Putri Solo

Kalau kawan-kawan muda masa kini masih ada yang suka mendengarkan lagu-lagu irama keroncong, stambul, langgam, dan sejenisnya, mungkin akan tidak asing dengan sebuah langgam berjudul Putri Solo.

Saya kurang tahu sejak kapan lagu ini ada, mungkin berbarengan dengan sebuah film lama dengan judul sama, di tahun 1950-an dahulu kala.

Menariknya dari lagu ini adalah bagaimana liriknya ini menggambarkan sosok Putri Solo sedemikian rupa sehingga pada masa itu (dan mungkin di masa kini juga oleh beberapa kalangan yang tahu lagu ini), bertanya-tanya apa benar Putri Solo itu persis seperti apa yang digambarkan itu?

Serunya lagi, dari sekian macam ciri yang disebutkan di lagu tersebut seperti wajah yang menarik, kulit hitam manis, lesung pipit yang tampil saat tersenyum, ada satu ciri yang konon kata orang-orang tua (atau setidaknya menurut bapak-bapak kumpulan RT dan ronda kampung tempat saya nge-kos jaman dahulu kala) benar-benar ciri Putri Solo yang saat ini sukar ditemui.

Ciri yang dimaksud adalah “lumakune kaya macan luwe” atau “jika berjalan seperti harimau lapar”.

Karena dibanding ciri-ciri lain di lagu lain, ciri ini yang paling tidak eksplisit, maka sering dianggap mengada-ada, tak serius, bahkan jadi bahan lelucon seperti:

lumakune kaya macan luwe
le mangan e kaya kuli ngelih

Atau yang seperti-seperti itulah…

Namun terima kasih pada bapak-bapak kumpulan RT dan ronda yang memberikan pencerahan pada saya beberapa puluh tahun lalu, sehingga walau awalnya agak susah, akhirnya saya bisa paham maksudnya “berjalan seperti harimau lapar” itu.

Karena kesukaran mencari Putri Solo yang asli, para bapak tersebut dengan coro bodhon menjelaskan jalan seperti harimau lapar itu seperti para peragawati profesional saat jalan di atas catwalk.

“Coba lihat saat mereka jalan, serasinya irama langkah-langkah kaki dengan gerakan pinggul yang seolah patah ke kanan kiri itu, seperti itulah kurang lebih yang dimaksud berjalan seperti harimau lapar.” jelas seorang bapak yang menghisap rokok klembak menyan.

“Kalau tidak percaya, coba tunggu acara Flora dan Fauna pas tema harimau, dan kalau pas ada harimau betina disorot kamera dari belakang, seperti seperti itulah selarasnya langkah kaki dan patahan pinggul dahsyat, yang digambarkan pencipta lagu Putri Solo itu.” sambung bapak lain yang berjaket dealer motor setempat.

“Dan harus harimau lapar, jangan kucing. Kamu tak akan mendapatkan sensasi kagum, takjub, terperangah, dan gugup, jika perbandingannya hanya kucing.” bapak yang berkaos salah satu merk rokok lokal, turut urun rembug.

“Perbedaan dan kelebihan Putri Solo dari para peragawati tadi adalah cara berjalan Putri Solo yang seperti harimau lapar itu alami, tidak dibuat-buat, dan bukan hasil pelatihan atau pendidikan kepribadian.” kali ini seorang bapak berkaos salah satu pasangan yang bertarung di pilkada kabupaten periode lalu, turut menambahkan.

“Jadi, mau lagi mengenakan pakaian adibusana yang roknya panjang berkilap klangsrah-klangsrah, ataupun hanya sekadar daster lawas murah meriah miyar-miyur, kamu tetap akan terpana. Tidak bisa tidak.” kali ini bapak pemilik angkringan yang buka suara.

Tapi ya itu tadi, Putri Solo seperti yang dimaksudkan di lagu tersebut sudah sukar ditemukan. Jangankan cari yang jalannya seperti harimau lapar, lha wong karena standar cantik jaman sekarang adalah perempuan yang berkulit putih, bisa jadi saat melihat perempuan hitam manis, tak ada orang-orang yang menganggapnya cantik. Lalu hilanglah peluang bertemu Putri Solo yang kecantikannya legendaris itu.

Jadi, jika suatu hari bertemu gadis hitam manis, berwajah menarik, punya lesung pipit, dan berjalan seperti harimau lapar. Kemungkinan besar kalian baru saja bertemu Putri Solo. Bersyukurlah!

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | @temukonco

Comments 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 6 = 3

Shares