Doa Terselubung Bakul Dawet Ayu

Siapa yang tak kenal minuman manis kenyil-kenyil menyegarkan khas Banjarnegara ini. Tidak perlu berdebat tentang bagaimana kenikmatan minuman ini, atau eyel-eyelan mana penjual dawet ayu yang paling enak. Pokoknya selama penjualnya pake gula merah beneran, tanpa pemanis buatan, dan santannya seger, kudunya dawetnya enak.

Lalu coba perhatikan di tempat-tempat penjual minuman ini, terutama di pikulannya atau gerobaknya, kudunya di masing-masing ujung pikulannya (atau di ujung-ujung gerobak yang dibuat terlihat seperti pikulan) ada sepasang tokoh wayang yaitu Semar dan Gareng. Kalau misalnya ada yang mengaku bakul dawet ayu tapi tidak memasang tokoh Semar dan Gareng, sebaiknya kita segera angkat kaki saja dari situ, sebab kemungkinan besar itu adalah dawet ayu KW.

Tokoh Semar dan Gareng yang terpasang di pikulan para penjual tersebut, ternyata bukan sekadar simbol bahwa minuman yang mereka jual adalah benar-benar dawet ayu. Lebih dari itu, Semar dan Gareng yang selalu ada di pikulan (atau bentuk pikulan yang terpasang di gerobak), adalah semacam “doa terselubung” dari para penjual minuman tradisional ini.

Konon, dipasangnya tokoh seMAR dan gaRENG itu adalah lambang doa para bakul agar cuaca pada hari itu seperti cuaca saat MARENG. Secara gampangnya, mareng adalah sebuah musim (mangsa) dalam penanggalan agraris Jawa, yang posisinya berada di antara mangsa rendeng (penghujan) dan mangsa ketiga (kemarau). Jadi sudah tidak hujan, tapi belum sampai kemarau.

Pada mangsa mareng inilah biasanya para petani memanen hasil kerja kerasnya, pada mangsa ini pulalah biasanya satwa-satwa kawin mawin dan bunting. Pendeknya di mangsa mareng ini seolah semua rejeki dari Yang Maha Kuasa mewujud secara nyata. Ya hasil panen (jadi banyak uang untuk beli dawet ayu), ya hewan kawin, ya ternak bunting, ya sudah ndak hujan terus-terusan, ya belum kemarau-kemarau banget. Pokoknya hore lah..

Nah keadaan seperti mangsa mareng inilah yang diharapkan bakul-bakul dawet ayu ini, agar rejeki selalu mengalir dan tercurah pada mereka.

Demikianlah konon cerita kenapa selalu ada Semar dan Gareng di pikulan/gerobak penjual dawet ayu. Nah ngomong-ngomong, kenapa ya dinamain dawet ayu? Padahal seringnya yang jual Mas-mas?

Jawabannya nanti setelah saya dapet fotonya ya…

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | TemuKonco

Originally posted 2016-05-09 19:12:51.

Comments 11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares