Makbyok!

Look-stars-slide-JXRO-jumboDi tahun 2013, bulan Februari, New York Times mengulas tentang karya seorang fotografer. Disebutkan bahwa sang fotografer, Thierry Cohen namanya, menggabungkan beberapa foto landscape dari dua buah kota (New York dan Shanghai), sehingga mendapatkan penampakan langit di kota-kota tersebut seandainya tidak ada polusi. Melihat foto itu, spontan saya menggumam, “makbyok”.

Makbyok sendiri adalah ungkapan bahasa jawa, menggambarkan sesuatu yang tertumpah dan menyebar kemana-mana, byok. Sensasi titik-titik bintang yang memenuhi langit itulah yang membuat saya menggumamkan kata itu. Sensasi itu pernah saya alami secara live sebenarnya, ketika saya kebetulan singgah di pulau kecil di timur Jawa.

Cahaya

Polusi yang dimaksud di artikel di NYTimes itu tentunya menyangkut polusi udara, tetapi sebenarnya ada polusi lain yang membuat kita gagal mendapatkan sensasi makbyok ketika mendongak ke langit. Polusi cahaya. Bukan, ini bukan pak polusi bernama Cahaya.

Kalau Anda penggemar anime, saya lupa anime apa yang mengungkapkan istilah ini, tapi ada satu quote yang sepertinya pas sekali menggambarkan polusi cahaya. Scene di anime itu adalah ketika sang tokoh mendapat wejangan dari tetua sebuah suku pedalaman, ketika sang tokoh kagum melihat langit yang dipenuhi bintang, dan diufuk cakrawala tampak siluet sebuah kota yang juga bertaburan cahaya, cahaya lampu. Sang tetua berkata,”begitulah kejadiannya, manusia menciptakan lampu, untuk mencuri cahaya-cahaya langit dan menempatkannya di bumi. Maka di kota-kota itu, langit terlihat gelap”. Tentunya bukan persis seperti ini quotenya, saya sudah lupa tepatnya gimana, tapi kurang lebih begitu isinya.

Makbyok di Bali

Seperti sudah saya singgung di atas, saya sempat merasakan sensasi makbyok itu. Waktu itu saya sedang berada di Bali, di daerah Kerobokan. Saya tinggal di sana beberapa hari, melewati hari raya Nyepi. Seperti sudah diketahui bersama, Nyepi artinya mematikan seluruh sumber cahaya. Bali benar-benar gelap gulita, dan suara yang ada hanya suara katak dan jangkrik. Saya yang sumpek di dalam rumah, memilih keluar ke halaman. Hal ini mungkin sebenarnya tidak boleh, tetapi ya macak turis kan bebas.

Di halaman rumah yang asri itu, saya menggelar tikar bersama beberapa teman, lalu berbaring memandang langit. Dan saat itulah, sensasi makbyok itu muncul. Saya merasa seperti diguyur oleh kerlipan bintang-bintang. Ternyata kalau selama ini saya hanya melihat beberapa rasi bintang, dan hanya itu yang saya lihat, malam itu tidak demikian. Langit penuh dengan benda-benda bercahaya. Beberapa titik yang menonjol menyisakan apa yang selama ini saya lihat sebagai rasi bintang, kalajengking, gubuk penceng dan pari. Di luar rasi itu, ada ribuan kerlip warna-warni.

Saya ingat, ketika saya berkemah di Jogja, langit juga menampilkan bintang yang amat banyak. Tetapi tidak sebanyak yang saya lihat ketika saya sedang di Bali itu. Dan sungguh kalau kalian merasakan apa yang saya rasakan, tentu ingin mengulangi lagi melihat langit yang seperti malam itu.

Dan kali ini, demi melihat kembali foto New York dan Shanghai yang ditampilkan di NYTimes tadi, membuat saya berfikir kembali. Sejatinya feature mati listrik yang sudah dikembangkan dan semakin matang di negeri ini, patut disyukuri. Ketika itu terjadi, berharaplah tidak sedang hujan, lalu melangkahlah keluar, dan dapatkan sensasi makbyok.

vale, demi byok

el rony, makbyok bukan mak bjork

 

Originally posted 2015-05-09 21:13:09.

Comments 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares