Mbah Uti

Mbah Uti, begitu saya memanggil ibu dari ibu saya. Asal-muasal kenapa dipanggil Mbah Uti saya tidak tahu. Saya hanya bisa menebak-nebak bahwa Mbah Uti adalah bentuk penyederhanaan dari Simbah Putri. Mungkin dulu ada cucu Simbah yang cadel nyebut Simbah Putri menjadi Mbah Uti, lalu diikuti oleh cucu-cucu yang lainnya. Setahu saya pula, panggilan Mbah Uti bukan menjadi monopoli dari keluarga kami saja. Saya sering mendengar juga, keluarga-keluarga lain yang memanggil dengan nama Mbah Uti.

Mbah Uti termasuk golongan orang terpandang di desa, sepertinya sih begitu. Sawahnya banyak, Rumahnya besar dan memiliki Pendopo. Saya pernah dengar cerita, jaman dulu orang di desa sering kumpul di rumah simbah untuk mendengarkan ketoprak dari radio, waktu itu masih jarang yang memiliki radio. Setiap musim panen padi, pendopo rumah simbah penuh oleh hasil panen padi, diwadahi dalam sak-sak. Setelah itu ada tenaga borongan yang “nggebugi” batang padi, supaya bulir padi terpisah dari batangnya. Kemudian gabah dijemur sebelum dipanen. Rumah menjadi ramai. Begitu juga kalau musim panen jagung dan sayur-mayur.

Selain bertani dan memiliki sawah, Mbah Uti berdagang pakaian di pasar. Beliau memiliki los di 3 pasar, Pasar Kotagede, Pasar Plered dan Pasar Jejeran. Jadi Mbah Uti tinggal menyesuaikan ingin berdagang di pasar mana sesuai dengan hari pasaran. Mbah Uti kulakan pakaian di Pasar Beringharjo, frekuensi kulakannya saya tidak ingat, apalagi omset beliau. Yang saya ingat kalau Mbah Uti kulakan, barang kulakannya diantar lewat becak kadang Mbah Uti memakai naik kol. Setelah Mbah Uti meninggal, los di 3 pasar tersebut diwariskan kepada anak dan menantunya. Sekarang, tinggal los di Pasar Kotagede yang masih tersisa. Sisanya sudah dipindah hak miliknya ke orang lain.

Sewaktu masih SD, saya suka main ke pasar tempat Mbah Uti jualan. Waktu pasaran Legi ya main ke Pasar Kotagede, karena dekat dengan SD saya. Di pasar biasanya ditanyain Mbah Uti:

“Ngelak ora Ta?”

“Kene mimik teh e simbah”

Teh dalam gelas blek blonteng ijo itu lo. Kemudian, biasanya teman-teman Mbah Uti bertanya

“Iki Puthumu to?

“Kok pinter, kok kendhel tekan kene”

Dan berbagai macam pujian yang bikin saya GeeR waktu itu.

Mbah Uti berangkat ke pasar naik Sepeda Onthel. Rutinitas beliau yang paling saya ingat adalah saat memakai Stagen. Cara memakainya diikat di tiang rumah, kemudian diubel-ubel dan diputer-puter di pinggang  sampai dirasa kencang.

Kira-kira jam setengah tiga sore, Mbah Uti sudah sampai rumah dari pasar. Di depan rumah biasanya beliau membunyikan bel sepeda,  saya lalu keluar membantu mendorong sepeda memasuki rumah. Rumah Mbah Uti ada dronjongan di depan pintu, jika sendirian maka tidak kuat. Ditambah di samping kanan kiri boncengan sepeda sudah diganduli barang dagangan.

Yang ditunggu-tunggu saat Mbah Uti pulang dari pasar adalah oleh-olehnya. Jajanan pasar seperti monthe, nogosari, bubur sumsum, growol sampai arem-arem. Kesukaan saya adalah nogosari. 

Seiring kepindahan saya dan orangtua dari rumah Mbah Uti, saya pun jarang datang menjenguk. Paling hanya menginap waktu ada acara keluarga, lebaran atau saat libur catur wulan.

Mbah Uti meninggal berbarengan waktunya dengan kisruh-kisruh reformasi , hal itu yang membuat Budhe Jakarta telat datang melayat. Sakit tua, beliau sendiri jarang mengeluh tentang sakitnya. Tipe-tipe memendam sendiri. Tahu-tahu sakit dan harus mondok.

 

 

 

Author: Veta Mandra

Karyawan Kerja Waktu Tertentu bagian HRD, tinggal di Bantul bagian timur. Istrinya satu anaknya tiga. Tiga sudah cukup, karena yang ditanggung asuransi perusahaan cuma segitu.

Originally posted 2015-01-27 17:35:00.

Comments 7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares