Panggilan mbak Kasir sebagai Alat Ukur

Anda semua tentu tahu, hampir semua kasir memiliki SOP untuk menyapa pelanggannya. Nah, tulisan kali ini akan membahas hal itu. Dasar pijakannya adalah bahwa sebuah toko atau warung atau apapun itu, akan ditinggalkan pelanggannya kalau yang melayani njaprut, ngasih susuk cuma dengan menyodorkan uang kembalian tanpa ngomong apapun. Minimal SOP-nya adalah si mbak haruslah bilang “terimakasih”, dengan demikian si pembeli merasa telah memberi kasih kepada si mbak, dan lantas tersenyum. Satu-satunya exception hanya diperbolehkan kalau di pipi si mbaknya ada koyo besar menempel, apalagi kalau koyo cabe.

Sudah barang tentu, si mbak kasir tidak akan selesai hanya dengan kata “terimakasih” atau “monggo” saja, pasti selalu diakhiri dengan sepatah kata yang merupakan attribute dari entitas bernama pelanggan. Kata-kata “mbak”, “pak”, “mas”, “dik”, “ses” adalah salah sedikit contoh yang sering dipergunakan. Dengan penambahan attribute itu, maka terlihat bagaimana si mbak kasir menentukan posisi dirinya terhadap pelanggan. Apakah dia merasa lebih muda, lebih tua, setara, dan seterusnya. Inilah tolok ukur tersebut!

Sebenarnya secara kaidah bahasa, attribute tersebut akan menyertai kita, pelanggan, seiring dengan bertambahnya usia kita, atau status pernikahan kita. Tetapi pada kenyataannya, benchmark paling pas tetaplah mbak kasir. Meskipun usia kita mungkin baru 20-an tahun, tetapi kalau wajah kita sudah bak pinang dibelah dua dengan guratan di wajah pak Jokowi, sudah pasti mbak Kasir akan memanggil kita “pak”.  Demikian juga sebaliknya, meskipun anak sudah tiga, bisa saja dipanggil “mas” karena prejengan yang dandy. Tidak ada yang salah dengan prejengan dandy, justru di situlah sejatinya terletak attribute yang paling pas untuk kita.

Masa-masa transisi kehidupan juga bisa kita ukur melalui panggilan dari mbak-mbak Kasir itu. Beberapa di antara kalian tentu mengalami masa-masa ketika semua mbak kasir di seluruh dunia memiliki satu tipe attribute yang dilekatkan kepada kita seiring uluran tangannya nyusuki uang. Lantas datang masa dimana mereka tidak kompak. Seakan ada glitch di sistem informasi manajemen panggilan yang digunakan para kasir di seluruh dunia, sehingga di satu warung kita dipanggil “pak” atau “bu”, di warung lain dipanggil “tante” atau “om”, di toko lain lagi dipanggil “mas” atau “mbak”. Ketika saat ini tiba, keimanan kita diuji. Apakah kita mengimani hidup irit dengan berlangganan di warung yang lebih murah meski attribute kita berubah menjadi “pak”, atau berpindah ke warung lain yang lebih mahal dan tidak enak hanya karena kita masih dipanggil “mas” di sana. Inilah ujian kebijakan sesungguhnya!

Demikianlah, alat ukur ini sudah berlangsung berabad-abad sejak jaman nenek moyang kita mengenal dunia perdagangan, dari jaman barter hingga jaman utang-tapi-terlihat-nggaya-karena-pakai-kartu. Alat ukur yang sudah sedemikian teruji, bahkan secara tak kasat mata sudah terbentuk sistem informasi manajemen panggilan di kalangan para mbak-mbak Kasir, yang langsung terhubung ke otak mereka tanpa harus ada kabel yang berseliweran atau jaringan yang terancam blank spot. 

Dan lalu Mall mengubahnya..

Sekarang, kalau kita masuk ke mall-mall, mbok seperti apapun bentuknya kita, pasti dipanggil “kak”! Sungguh penistaan atas sebuah sistem manajemen pemanggilan yang sudah berjalan turun-temurun dan adiluhung. Maka alat ukur itu lantas rusak. Dengan rusaknya alat ukur tersebut, sudah bisa dipastikan akan seperti apa masa depan kehidupan anak-cucu kita kelak!

Bayangkan Anda menjahit baju tanpa alat ukur yang tepat, atau menggambar rumah tanpa satuan yang pas, atau menakar beras tanpa takaran yang valid. Parah bukan? Kalau kita terapkan hal ini pada proses memasak nasi, maka yang terjadi nanti nasi kita menjadi pera karena kurang air, atau justru berubah jadi bubur karena airnya muyut-muyut. Hal-hal seperti ini kok ya sama sekali tidak dipikirkan oleh para pembuat kebijakan di mall.

Maka permasalahan mall bukanlah sekedar warung yang terhimpit, bukan sekedar pasar ilang kumandhange, tetapi hancurnya sistem alat ukur kita. Ujung dari keberadaan mall dengan kebijakan sontoloyonya ini, anak cucu kita nanti akan kehilangan arah, dan sangat mungkin akan menjamur mereka yang mengaku bujangan meskipun cucunya segudang.

Oleh karenanya, melalui tulisan ini, saya ingin menyerukan, “kembalikan tolok ukur kami!!”.

vale, demi alat ukur!

 

Originally posted 2014-12-26 23:56:59.

Comments 9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares