Mas Prenjak Gundah

Aksara Jawa. Sumber: Wikipedia
Aksara Jawa. Sumber: Wikipedia

Sudah lumayan lama tidak berkunjung ke angkringan Lik Ngadiyo meskipun jika mau saya bisa memilih jalur pulang dari kantor yang melewati warungnya itu.

Saat pulang, rasanya kok gojak-gajek antara mampir atau tidak ke angkringan yang dimiliki pria agak lewat paruh baya yang nyeleneh tapi kok ndilalah ya bener itu. Maka sengaja saya ambil rute yang melewati angkringan tersebut.

Dari kejauhan kok terlihat sepeda motor milik seorang musisi muda yang sedang naik daun akhir-akhir ini di Yogyakarta. Karena lama sekali tak berjumpa dengan musisi yang juga ndilalah teman saya ini, maka bulatlah tekad saya mampir ke angkringan Lik Ngadiyo ini.

“Lha rak tenan, ada Mas Prenjak di sini… Pripun kabar e Mas? Ing atase tinggal sekota kok ya kita jarang ketemu e ini…”, langsung saya sok akrab menyapanya.

“Halo Mas… Lha njenengan itu yang sibuk, ngider sana sini. Kalau saya ya tetep di sini-sini aja.”

Nyaaak… Ya padet njenengan Mas. Sudah jadi seniman, punya perusahaan sendiri, tiap Sabtu – Minggu mesti dapet job manten.” saya ngeles.

“Sampun to Mas… Daripada eyel-eyelen siapa yang paling sibuk, mbok njenengan bantu mikir Mas Prenjak ini lho…” Lik Ngadiyo menengahi kami.

“Sebelum njenengan datang, Mas Prenjak ini cuma ‘cak cek cak cek’ sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepala. Kok keliatan e mikir berat gitu.” lanjutnya.

Whelha… Kenapa to Mas? Kan keliatannya selama ini ayem-ayem aja to? Perusahaan lancar, istri ya cantik – lincah – bugar, anak-anak ya lucu-lucu nyenengke, berkesenian ya samsaya ngawu-awu. Apalagi band anyar njenengan yang beraliran kontemporer bernapaskan wingit itu.”

Kuwi grup musik pho ringin, kok wingit…” sela Lik Ngadiyo nyengir.

Mas Prenjak tersenyum kecut, kemudian mencucup jahe anget pesenannya sebelum menjawab.

“Sebenernya ini masalah e ndak penting-penting banget sih. Tapi ya buat saya yang kuliah e dulu bab sastra Jawa, kahanan jaman sekarang sok-sok bikin sesek, Mas.”

“Wha iniiii…” Lik Ngadiyo bersuara.

Entah mengapa, saya merasa Lik Ngadiyo punya kemampuan supra-natural untuk “ngobong-obong” alias manas-manasi sebuah forum, sehingga percakapan bisa berubah jadi perdebatan. Misalnya hanya bersuara seperti tadi itu.

“Lha gimana lagi Lik, bahasa Jawa itu lho…”

Tuh kan bener, Mas Prenjak langsung memanas.

“Bahasa Jawa kenapa to Mas? Rak dari dulu sampai sekarang ya gitu-gitu aja to?”

“Justru karena sekarang begitu-begitu saja, terus saya ya jadi kepikiran, Lik.” Mas Prenjak menyruput jahe anget-nya lagi.

“Oh, ini maksud e bab anak-anak sekarang yang ndak paham bahasa Jawa lagi to Mas?” Lik Ngadiyo tanggap.

“Gimana mau paham Mas, lha wong pelajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah juga cuma dapat waktu sedikit to?” saya sok tahu.

“Bener Mas, terus orang tua jaman sekarang ya lebih seneng nge-les-kan anaknya bahasa asing. Biar nggaya. Mbregenggeng.” entah ini Lik Ngadiyo dalam rangka manas-manasi atau bicara fakta.

“Nah kuwi Mas… Ditambah kalau melamar kerja, punya kemampuan bahasa luar negeri dianggap meningkatkan kualitas diri. Coba kalau di lamaran kerja ditulis bisa berbahasa Jawa. Blas ra dilirik!”

Lik Ngadiyo dan saya mengangguk membenarkan keluh kesah itu.

“Satu lagi yang bikin saya makin kelara-lara.” Mas Prenjak lagi-lagi menyruput wedang jahe-nya. Saya sampai berpikir Mas Prenjak ini benar-benar mirip burung prenjak. Kalau habis diloloh-i jahe, suaranya jadi ramai melengking.

“Pas saya iseng tanya ke seseorang kenapa tidak mengajari anaknya bahasa Jawa, dia menjawab bahasa Jawa itu tidak menjamin dunia akhirat! Rak ati saya jadi lara tenan to dengernya?”

Di satu sisi saya jadi jatuh iba ke Mas Prenjak, tapi di sisi lain kenyataan sekarang memang demikian.

Woh ya kleru kalau bahasa Jawa ndak menjamin dunia akhirat!” Lik Ngadiyo malah jadi meradang sendiri mendengar cerita Mas Prenjak.

Kleru gimana Lik? Ha cen gitu to? Buat cari kerja ya ndak aji, buat munggah swarga ya ndak payu.” sambar Mas Prenjak nelangsa.

“Kok bahasa Jawa, lha wong bisa bahasa Landha aja ya ndak payu kalau ada yang mau daptar jadi sinden misalnya.” eyel Lik Ngadiyo.

Baru saja saya mau buka mulut, Lik Ngadiyo langsung memotong,” iya bener ada sinden Landha, tapi rak dia jadi sinden karena ngerti nembang Jawa to? Bukan karena dia bisa bahasa Landha-nya to?” Edan! Lik Ngadiyo seakan bisa baca pikiran saya.

“Terus nek bab akhirat, yang tau kan cuma yang Maha Kuasa? Kok ya ada yang wani-wani-nya mendahului kehendak dan kuasaNya lho…”

Mas Prenjak manthuk-manthuk.

“Bahasa Jawa itu kan ya tinggalannya orangtua, simbah-simbah, leluhur-leluhur kita. Mosok ya melestarikan warisan peninggalan orangtua kita itu salah? Warisan budaya mendem atau main ya cen kleru. Lha ini bahasa e. Sandangan budaya manusia lho itu. Ra embyeh-embyeh ini!” seumur-umur baru kali ini saya lihat Lik Ngadiyo bicara berapi-api sampai mendelik-mendelik gitu.

Wis pokok e ini saya nyuwun tulung njenengan Mas Prenjak. Kan njenengan yang sekolah e dhuwur tur bab bahasa Jawa. Nah, pokmen gimana carane njenengan bikin les-lesan maca nulis Jawa. Iki wedang jahe-ne tak gratisi wis! Tambah meneh pho?” Lik Ngadiyo cekat-ceket meraih satu gelas kosong lagi.

“Woh, sampun Lik, besok lagi aja wedang jahe tambahannya… Maturnuwun, nanti tak rembugan sama temen-temen nggih” Mas Prenjak gendadapan.

Tenan lho ini… Awas kalo endak!!!”

Siap Liiik…”

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | TemuKonco

Comments 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares