.

“Lho, sampeyan rak Mas Toro, penulis buku Keluarga Api yang laku keras di mana-mana itu tha Mas? Yang katanya tahun depan mau dibikinke film itu?”, Potong Hamid dengan tanpa kira-kira.

“Hush, Mid. Kalau nyamber itu mbok ya kira-kira, jangan kaya maling jemuran ngambil daleman gitu”, kata Mas Roni yang nyeni dengan bijak. Baba pun hanya bisa tertawa sambil manggut-manggut mendengar sentilan Mas Roni kepada Hamid.

“Wa lha saya ini fans berat e Mas Toro ini je, minggu kemarin saya mau ikut jumpa fans di toko buku UwauwuMedia saja dah kehabisan tempat, ndak tahunya malah ketemu di sini, jadi bakul angkring ngganteni Lik Ngadiyo”, jawab Hamid dengan bersemangat.

“Orang terkenal sak Indonesia Raya kok ya mau-maune jualan angkringan? Sampeyan ndak malu”, lanjut Hamid dengan setengah heran.

“Lha apa salah tha mas? Wong jadi angkringan itu ndak dilarang sama negara. Malah banyak pahalane, nemani ngobrol dan bikin seneng orang banyak. Masa ya malu, harusnya malah bangga” Jawab Mas Toro sambil membenarkan posisi serbet di pundaknya ala-ala komedian Srimulat.

“Iya juga ya mas…” gumam Hamid pelan

“Oalah mid, mid, kamu ini kok ya ndak berubah-berubah, gengsimu itu lho, kok lebih gedhe dari pabriknya Mas Roni” kata Baba dengan santainya.

“Asemik, kena meneh aku…” umpat Mas Roni.

Dan merekapun tertawa, kecuali Hamid yang hanya bisa tersenyum sambil manggut-manggut…

Originally posted 2014-11-05 13:55:06.

Comments 9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares