Jaman Kegelapan – Bagian Pertama

Meskipun umur saya masih terbilang muda, saya pernah ngalamin yang namanya hidup tanpa listrik hingga umur 7 tahun. Hal ini tak lepas dari peran PLN yang telat masuk desa saya yang jaraknya hanya 3 kilometer dari kantor kecamatan.

Credit: creating-wonder.blogspot.co.id

Credit: creating-wonder.blogspot.co.id

Di kampung kami dulu, kami pakai dimar, dilah, senthir, atau dian untuk penerangan. Itu tadi nama-nama lampu tempel berbahan bakar minyak tanah yang dibuat dari bekas botol pestisida atau bohlam bekas.

Sementara orang kota menggunakan bohlam untuk penerangan, kami menggunakan bohlam bekas sebagai penerangan dalam bentuk yang berbeda. Keren to?

Kalau ada suara kulonuwun dari pintu, Ibuk akan mengambil dimar yg ada di meja dan membawanya ke pintu untuk melihat wajah tamu agar kelihatan. Tentu saja tidak terlalu dekat agar wajah tamu kami tidak kebrongot.

Dari dimar inilah saya waktu kecil belajar fisika dasar yaitu berat jenis suatu materi. Saat minyak tanah di dalam dimar mulai habis dan sumbu dimarnya sudah pendek, Ibuk akan menuangkan air ke dalam tempat pengisian minyak.

Air lebih berat dari minyak tanah sehingga minyak tanah akan selalu di atas air. Dengan demikian sumbu (atau kami biasa menyebutnya “uceng“) akan tetap terendam minyak tanah dan dimar bisa tetap menyala.

Tapi cara ini hanya bisa dilakukan pada dimar yang terbuat dari botol kaca atau bohlam bekas karena ketinggian air dan minyak terlihat dari luar sehingga bisa disesuaikan dengan panjang pendeknya sumbu.

Satu rumah biasanya hanya menyalakan 1-3 dimar saja demi penghematan bahan bakar karena uangnya mending untuk beli beras. Saat tidur, hanya satu dimar yang dinyalakan karena umumnya satu keluarga tidurnya bareng-bareng di satu dipan kayu.

Selain dimar yang ukurannya kecil, ada juga lampu semprong. Ukurannya lebih besar sehingga menghasilkan cahaya yang lebih terang. Lampu semprong biasanya diletakkan di ruang tamu atau tempat anak-anak belajar. Ya belajarnya anak-anak di ruang tamu itu juga sih.

Lampu petromaks juga sudah ada saat itu.  Namun lampu petromaks ini hanya dinyalakan pada saat-saat tertentu dan tidak semua keluarga memilikinya. Sebagai anak-anak, mata kami akan langsung berbinar begitu melihat ada tetangga mulai memompa lampu petromaks menjelang jam 5 sore.

Menyalakan lampu petromaks adalah pertanda bahwa sebentar lagi akan ada tetangga yang datang ke rumah untuk undang-undang kenduren dan artinya kami akan makan malam dengan srundeng dan daging ayam meskipun cuma sesuwir.

Gimana nggak sesuwir kalau satu ingkung ayam kampung itu dibagi-bagi untuk 30-40 tamu undangan kenduren.

Lanjut ke bagian kedua →

Author: Yeni Setiawan

Papa muda berbahaya. Berbahaya karena suka makan dan tidur, tidak produktif.

Originally posted 2016-01-27 06:30:18.

Comments 13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares