Endangered Entities

Weiss, lama ndak nulis di sini, sekalinya nulis pakai judul keminggris. Masalahnya kalau saya tulis dengan judul “Entitas Langka” kok kesannya seperti mau menulis untuk nasyienel gyografik, jadi sudahlah saya tulis demikian saja. Yang ingin saya ceritakan ini adalah mengenai profesi-profesi yang dahulu sekali sering saya jumpai, tetapi sekarang sudah jarang atau bahkan tak ada lagi. Profesi-profesi yang dekat dengan kita tetapi sekarang sepertinya tidak dibutuhkan lagi.

Tukang Patri

Betul, tukang patri keliling yang kemana-mana menebar bau gondorukem, sudah tidak pernah lagi kita lihat. Dulu, tukang patri adalah tukang idola, dambaan semua ibu-ibu rumah tangga. Tumpukan soblok, baskom, rantang dan lain-lain yang sudah borot, menunggu diobati oleh pak tukang patri. Pak, karena biasanya tukang patri ini dikangkangi oleh kaum adam.

Belum lama ini, kira-kira sebulan yang lalu, kebetulan saya ketemu dengan seorang tukang patri. Bapak-bapak paruh baya, yang entah datang darimana, tahu-tahu sudah nongkrong di pinggir jalan di depan tetangga saya yang penjual jamu. Saya sendiri lupa, dulu kalau tukang patri lewat itu apakah pakai teriak-teriak, atau memukul-mukul sesuatu agar orang tahu bahwa dia datang? Mungkin ada yang ingat?

Nah, di depan pak tukang patri ini  sudah ada dua buah panci besar, alumunium atau stainless steel aku ndak begitu paham, warna putih dengan pantat menghitam. Sudah bisa dipastikan panci itu borot atau bocor. Di samping beliau sudah tergelar satu lembar bilahan besi (apa ya namanya) semacam seng tapi tidak bergelombang. Di beberapa pojoknya sudah terpotong, bahkan ada satu lingkaran lubang besar yang patut diduga sudah beralih menjadi pantat sebuah panci.

Beliau tampak sedang tekun, maka sayapun berbalik arah, tidak jadi lewat di situ. Jalan depan tetangga saya itu cuma muat satu kendaraan, kalau saya maksa lewat, sudah pasti akan melindas barang-barang beliau. Dan karena hal inilah, saya jadi tidak sempat ngobrol dengan beliau, padahal dulu saya suka sekali menongkrongi tukang patri. Bertanya kenapa patrinya harus dicelupkan/ditujeskan ke gondorukem, bertanya kenapa tidak pakai las, dan lain-lain. Seingat saya, tukang patri itu orangnya sabar-sabar.

Maka saya berlalu sambil berdoa, semoga lancar rejeki beliau.

Tambal Ban Onthel

Kalau ini kejadiannya sudah lama, tepatnya sih bukan bertemu dengan tukang tambal ban, tetapi berkesempatan ngobrol dengan bapak-bapak pengonthel dari gunung kidul. Waktu itu saya sedang beli sepeda buat anak saya, sambil menunggu sepeda anak saya disetel rodanya, ngobrollah saya dengan salah satu bapak-bapak yang duduk di toko sepeda itu.

Si bapak cerita bahwa dia kesitu hanya ingin menambalkan sepedanya. Heran saya, kenapa nambal sepeda musti ke toko sepeda? Apalagi beliau cerita bahwa beliau kerja di daerah jogja belahan timur, sementara toko itu ada di jogja belahan barat. Lantas beliau bercerita bahwa saat ini semua tambal ban hanya melayani model tubeless atau minimal model ban bakar.

Sepeda beliau jengki warna biru, tampak sudah menggundul rodanya. Sudah pasti tidak akan bisa ditambal dengan metode bakar, maka pilihannya adalah ditambal dengan model lem.

Tambal ban sepeda onthel seingatku masih bertebaran dimana-mana hingga masa-masa anak-anak yang tinggal di dekat rel terkenal suka ‘ngelem’. Lem yang dipakai oleh tukang tambal ban sepeda dengan yang dipakai anak-anak itu untuk ‘fly’ sama, ayka aybon (iyo pancen ora ngene tulisane).

Pikiran saya melayang ke masa-masa waktu saya sering dolan ke tetangga kampung yang berprofesi penambal ban. Uborampe tambal ban masih saya ingat, sendok cungkil, amplas kasar yang dililitkan ke kayu, gergaji besi, ban dalam yang sudah sobek-sobek dan lem. Ritualnya adalah setelah ban dalam dirambang dan diketahui letak bocornya, maka di bagian yang bocor itu diamplas atau dikerik. Lantas ban dalam yang sudah tak terpakai, dipotong selebar luasan yang dikerik tadi. Bagian dalam potongan ini juga dikerik. Setelah kedua permukaan terkerik itu dilem, dan lemnya agak mengering, ditempelkanlah keduanya. Menyatulah mereka atas nama Tuhannya.

Kini profesi itu sudah tidak ada, maka si bapak tadi terlunta-lunta halah berjalan sedemikian jauh hanya demi menambalkan bannya. Dan aku masih ingat, si bapak kemudian melihat dengan seksama sepeda anak yang saya beli, lalu berkomentar “jaman sakniki pit mawon pun ngagem ban montor nggih mas”. Duh.. pak.

Tenongan

Profesi ini masih ada sih sampai saat ini. Terakhir saya lihat bapak-bapak penjual tenongan spesialis bakpao, yang biasanya beredar di seputaran kampus UGM, tampak sedang menapaki jalanan Kotabaru. Namun yang ingin saya ceritakan ini penjual tenongan yang isinya beragam.

Dulu waktu masih indekos di daerah Jetis, saya berlangganan ibu-ibu tua penjual tenongan. Di tenongnya beliau ada berbagai makanan kecil yang dia bawa. Juga ada nasi bungkus. Tapi idola saya waktu itu adalah juwawut. Juwawut itu biji-bijian yang biasanya dipakai untuk makanan burung, terutama Kutut. Namun, juwawut ini kalau diolah lantas dibikin menjadi jenang atau dibuat menjadi semacam galundeng kecil-kecil, rasanya lharbyasa. Wenakpol.

Simbah putri penjual tenongan itu tinggal di belakang Masjid kampung tempatku indekos, dan saya tahu beliau rajin sekali nyumbang ke masjid. Waktu saya tanya, beliau cuma menjawab “lha kulo niki ngaji mawon mboten saged dek, sagede nggih niku, wong saradan kulo mawon saru”. Iya, beliau latahnya saru, seputar peralatan di antara paha. Huhuhu..

Demikianlah,

kalian punya kisah apa? Selamat hari sabtu

 

vale, demi kian

el rony

Originally posted 2015-04-11 10:12:59.

Comments 6

  • iki wes setu wage kayane.
    *tukang minyak yo siki jarang.
    biasane dorong grobak isine berjirigen minyak tanah, dengan suaranya yg cempreng…
    miiiiinnyaaaaak…

  • Nek meh iruh the real tenongan di jaman sekarang ini bisa coba di seputaran jl. parangtritis dan menukan. ibuke apikan dan she know me so well.. 🙂
    * karang yo lengganan

  • Dulu ada penjual gilo-gilo kalau di Semarang. Biasanya keluar di sore – malam hari. Gerobaknya berisi dari kue-kue kering, basah, sampai buah-buahan. Biasanya jualan keliling dan berhenti di tempat yang sering buat nongkrong. Sudah lama ndak lihat yang semacam itu 🙁

  • dulu sebelum adira dan colombia berjaya, masih ada banyak tukang loak plus kreditan, yang bisa nuker botol limun dengan wajan teplon

  • Nek saiki wes gak pernah ketoro neng daerabku ki Ndalepuk, semacam tukang rosok tapi yo dodolan macem2 panganan..
    Nek jare simbokku, asal kata ndalepuk soko “sandale diijolne krupuk”
    Dadi sandale misale pedot iso diijolne krupuk seng digoreng karo pasir.

  • Tetangga saya pak Topo kebetulan profesinya sebagai tukang patri, masih laris tiap hari muter dari pasar ke pasar menjajakan service patri dan tambal panci 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares