Slilit, Sebuah Analisa Kelas

Setelah beberapa abad lalu saya membahas mengenai gigi, kali ini saya ingin membahas mengenai anak haramnya, yaitu slilit. Saya yakin sekali, siapapun pasti mengalami apa yang namanya sliliden. Siapapun, kecuali mereka-mereka yang sudah tidak memiliki gigi.

Dan ketika saya mengingat-ingat mengenai slilid ini, saya semakin yakin kalau pencipta kita ini memiliki seni humor yang tinggi. Bagaimana tidak, slilid itu adalah salah satu bentuk sisi kemanusiaan kita. Apakah Anda pernah melihat hewan sliliden?  Saya amat sangat yakin sekali, tidak ada satupun, saya ulangi, tidak pernah sekalipun akan Anda temui, hewan apalagi tumbuh-tumbuhan yang sedang sibuk pake tusuk gigi. Ah ya, monyet ada yang menggosok-nggosok giginya dengan patahan dahan, tetapi dari segi ukuran dahan yang dipakai, aku sangat yakin dia tidak sedang ber-tusuk-gigi, mungkin dia sedang sikatan.

Lantas apa hubungannya dengan analisa kelas? Begini, sebelumnya Anda harus sepakat dulu dengan saya bahwa slilid itu adalah salah satu manifestasi kebermanusiaan kita. Nah, kalau sudah sepakat, mari kita bahas. Ada berapa macam cara yang kalian pahami dalam urusan slilid ini? Satu? Dua? Tiga? Sepuluh? Berapapun cara yang kalian tahu, sesungguhnya metoda perslilidan ini hanyalah terbagi menjadi tiga bagian besar, yang karenanya manusiapun jadi terbagi menjadi tiga kelas tersebut.

Kelas Survival

Mereka yang berada di posisi ini biasanya adalah mereka-mereka yang secara perekonomian juga berkedudukan sama, survival. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, maka pilihannya adalah dengan mengoptimalkan hal-hal yang ada di sekelilingnya. Ciri utama manusia kelas ini adalah mereka mengatasi problematika perslilidan dengan alat paling sederhana, kuku.

Maka mereka yang berada di posisi ini biasanya kukunya panjang, dan biasanya lagi hanya kuku jempol saja. Kalau bersalaman dengan mereka, pastikan dulu ujung kukunya bersih. Ujung kuku saya sih selalu bersih.

Kelas Gojag-gajeg

Banyak yang memilih menggunakan kata menengah untuk menengarai kelas ini, tetapi saya menolak. Mereka tidak berada di tengah kok, mereka kadang mlipir. Seperti apakah cirinya? Manusia kelas ini sudah mengenal yang namanya tusuk gigi. Dengan menyisihkan bekal tabungan sebulan, biasanya mereka menganggarkan untuk membeli seperangkat alat tusuk gigi.

Tetapi tidak semua, karena ini adalah kelas gojag-gajeg. Hanya mereka tidak mau mengotori kuku mereka, sehingga merekapun rada-rada survival, yaitu dengan mengongoti korek jres. Kalau tidak ketemu ongotan atau pisau, paling sering mereka menggigit-gigit batang korek api. Sehingga sering terjadi permasalahan mereka bertambah, sudahlah sliliden eh masih juga terbentur permasalahan baru, serpihan korek api malah nylilid.

Kelas Nggaya

Nah khusus kelas ini memang agak berbeda. Biasanya mereka sudah tidak pusing dengan permasalahan anggaran, entah karena sudah ada asisten yang mengerjakan, atau bisa jadi memang mereka tidak mau ambil pusing urusan uang. Yang mereka pakai adalah dental floss. Sangar ra?

Harap dibedakan dengan mereka yang mengatasi slilid dengan senar pancing, yang seperti ini bisa jadi adalah manusia kelas gojag-gajeg. Kalau mereka yang berada di kelas nggaya dan merupakan galur murni, sudah pasti mereka mengantongi dental floss ini.

Nah, itulah ulasan saya mengenai analisa kelas, sebuah studi kasus slilid. Harapan saya, dengan uraian yang sederhana dan singkat ini, jangan sampai terjadi kita salah menyikapi orang atau teman kita. Kenali dulu mereka berada di kelas yang mana, supaya tidak terjadi kebingungan dan gegar budaya.

Jika teman Anda ternyata termasuk kelas nggaya, dan Anda tidak mampu menyiapkan dental floss ketika menawari teman Anda menginap, jangan ragu untuk menawarkan kuku Anda sebagai gantinya.

Gitu.. penting gak sih?

n.b: mid, ndang mari mid

Originally posted 2015-01-31 22:30:39.

Comments 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares