Antara Daster dan Rokspan​

Halo, sepertinya agak hiatus atau semacam kurang aktif ya situs kumpulan yang agak entahlah ini. Tapi, kita ndak kemana-mana kok. Cuma perkara sok sebuk saja. Kiriman-kiriman tulisan masih boleh juga dikirim ke [email protected] Kalau akhir-akhir ini terbitnya lama, harap dimaafkan. Pekerja kopas dan posting tulisan tamunya sedang kurang enak badan.

Oiya, kali ini kita kedatangan penjagong yaitu Mas Robit Mikrojul Huda, yang tampaknya barisan fans Pak Gagan dan Bu Susinta :lol:. Untuk berkenalan atau tahu lebih lanjut dengan sodara beliau, silahkan ikuti twitter atau blog nya di ceritarobit.wordpress.com


Seperti yang sudah kita ketahui, mas Roni Lantip yang sudah membahas 5 langkah mudah mengatasi daster berbau apek, saya akan melanjutkan cerita sepasang suami-istri yang lagi hangat-hangatnya.​

Setelah mengikuti saran mas Roni, kini daster bu Susinta sudah tak penguk lagi, sekarang baunya semerbak kayak kuburan baru lor omahnya pak Gagan. Jadi setelah pelukan pak Gagan kemarin yang ngempet bau penguk itu, sekarang bu Susinta sudah tak canggung lagi untuk dipeluk suami tercintanya itu. #metupindo yang akan dilaksanakan pasangan muda ini menjadi lancar.​

Walopun kata Eko yang sebelumnya bahwa “ketika pak Gagan pulang kerja disambut istri dengan pakaian daster itu kurang joss” tapi, lama kelamaan pak Gagan berpikir bahwa, ndakpapa pake daster, daripada pake rokmini yang membuat banyak orang nelan ludah itu? Hayo piye jal kalo begitu.​

Pagi itu, pak Gagan seperti biasanya memanasi motor bebeknya sambil rokoan, sambil ditarik gasmotor itu pak Gagan melihat seorang gadis nan cantik lewat dengan memakai blus putih dan dipadu dengan rok span hitam yang ada belek’an ke atas itu, dan di kakinya memakai sepatu haihils. Pak Gagan yang tak sadar terus memandangi gadis semlohai itu dengan penuh imajinasi, memandanginya dari atas ke bawah, balik lagi bawah ke atas dan sesekali nelen ludahnya sendiri. Tetiba pak Gagan dikagetin oleh Bu Susinta, “heh, pakne, sampean mandang apa tha jane? Kok sampe gas motor iki sampean tarik-tarik padahal motore mati? Bu Susinta sambil menunjuk motor bebek pak Gagan .

Dengan terbata-bata pak Gagan menjawab “anu bune, kui loh rumput pekarangan rumah kita kok wes pada duwur-duwur, sambil nunjuk rerumputan yang memang banyak di pekarangannya. Lalu pak Gagan cengir-cengir sendiri. Setelah dikejutkan istrinya itu, pak Gagan sudah tak memandangi gadis itu, tapi pikiran gadis yang ber-rok span ini, selalu muncul di bayang-bayang pak gagan. Pak Gagan masih teringat jelas, betapa semlohainya gadis itu, tak lama kemudian bu Susinta menyuruh pak Gagan manasin motor metiknya untuk berangkat kerja bareng.​

Setelah itu, pak Gagan berangkat kerja berharap ketemu lagi dengan gadis yang ia lihat di depan rumahnya itu. Tapi, entah kenapa di perjalanan menuju kantornya itu, pak Gagan sambil tengak-tengok tak berhasil juga menemukan gadis ber-rok span tadi. Sampailah pak gagan di tempat kerjanya. Tak lama, pak Gagan langsung njujug di kantin yang sumpek itu, pak Gagan memesan kopi item dan ngambil pisang goreng di meja kantin, sambil menyalakan sebatang rokok mil sisa semalem gadangan nginstall aplikasi yang dipesan oleh temannya itu. Lalu pak Gagan berpikir, jika istriku memakai rok span seperti gadis yang tadi pagi aku lihat, pasti banyak lelaki atau tetangga yang akan memandang dari atas sampe bawah sepertiku tadi pagi. Pak Gagan pun tersenyum sendiri, ah untung istriku seneng pakai daster. Jadi, kemungkinan kecil para tetangga dan lelaki itu gak memandang istriku seperti aku memandang gadis itu. Rokokpun habis, kopi yng disruput-pun tinggal ampasnya, lalu pak Gagan menuju ruangan kerjanya dengan cengar-cengir sendiri memikirkan istrinya mau pake daster yang model apa.

Originally posted 2014-12-25 09:07:38.

Comments 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares