Klepon

Beberapa hari lalu waktu lihat twit Joko Anwar ini saya lantas jadi ingin cerita tentang CIM panganan khas yang jadi pemicu munculnya judul ini.

Sebenarnya agak kurang setuju dengan pernyataan yang mengatakan bahwa klepon adalah makanan khas Bali, karena kata “khas” sebenarnya bermakna khusus, istimewa, dan tidak dimiliki daerah lain.

Sebab sependek yang saya tahu, selain di Bali, klepon juga sangat dikenal di Jawa. Sementara di tempat lain, kudapan ini biasa disebut onde-onde di beberapa daerah Sumatera, dan di Aceh ia disebut boh rom-rom. Jadi tidak bisa disebut khas Bali saja kan? (Btw, kalo ini ditulis di twitter, bakal memicu twitwor endak ya?)

Namun terlepas dari kudapan ini ditemukan di berbagai daerah dengan nama berragam, namun nyaris di semua daerah tersebut sepakat kalau cara paling aman dan nikmat memakan klepon ini adalah dengan langsung memasukkan seluruh panganan ini ke mulut. Jadi tidak digigit-gigit lucu gitu biar keliatan lebih manner, sopan, dan cute nggemesin terutama di depan lawan jenis.

Sebab jika tetap nekat mencicipinya dengan cara gigit-gigit genit kecil gitu, niscaya cairan gula merah yang ada di dalamnya akan muncrat ke mana-mana, mengenai pakaian, dan gawatnya berpotensi menciprati lawan jenis di depan kita yang sedang kita jaim-in itu.

Itulah mengapa klepon dibuat dalam bulatan-bulatan kecil sehingga memudahkan kita langsung memasukkannya bulat-bulat ke mulut. Coba bayangkan kalau ukurannya sak hohah, pasti berpeluang CIF muncrat ke mana-mana.

Tapi jangan salah, ternyata ada panganan yang punya sifat serupa (kalau digigit muncrat – ah kok sounds wrong ya-) tapi ukurannya agak sedikit lebih besar jadi agak susah untuk langsung leb masuk mulut semua. Panganan itu kalau di Yogyakarta namanya cemplon, sementara di Jawa Timur biasa dikenal dengan jemblem, terbuat dari singkong yang dihaluskan dengan isian gula merah di dalamnya lalu digoreng.

Kalau menyatapnya saat masih hangat, peluang muncrat ke mana-mana sangat tinggi, apalagi ukurannya agak susah untuk diemplok langsung. Tapi kalau sudah dingin, relatif aman karena cairan gula merahnya selain sudah agak mengental juga terserap ke dinding-dinding singkong yang telah dihaluskan tadi.

Walau demikian, saya sepakat dengan judul di berita yang ditwitkan di awal tulisan ini, yaitu dalam hal menikmati klepon (dan bukan yang lainnya), lebih aman dan nikmat jika crot di dalam daripada kelokur dilokur.

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | TemuKonco

Originally posted 2016-01-29 19:59:28.

Comments 17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares