Gong

Hari Minggu ini adalah hari Minggu terakhir di 2014, dan kaitannya dengan makan dan minuman, ini mengingatkan pada kebiasaan beberapa orang -termasuk saya- yang menyisakan sebuah elemen makanan dari hidangan di piring/mangkuknya untuk disantap di bagian paling akhir dari rangkaian kegiatan makan tersebut.

image

Beberapa orang mengistilahkan ini dengan “Gong”, karena memang kemudian fungsinya jadi seperti gong yang mengakhiri sebuah “konser” gamelan dengan mantap.

Karena istilahnya Gong, maka elemen makanan ini biasanya yang paling istimewa di antara makanan lain yang tersedia di piring atau mangkok kita. Umumnya ya lauk atau istilah ala master chef kae protein, yang berperan jadi gong ini. Sangat jarang yang menjadikan santapan nasi atau suapan sayur terakhir yang jadi gong. Memang sih ada beberapa yang menjadikan pete atau jengkol sebagai gong, tapi mungkin kita bahas di lain waktu saja.

Paling sering praktek gong ini terlihat pada mereka yang menikmati mie bakso. Biasanya bola-bola bakso akan terpilih jadi penutup setelah mie, tahu, bakso goreng, dan kadang juga kuahnya telah duluan kita habisi.

Bisa juga ditemui pada mereka yang memesan mie instan goreng/rebus telur, atau nasi goreng plus telur ceplok setengah matang. Biasanya telurnya, terutama yang bagian kuning setengah matang itu dieman-eman untuk disantap di bagian akhir.

Tidak harus makanan mewah atau istimewa untuk bisa melakukan ritual ini. Sepotong tempe goreng atau sekerat ikan asin terakhir yang kita habiskan setelah menyantap sepiring sayur lodeh plus sambal terasi, juga layak disebut “Gong”, kok.

Konon, ada yang bilang kalau mereka yang suka melakukan kebiasaan ini, umumnya orangnya sabar dan telaten. Karena tidak grusa grusu langsung menyerbu yang paling enak dan seru, tapi dinikmati sedikit-sedikit dari bagian yang biasa.

Ada juga yang mengatakan bahwa para penganut Gong di akhir makan ini, mencerminkan sikap hidup yang selaras dengan pepatah: berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Jadi “bersakit-sakit” dahulu dengan menyantap segala macam sayuran dan nasi, lalu “bersenang-senang” kemudian dengan menyantap rempelo ati goreng sebesar kepalan tangan, sebagai penutup.

Nah, kira-kira apa yang akan jadi gong makan malam terakhir kita di pergantian tahun nanti ya? Telur dari gudeg suwir endhog, keliatannya menarik deh…

Selamat tahun baru 2015 nggiiih.. πŸ™‚

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | TemuKonco

Originally posted 2014-12-28 10:54:40.

Comments 19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *