Karena Teh Nasgitel adalah Perlawanan

Setelah absen sejenak minggu lalu (ra ketang tetep tak seseli tulisan sih, masih bab tumpeng dan cake), dan sempat cerita tentang kopi, sekarang mari kita rembugan bab wedang lagi. Kali ini wedang teh.

Ingat, teh yang dimaksud ini adalah yang jenis minuman, bukan Mbak-mbak ayu menggemaskan dari Parahiyangan sana. 🙂

Jadi, beberapa kawan -terutama yang habis mendapat undangan makan malam di hotel atau restoran-restoran tingkat atas- berkeluh kesah dan kesal karena menurut mereka: teh hotel dan restoran mahal itu tidak ada yang enak.

Teh Nasgitel dan Sate Angkringan
Teh Nasgitel dan Sate Angkringan
Sumber: Mas Jun

Kata mereka, teh-teh di hotel dan restoran mahal itu terlalu bening, bahkan kata mereka level kebeningan teh hotel tersebut unda-undi dengan kebeningan hati mereka. Sehingga, menurut mereka rasanya lebih mirip air putih, dan tidak nasgitel.  Teh-teh mahal tersebut nyaris tidak ada sepet-sepetnya (sepet di sini maksudnya adalah rasa, bukan sabut kelapa), dan tidak beraroma melati yang khas itu.

Padahal harga teh yang mereka pesan tersebut jauh lebih mahal ketimbang harga teh yang bisa ditemui di warung-warung makan biasa. Cara menikmatinya juga kudu rapi dan tertib, cara menuangnya, cara menyruputnya, jika perlu dikasih krim atau susu, lalu gulanya satu atau dua kubus kecil (konon kata kawan saya, ini sangat dilematis, satu kubus kecil gula belum terasa manis, tapi kalau dicemplungi dua, udah kemanisan).

Bahkan, kata sebagian mereka, cara mempersiapkannya lumayan rumit, detail, dan pating clekunik. Lho lha iyo, jebul yang mereka lihat itu adalah semacam upacara minum teh ala Jepang kae… Ha ya ra gumun.

Semua itu jauh berbeda dengan pengalaman menikmati wedang teh yang sehari-hari ditemui. Mulai dari rumah, warung makan terdekat, dan yang tak bisa begitu saja dilupakan, tentu saja warung angkringan.

Teh yang sehari-hari dinikmati kawan-kawan saya (dan saya juga sih), adalah teh yang  warnanya lebih gelap (kalau tidak mau disebut pekat), ada sedikit rasa sepet yang khas, dan ada wangi melati yang terselip diantara aroma teh itu sendiri. Biasanya dihidangkan dalam kondisi panas-panas, sehingga akrab dengan istilah teh nasgitel (panas legi kentel). Sangat jauh berbeda dengan teh bening mahal ala hotel tadi.

Sebenarnya, ada fakta yang menyedihkan sekaligus membanggakan tentang teh mahal dan teh nasgitel tadi.

Teh mahal yang di hotel-hotel dan restoran mahal tadi, yang bening dan ndak ada sepet-sepetnya itu, sangat bisa jadi adalah teh dari Indonesia, bahkan tak tertutup  kemungkinan berasal dari kebun teh yang sama dengan yang nasgitel itu.

Akan tetapi, hanya daun teh yang berkualitas saja yang diolah dan dipilih kemudian diekspor ke luar negeri, kemudian dihidangkan sebagai teh mahal dan bening itu. Biasanya teh ini berasal daun yang ada di pucuk (ingat iklan yang ada ulat memanjat pohon teh sambil berseru: “pucuk.. pucuk.. pucuk..” itu? ya demikianlah kurang lebih). Makanya kejernihannya terjaga dan rasanya tidak sepet. Ha kualitas ekspor je..

Sementara kita, para pribumi, inlander, peasant, orang biasa, umumnya dapat jatah teh yang tidak dipucuk, yang sudah agak ke bawah dikit, dan tak hanya murni daun teh tapi sudah tercampur dengan batang-batang teh-nya. Makanya warna teh yang dihasilkan lebih pekat dan katanya, keberadaan batang teh inilah yang memunculkan rasa sepet yang bukan sabut kelapa itu.

Konon, itu semua asal muasalnya sudah sejak dahulu kala, saat di jaman penjajahan. Waktu seluruh hasil produksi teh Hindia Belanda disortir sedemikian rupa untuk memenuhi standar tinggi orang-orang kaya dan menengah atas Eropa sana. Sehingga yang berkualitas bagus diangkut semua, dan meninggalkan dedaunan dan batang teh yang menurut mereka tak berguna.

Tapi tidak dengan nenek moyang kita, mereka orang-orang hebat, kuat, tabah, inovatif, dan sekaligus rebel.

Bayangkan, saat para landha itu merasa tidak berkutik lagi untuk mengolah daun-daun dan batang teh tersebut lalu secara sepihak dicapnya sebagai tidak berkualitas sehingga layak buang, nenek moyang kita dengan cerdas dan terampil dapat mengolahnya menjadi minuman khas yang tak kalah nikmatnya. Belum lagi entah bagaimana asal muasalnya, mereka dapat ide memberikan sentuhan aroma melati pada teh tersebut. Sehingga menjadi sebuah minuman teh yang punya karakter unik.

Bahkan, jika mau melakukan sedikit pembuktian, cobalah membuat dua gelas teh tarik, dengan takaran air dan susu yang sama, tapi menggunakan teh yang berbeda. Satu gelas menggunakan teh English Breakfast, sementara yang satunya pakai teh yang biasa dipakai bakul angkringan itu, tapi kudu kenthel teh e. Kalau udah jadi coba cicipi dan bedakan rasanya. Kalau saya, dan sebagian besar kawan saya, lebih menyukai yang menggunakan teh ala bakul angkringan, yang terdiri dari daun-daun teh yang “tak terpilih” berikut batangnya.

Itulah, walaupun nampak sepele dan kadang disepelekan, teh nasgitel adalah lambang perlawanan. Setidaknya perlawanan terhadap kahanan, yang cukup sukses. Sementara di sisi lain, warung angkringan, hik, dan sejenisnya, bisa kita anggap sebagai benteng pertahanan teh nasgitel tertangguh yang kita punya.

Monggo ngunjuk teh…

 

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | @temukonco

Comments 24

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares