Astaga! Bahaya Mengantarkan Anak Di Hari Pertama Sekolah Jika Seperti Ini!

Senin, 18 Juli 2016 besok, adalah hari pertama para murid masuk sekolah di Indonesia. Sepanjang ingatan saya, berbeda dengan tahun-tahun berikutnya, tahun ini himbauan bagi orang tua untuk mengantarkan anak mereka di hari pertama sekolah sangat kuat.

Bahkan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan secara resmi menegaskan pada para orang tua dan pihak terkait seputar pentingnya mengantar anak di hari pertama mereka masuk sekolah.

Sehingga kegiatan mengantarkan anak di hari pertama sekolah, jadi semacam perayaan yang seru dan meriah, serta banyak yang berpartisipasi baik langsung maupun tidak.

Dari sekian banyak partisipasi yang dilakukan guna memeriahkan kegiatan ini, antara lain adalah lomba foto yang diadakan oleh berbagai pihak melalui kanal-kanal media sosial mereka.

Biasanya bentuk partisipasi tersebut dengan mengadakan lomba foto saat mengantarkan anak ke sekolah di hari pertama mereka. Namanya lomba, tentu saja ada iming-iming hadiah tapi dengan syarat harus menyertakan hashtag ini dan itu atau mem-follow akun penyelenggara kuis tersebut.

Ini beberapa contohnya:

https://twitter.com/gramediabooks/status/754202667363110912

 

Kalau dilihat sekilas mungkin tidak ada yang salah dengan ini. Bahkan mungkin ada yang berpikir ini sangat menguntungkan. Gimana endak, lha wong cuma upload foto mengantarkan anak ke sekolahnya aja bisa dapet hadiah. Lumayan to?

Tapi menurut saya justru di sini bahayanya mengantarkan anak di hari pertama kalau caranya seperti ini.

Sebab dengan mengupload foto anak-anak tersebut, lalu membagikannya ke media sosial, dan itu masih ditambahi hashtag tertentu, kita telah membuka celah yang mengancam privacy dan keamanan anak-anak tersebut.

Orang-orang yang berniat tidak baik di luar sana, bagaikan kejatuhan rejeki nomplok, karena data foto anak-anak, lengkap dengan wajah orangtua/wali mereka, kisaran usia, dan letak sekolah mereka, dengan mudah mereka dapatkan.

Dan itu semua tanpa orang-orang jahat tersebut bersusah payah mencari, tapi cukup mengetik keyword tertentu di Instagram, FB, atau twitter. Lalu… mak byuk data yang mereka inginkan tersedia dengan seksama dan tinggal petik.

Mungkin ada yang menganggap ini adalah ketakutan tak beralasan, atau sekadar paranoid belaka. Ya silahkan saja…

Tapi kenyataan telah memberikan contoh gimana seseorang jahat bisa melakukan penipuan hanya berbekal data nomer handphone orang yang entah dia dapat dari mana.

Kemudian gimana ceritanya kalau orang jahat tersebut bisa memperoleh data selengkap foto, nama anak, wajah orang tua, usia anak, dan lokasi sekolah anak?

Belum lagi privacy sang anak yang seringnya tanpa sadar dilanggar orangtua, dengan tanpa sepengetahuan dan seijin si anak, orangtua dengan seenaknya menyebarkan foto dan informasi lain tentang sang anak ke mana-mana.

Jadi kalau boleh memberikan saran, sebaiknya jangan menyebarkan data anak secara sembarangan ke manapun terutama ke media sosial. Apalagi hanya untuk memeriahkan sebuah campaign ber-hashtag tertentu, atau sekadar ikut lomba/kuis hanya demi mendapatkan hadiah yang tak seberapa dibanding keamanan dan keselamatan anak.

Karena, percaya atau tidak, setelah disebar di media sosial, kalian nyaris sudah tidak punya kendali lagi atas siapa yang bisa mengakses data tersebut, siapa yang menggunakannya, dan siapa yang memanfaatkannya dengan niat buruk.

UPDATE:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga telah memberi peringatan tentang bahaya penyebaran foto anak-anak ke media sosial.

Btw, sengaja judul artikel ini dibuat seperti itu, memang click bait, karena keamanan anak-anak jauh lebih berharga ketimbang merasakan dicaci maki kalau ini cuma click bait.

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | @temukonco

Comments 14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

40 − 34 =

Shares