Menganalisa Donat dari Segi Keekonomian

Pasti sebagian besar sudah tahu dan bahkan pernah mencicipi donat kan?

Walaupun sekarang bentuk, warna, dan rasanya mulai beraneka ragam —saya pernah liat donat berbentuk pohon natal di sebuah toko donat beberapa hari sebelum natal—, tapi bentuk awal donat yang bundar dan ada lubang di tengahnya itu, diyakini sebagai bentuk donat yang klasik atau standar.

A photo posted by Iwan Pribadi (@temukonco) on

Kaitannya dengan bentuk donat ini, seorang kawan pernah mengungkapkan ketidaksukaannya membeli makanan yang bolong tengahnya tersebut.

Ia tidak suka membeli donat bukan karena tidak suka rasanya yang terlalu manis atau karena ia sedang diet, menghindari makanan-makanan seperti itu agar berat badan tidak terjaga. Bukan sama sekali.

Ia tidak suka membeli —iya kalau beli, tapi kalau dikasih dia tidak keberatan—, karena menurutnya beli donat dari segi keekonomian adalah suatu bentuk kerugian.

“Gini Mas, satu donat ini harganya lima ribu rupiah.” katanya suatu hari mencoba menjelaskan tentang segi keekonomian donat tadi, “Berarti njenengan beli seluruh donatnya to, Mas?” lanjutnya bertanya.

Lha iya, beli lima ribu ya mesti saya minta seluruh donat e dong. Mosok ya cuma secuil atau separo donat.” jawab saya.

“Nah itu Mas, itu yang bikin saya males beli donat.” sergahnya berapi-api.

“Maksudnya gimana e? Kok saya malah bingung…”

“Gini Mas, 1 donat ini lima ribu, berarti njenengan beli seluruh donat bagian donatnya, termasuk bagian tengahnya yang bolong itu to?”

“Padahal, rak njenengan ndak bakal makan bagian tengahnya yang bolong itu kan?” dia langsung melanjutkan pertanyaan ke saya.

“Lha ya jelas ndak dimakan, lha wong cen bolong, ndak ada apa-apanya tengahe donat ini.” saya menjawab dengan agak bingung.

“Itulah Mas, njenengan sadar to kalau lima ribu rupiah yang njenengan bayarkan untuk donat ini, berarti termasuk beli bolongan tengahnya yang ndak ada apa-apanya dan jelas ndak bisa dimakan kan?”

Teman saya itu melanjutkan, “Ini artinya dari segi keekonomian, harga donat ini bukan lima ribu, karena yang bisa kita konsumsi cuma bagian sekelilingnya saja, tengahnya tidak. Jadi kalau miturut itungan saya, harga termahal yang masuk ya Rp. 4.500 lah..”

“Lho, tapi Mas kalo jajanan lain, misalnya kalo arem-arem harganya lima ribu. Kan itu njenengan juga ndak bisa makan bungkusnya yang dari daun pisang itu to? Ha mosok ya terus harganyanya juga jadi Rp. 4.500 karena ada bagian jajanan yang ndak bisa dimakan?” saya mencoba ngeyel.

“Woh beda Mas… Godhong gedhang di arem-arem itu fungsional, untuk membungkus arem-arem biar ndak kena debu dan ringkes dibawa. Jadi masuk akal kalo dihargai. Lha berperan sebagai bungkus jeHa nek bolongan donat yang njenengan beli itu, buat apa jal?” jelasnya dengan nada ngece.

Saya manggut-manggut mencoba memahami pemikirannya yang sebenernya masuk akal juga sih.

“Mas ngomong-ngomong, saya nyuwun donatnya satu ya, buat ganjel-ganjel perut. Lagian ini kan saya nyuwun njenengan, bukan beli.” kawan saya itu langsung mencomot sebuah donat sambil nyengir.

Monggo Mas..” saya mempersilahkan bersamaan dengan gigitan pertamanya ke donat yang membuat bentuknya tidak bundar lagi.

Owalah, nilai keekonomian donat… 😀

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | @temukonco

Comments 12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares