Sambel, hidangan tambahan atau menu utama?

IMG_20160330_133741_1

Bagi warga Indonesia, sambel bukan hal baru dalam hal perkulineran. Rasanya pedas karena didominasi oleh lombok. Jenis atau namanya pun bermacam-macam. Sebut saja, sambel terasi, sambel matah, sambel bawang, sambel tempe, dan lain sebagainya. Itu baru nama berdasarkan dengan tambahan makanan di dalam sambel, belum cara pengolahanya. Ada sambel yang diolah dengan cara mentah saja alias waton ada trus diulek, namun ada juga sambel yang bahanya digoreng dulu sebelum diulek. Rasanya? Pedas jelas, tetapi kalau saya pribadi lebih suka sambel yang digoreng dulu. Sambel yang digodog ada? Ada. Bahkan sambel yang dikukus dulu juga ada. Pepak banget ya?

Sambel tertentu ternyata juga untuk makanan tertentu. Ibarat tumbu oleh tutup. Sambel terasi, biasanya ada ketika sayur asem dihidangkan kumplit dengan tongkol/gereh goreng. Sambel jrawut (sambel kelapa yang diolah dengan cara dikukus terlebih dulu, biasanya pakai tempe semangit juga) cocoknya dengan sayur bobor gandul. Tambahan lauknya bandeng goreng biasanya.

Kalau dipikir-pikir lagi, sambel ini sebenernya hidangan tambahan atau hidangan utama dalam makanan? Bisa keduanya. Kalau menurut saya pribadi, akan jadi menu utama kalau ada lauk di dalam sambel tersebut. Sambel tempe, misalnya. Sudah ada tempel dan sensasi pedas dalam sambel tersebut yang menjadikanya cocok jika dimakan hanya dengan nasi saja. Kalau bosan dengan sambel tempe ya ada sambel ati, sambel balado terong, atau sambel teri.

Simbah saya pernah berpesan, “Dadi wong wedok ki mbok sek isa mangsak, sak ora-orane ya isa nyambel”. Pesan simbah saya itu memang ada benarnya la wong sebenernya nyambel itu mudah dan murah. Bahan seperti lombok, garam, dan bawang saja sudah bisa bikin cangkem megap-megap kog. Itu kalau mau yang sangat minimalis, kalau mau yang lebih lagi ya tambahkan minyak goreng bekas menggoreng ikan atau ayam. Rasanya bikin tanduk.

Hal yang mengejutkan adalah, ternyata sambel itu punya kekhasan dalam menguleknya. Siapa yang ngulek dan dengan alat apa nguleknya ternyata sensasi atau rasanya bisa berbeda. Kalau njenengan follow Instagram Mbak Ashanti, pasti njenengan pernah lihat beliau posting foto saat bikin sambel untuk Mas Anang. Disebutkanlah bahwa kalau sambel bikinan Mbak Ashanti ini rasanya berbeda dengan sambel bikinan rewange dan Mas Anang bisa menebaknya dengan benar. Wow!

Sambel memang hidangan yang srawungnya misuwur. Dari bapak becak sampai pejabat banyak yang suka. Dari anak-anak sampai simbah-simbah banyak yang mau. Keren ya.

Mumpung hari Minggu, harinya berkumpul dengan keluarga katanya, njenengan mau nyambel apa hari ini?

Author: Alfonsa Juliana

Originally posted 2016-04-10 08:59:28.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares