Gagan dan Iwan: Pulang Sekolah

TEEETTTTT

Bel pertanda pulang sekolah berbunyi, murid-murid SD Pinter berhamburan dari kelas. Ada yang langsung pulang, ada yang jajan. Eman-eman kan, sudah disangoni orang tua kok nggak dihabiskan. Di sudut sekolah nampak Gagan sedang berdiri memandang teman-temannya yang jajan, dia bingung, duitnya cuma cukup buat beli es atau beli bakso penthol. Sementara dia kepingin membeli dua-duanya. Memang manusia makhluk yang jarang puas ya. Berdasarkan penelitian bahwa manusia itu akan cepat mati bila tidak minum, maka Gagan memutuskan untuk membeli Es Teh.

“Pak tumbas es teh, dibungkus mawon”, Tembung Gagan ke pak penjual es

Pikir Gagan, nanti aku bisa minum es teh sambil jalan ke tempat ngadang bis. Maklum, tempat ngadang bisnya lumayan jauh. Sekilo lebih, kapan itu Gagan pernah iseng-iseng ngukur pakai speedometer waktu dijemput Ibunya. Panasnya matahari semoga bisa dilalui dengan bantuan menyedot es teh tadi.

Gagan sudah terbiasa naik bis semenjak kelas 2, dia sudah dilatih orangtuanya untuk mandiri, berdikari agar tidak bergantung kepada orang lain. Biasanya Gagan ngadang bis tak sendiri, ada Iwan yang membarenginya. Iwan ini adik kelas Gagan, satu tingkat di bawahnya. Jadi waktu Gagan masuk di kelas 2, Iwan baru masuk di kelas 1. Sudah 3 tahun Gagan sekolah di SD Pinter ini. Jadi SD Pinter memiliki program Student get Student. Setiap murid yang bisa mengajak teman atau tetangganya masuk ke SD Pinter, dari pihak SD akan memberikan potongan SPP sebesar 50%. Makanya waktu itu Gagan ngojok-ngojoki Iwan supaya masuk ke SD Pinter. “Wes to, penak-penak” Kata Gagan waktu itu.

Sudah semenjak di sekolah tadi Gagan mencari-cari Iwan buat bareng pulang. Mereka berdua sudah berjanji sampai Gagan lulus SD akan bareng pulang ngebis. Gagan sebagai yang lebih tua sudah dianggap sebagai seorang kakak oleh Iwan. Setelah lama mencari, akhirnya Gagan menemukan Iwan lagi leyeh-leyeh di Cakruk depan SD. Leyeh-leyeh sambil kipas-kipas rambutnya yang sumuk dengan pethuk.

“Jebule kamu disini to Wan, tak pikir kamu sudah meninggalkanku je” Kata Gagan

“Hooh je Mas, la aku tadi lihat kamu beli es teh suwi, terus tak tinggal leren di sini” Kata Iwan

Akhirnya dua sahabat beda usia dan desa itu pun melanjutkan langkah ke tempat ngadang bis.

“Kok cuacane panas ya Wan, Srengengene kayane dekat banget?” Tanya Gagan

“Iya e Mas, padahal wes tak minumi Parasetamol tapi kok yo tetep panas”Jawab Iwan

“Karang kaya menungso yo, diombeni Parasetamol”Kata Gagan

Mereka berdua lalu tertawa tergelak-gelak. Memang enaknya kalau jalan itu diisi dengan gojegan. Biar perjalanannya nggak kerasa, ngerti-ngerti sudah sampai. Dan benar, nggak terasa sudah sampai di tempat ngadang bis.

Bis yang mereka tunggu memang suka seenaknya. Kadang-kadang sejam baru datang, atau malah bisa lebih. Maklum jurusan sepi penumpang, jadinya ngetem dan nunggu sampai penumpangnya penuh. Gagan dan Iwan suka kalau bisnya penuh, bisa ndresel-ndresel dan nggandhul. Dari ndresel dan umpek-umpekan, mereka bisa hapal jenis-jenis softener yang dipakai di baju penumpang bis. Kadang mereka main tebak-tebakan softener apa yang dipakai.

Sudah hampir sejam mereka nunggu bis, bukannya belum ada yang lewat. Tapi bisnya nggak ada yang mau berhenti. Sudah dicegat, diawe-awe tetap saja jalan terus. Hampir saja mereka mutung, tapi kata Pak Victor Frankl mereka nggak boleh mutung, mereka harus punya harapan, karena apalah manusia tanpa sebuah harapan itu.

“Wan, Kae motorku lo”, Kata Gagan sambil nunjuk motor sport terbaru yang lewat

“Ah, mosok sih? Paling ngapusi”, Kata Iwan ngeyel.

“Mosok orang nggak boleh ngimpi sih? wong Martin Luther King wae oleh ngimpi kok”, Jawab Gagan

“Kok kowe kenal Martin Luther King barang mas? kuwi sopo to?” Tanya Iwan

“Pokokmen kuwi tokoh terkenal, aku ngomong ben kowe gumun karo Aku wae, hehe” Gagan cengengesan

“Yowes, kalau gitu aku ya mau main ngimpi-ngimpian” Kata Iwan

Mereka berdua pun main nunjuk motor dan mobil yang lewat sambil diaku sebagai kepunyaannya, sampai pada suatu saat tiba giliran Gagan nunjuk mobil merah mewah yang bukaan pintunya ke atas.

“Itu mobilku”, Kata Gagan

Mobil mewah merah itu berhenti di depan Gagan, mereka berdua bertanya-tanya ada apa. Lalu pintu mobil itu dibuka, dari dalam mobil terdengar suara yang menyuruh Gagan masuk.

“Ayo Gan masuk, mau pulang nggak” Kata suara di dalam mobil

Gagan dan Iwan bingung, Apa ini yang namanya Mestakung, Semesta Mendukung. Kalau kamu punya keinginan nanti semesta di sekitarmu akan mendukungmu untuk mencapai keinginanmu itu. Gagan lebih heran, perasaan tadi cuma gojegan, dolanan kok mobilnya berhenti, apa Bapakku beli mobil kayak gini, tapi nggak mungkin, la wong gaji bapaknya itu ngepress.

Agak ragu-ragu, Gagan mendekati dan masuk mobil. Ternyata pemilik suara tadi adalah Bos Puji, tetangga sebelah rumah yang super kaya.

“Ayo mulih bareng aku” Kata Bos Puji

“Kancamu dijak sisan” Tambah Bos Puji

“Alhamdulillah, ngirit duit. Duite iso ditabung” Kata Gagan

Mereka berdua senyum-senyum, seneng numpak mobil bagus. Ternyata ngimpi di siang bolong pun bisa.

 

Author: Veta Mandra

Karyawan Kerja Waktu Tertentu bagian HRD, tinggal di Bantul bagian timur. Istrinya satu anaknya tiga. Tiga sudah cukup, karena yang ditanggung asuransi perusahaan cuma segitu.

Originally posted 2015-01-20 11:58:20.

Comments 16

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares