Gagan dan Puji, Teori Pipi Item

Siang itu sangat terik, sudah beberapa hari cuacanya seperti ini. Kalau siang panasnya menyengat, kalau malam gelap. Seperti biasa, Gagan berkeliling kanvasing menawarkan produk dari perusahaannya. Sudah hampir setahun dia  bekerja sebagai marketing di sebuah lembaga pembiayaan. Berbagai prestasi sudah diraihnya, mulai dari marketing dengan pencairan terbanyak sampai dengan marketing yang mampu menjaga debiturnya agar selalu lancar, NPL 0% dengan PAR di bawah 3%. Karena prestasinya itulah, Gagan akan dipromosikan menjadi Loan Officer, tapi dia menolaknya. “Jiwa saya di marketing” Kata dia waktu itu.

Hari itu, Gagan kedapatan tugas membimbing marketing baru. Namanya Puji. Puji ini tamatan SMK terkemuka jurusan Elektronik  di Jogja. Tapi daripada nyoldir PCB dia lebih suka nyepik. Bakat nyepiknya ini agak terhambat sewaktu SMK, la wong temennya cowok semua. Masak cowok nyepik cowok? Seperti Gagan pula, Puji selalu berkata “Jiwa saya di marketing!” saat ditanya kok malah milih jadi marketing daripada kerja yang sesuai dengan jurusannya. Lalu kenapa dia dulu masuk STM ya?

Masjid Nurul Hidayah terletak di pinggir Jalan Bantul, meskipun tidak sedang dalam waktu sholat, Masjid Nurul Hidayah terlihat ramai. Letaknya yang aman, suasananya yang nyaman membuat menjadi jujugan marketing-marketing untuk beristirahat siang. Jadi pagi keluar kantor cari prospekan, agak siang ngadem di masjid, kalau sudah agak eyup baru cari prospekan lagi atau balik ke kantor.

“Ji, kita ngadem dulu di Masjid ya” Ajak Gagan, “Ini juga termasuk ilmu marketing Ji” Tambahnya

“Siap Bos” Jawab Puji

Lalu Gagan membelokkan motornya memasuki pelataran Masjid Nurul Hidayah, setelah selesai sholat. Gagan mengajak Puji leyeh-leyeh dulu. “Santai dulu Ji, masih tanggal segini” Katanya. Dibilangi begitu, Puji pun hanya mengangguk-angguk. “Au Manut” Katanya dalam hati. Selain mereka berdua, di serambi dan selasar masjid banyak juga yang sedang beristirahat.

“Bos, apa nggak takut kalau nanti ditelpon sama orang kantor?”Tanya Puji

“Wes, kamu tenang saja. Aku punya cara untuk ngakali kok” Jawab Gagan

“Caranya gimana Bos?” Tanya Puji

“Gini”, Lalu Gagan memperagakan posisi sedang ditelpon, kemudian dia mencari kipas angin dan memposisikan kepalanya di depan kipas angin. “Nah nanti kalau ditelpon orang kantor kayak gini. Jadi mereka dengernya kita lagi naik motor sambil nerima telpon” Kata Gagan

“Wah, Bos Gagan cerdas” Puji memuji

“Sebetulnya kita sama, cuma aku lebih lama pengalamannya” Gagan agak merendah

“Kamu tahu Teori Pipi Item nggak Ji?” Tanya Gagan

“Nggak tahu aku bos, apa itu Teori Pipi Item”

“Gini, kamu coba liat bapak yang lagi tidur mlumah wudelnya kelihatan itu kira-kira orang mana Ji?” Tanya Gagan

Puji lalu melihat orang yang dimaksud Gagan, dipelototi satu persatu bagian tubuh dari bapak itu. Dilihat pakaian yang digunakan. Akhirnya Puji menyerah. “Aku nggak tahu Bos”

“Dia orang Bantul Ji” Jawab Gagan

“Ah masak sih Bos?” Puji tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Gagan

“Ya sudah kalau nggak percaya, coba kamu tanya sendiri sana”

Untuk membuktikan omongannya Gagan, Puji memberanikan diri mendekati bapak tadi. Setelah sedikit nyepik-nyepik. Akhirnya Puji kembali untuk laporan ke Gagan.”Woh kamu hebat Bos, benar dia orang Bantul. Namanya Tigor dan rumahnya Pandak”

“Kok bisa tahu kalau dia orang Bantul je Bos?” Tanya Puji

“Karena pipinya item di sebelah kanan? Jawab Gagan

“Wah jawabanmu kok ra logis bos, ora keren” Puji ngeyel

“Gini Ji, kamu tahu kan kalau Bantul itu di Selatan. Aku perkirakan Bapak tadi kerja di Jogja. Terus dia berangkat pagi. Nah kalau pagi itu matahari bersinar di mana?”

“Di timur Bos” Jawab Puji

“Nah, matahari yang bersinar di timur itu menyinari pipi kanan bapaknya tadi, terus waktu Bapak tadi pulang kerja di sore hari, Mataharinya kalau sore bersinar di mana?”

“Di barat Bos” Jawab Puji

“Kalau di barat, waktu perjalanan pulang ke rumah tetap pipi kanan si bapak tadi yang kena matahari”

“Oooo jadi itu sebab dari pipi item bapaknya di sebelah kanan ya Bos?”

“Iya, coba kamu perhatikan temanmu yang dari Bantul. Pasti pipi kanannya pada item”Kata Gagan

Puji pun mengingat-ingat temannya yang dari Bantul, akhirnya dia membenarkan perkataan Gagan tadi. “Oiya, ternyata temanku yang dari Bantul pipi yang sebelah kanan item” Gumamnya dalam hati

“Berarti kalau pakai teori Bos tadi, orang sleman pipi sebelah kiri yang item. Terus orang Wonosari yang item cengelnya” Ujar Puji

“Betul Ji, Kalau kamu kan orang Kulonprogo ya Ji” Tanya Gagan

“Iya Bos”

“Makanya mukamu item semua”

“Asemi si Bos malah ngece”

Lalu mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak.

Author: Veta Mandra

Karyawan Kerja Waktu Tertentu bagian HRD, tinggal di Bantul bagian timur. Istrinya satu anaknya tiga. Tiga sudah cukup, karena yang ditanggung asuransi perusahaan cuma segitu.

Originally posted 2015-03-17 10:00:23.

Comments 22

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares