Guyub dan Filosofi Gigi

Judul yang aneh, tetapi memang seperti itulah keadaan di sebuah media komunitas. Ya, saya semena-mena menyebut jagongan ini sebagai media komunitas, karena pada kenyataannya memang diisi secara keroyokan. Judul di atas tidak sedang berupaya menghubungkan antara konsep dan ide atas berdirinya media jagongan ini dengan filosofi dari sebuah band yang terkenal. Judul di atas semata-mata ingin mengaitkan antara media ini dengan tulang-tulang yang tumbuh di geraham kita.

Menggigit

Itu ciri sekaligus fungsi utama dari gigi. Makhluk itu diciptakan Tuhan sekedar untuk membuka dan mengatup, berusaha menghancurkan apa saja yang diletakkan di antara dua deret barisannya. Maka media komunitaspun demikian.

Media komunitas pada umumnya akan mengunyah apa saja yang bersinggungan dengan komunitas tersebut, baik secara keseluruhan maupun secara satu per satu personelnya. Persis seperti kalau kita memasukkan ujung pojokan dari sachet kopi, gigi taring kita dengan sigap mengatup dan mengoyak sachetan tersebut. Gerakan gigi taring tadi tentunya diiringi oleh gigi yang lain. Opo tumon, ada orang taringnya naik turun sementara gigi yang lain tetap pada tempatnya? Yang demikian sudah barang tentu mendapat predikat baru, ogak.

Padalan

Fungsi lain dari gigi adalah sebagai landasan, pijakan atau bahasa jawanya padalan. Huruf D pada kata padalan diucapkan dengan memadalkan lidah ke gigi. Halah.

Pun sama dengan media komunitas, dia hadir untuk menjadi padalan bagi orang-orang di dalamnya, untuk berbagi tentang berbagai hal, dari mulai remeh temeh hingga hal yang larbiyasa seperti membahas politik. Walaupun ada kalanya bahasan politis itu kadang isinya jebul remeh temeh, seperti kasus foto mbak Elvira dengan mas-mas berkacamata itu.

Tumbuh

Nah, ini penting. Gigi mengalami proses pertumbuhan, yang menurutku kok mirip sekali dengan proses pertumbuhan sebuah komunitas, atau dalam hal ini saya persempit menjadi proses pertumbuhan media komunitas.

Pada tahap awal, gigi tumbuh sedikit demi sedikit, menjadi deretan gigi susu. Asalkan tidak terlalu banyak ngenyot kempongan atau tidur sambil ngemut botol susu, tentu gigi susu ini akan berderet rapi. Persis seperti postingan dari sebuah media komunitas di awal-awal, rapi, urut dan rentep.

Lantas gigi susu mulai tergusur oleh munculnya gigi dewasa. Tanggal satu per satu atau bahkan langsung beberapa. Saat-saat seperti ini adalah saat-saat kritis, dimana kalau pola makanan tidak dijaga, bisa jadi gigi akan tumbuh saling sengkarut atau bahkan ompong duluan. Demikian halnya dengan media komunitas.

Kalaupun nanti gigi dewasa tumbuh rapi, pada saatnya nanti atas kehendak Ilahi, gigi-gigipun mulai tanggal kembali. Lantas media komunitas menjadi ompong, selang-seling. Pada saat seperti ini, media yang kaya akan segera mencari solusi operasi gigi implant, sementara media yang kere tentu hanya bisa bersetia dengan keompongan. Toh kadang senyum dari orang ompong itu menggemaskan, coba diingat saja senyumnya almarhum Pak Tile.

Nah, demikian menurut saya hal-hal tentang filosofi gigi. Agak serius ya bahasannya? Ya sejujurnya saja ini ngonsep sambil ngetik dan tanpa ngedit, jadi ya sakjannya ini ming timbang ompong saja. Wahihi.

vale, demi kesehatan gigi

el rony, membayangkan media komunitas sedang sikatan

n.b. apakah fenomena gigi bungsu juga ada di media komunitas?

n.b. n.b. gigi bungsu pastinya gigi yang manja

Originally posted 2015-01-17 20:49:56.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares