Derap Langkah Untuk Sepatu Baru

“Sampeyan itu memang T-O-B tenan kok, pak. Memang sudah digariskan oleh Tuhan menjadi bakul angkringan yang kampiun. Sini istirahat dulu daripada kecapekan trus mendahului menghadap Tuhan.” Kata Hamid kepada pak Ngadiyo.

“Heh, mulutmu itu dijaga!” Jawab pak Ngadiyo sewot sambil mengatur nafasnya.

Sore ini memang jadi sore yang sibuk buat pak Ngadiyo. Pegawai semata wayangnya harus pulang kampung menemani istrinya yang melahirkan sehingga pak Ngadiyo sendiri menangani pelanggan-pelanggannya yang lumayan banyak.

“Lha kamu tau aku repot kok ya malah cuma diam nggak bantuin.” Tanya pak Ngadiyo.

“Kapasitas saya di sini kan sebagai pelanggan. Bukan asisten bakul. Nanti kalau saya bantuin tapi salah sampeyan malah marah.” Jawab Hamid sambil meringis.

“Eh, tapi itu menunjukan kalau Tuhan itu tidak akan memberi rejeki untuk umatnya yang belum siap menerimanya. Lha situ tadi kan sukses kerja cepat tanpa bantuan, nggak ada yang salah ataupun komplen. Nah itu berarti memang jatahnya sampeyan nerima rejeki itu.” Tambah Hamid.

“Ya namanya kerja, Mid. Kadang sepi kadang rame kaya tadi. Tapi saya setuju apa yang kamu bilang tadi. Yang penting usaha dan langkah kita bener dulu, Mid. Rejeki sudah ada yang ngatur. Eh, omong-omong kamu kok tumben bijaksana? Kagum saya sama kamu.” Tanya pak Ngadiyo sambil nyiyir.

“Lho, coba saya kasih tahu. Bapak saya ngasih nama saya H A M I D itu memang maksudnya biar jadi orang yang banyak menerima pujian. Jadi saya ya nggak kaget kalo sampeyan muji-muji dan kagum sama saya.” Jawab Hamid cengengesan.

Tak lama kemudian, seorang pemuda setengah berteriak memberi salam dan masuk ke tenda angkringan.

“Assalamualaikum, sugeng sore pak Ngadiyo, Hamid.” Kata pemuda itu.

“Waalaikum salaam. Sini, Ndung. Ngobrol ngalor ngidul sini.” Hamid membalas salam sambil menyapa pemuda yang ternyata bernama Dandung itu.”

“Mau minum apa ini, Ndung?” Tanya pak Ngadiyo.

“Tolong aku dibuatkan jahe panas gula batu pak.” Jawab Arman Dandung yang langsung dibuatkan oleh pak Ngadiyo.

“Dari mana ini, Ndung. Kamu kok rapi pake kemeja dan celana kain gini?” Tanya Hamid sambil mengamati pakaian Dandung dari atas sampai bawah.

“Cuma nongkrong sama teman-teman, habis kuliah, Mid. Biasa, nge-mol cuci mata.” Jawab Dandung.

“Wuih. Cuci mata kok sampe mol. Itu di ember saya juga bisa, sabun sanlet-nya juga sudah ada.” Pak Ngadiyo menimpali.

“Wah, mata saya disamakan gelas blimbing sama pak Ngadiyo.” Sahut Dandung meninggikan suaranya, pura-pura marah sambil melirik ke pak Ngadiyo. Yang dilirik hanya tertawa cekakakan.

“Ini sepatumu baru ya? Kamu gonta-ganti sepatu terus.” Kata Hamid sambil memperhatikan sepatu Dandung.

“Enggak baru-baru banget. Sebulanan, cuma jarang aku pakai. Aku kan koleksi sepatu, Mid.” Kata Dandung sambil menyeruput wedang jahenya.

“Koleksimu kok sepatu? Kok nggak batu akik saja? Kan siapa tau ada tuahnya.” Tanya Hamid.

“Duh, kamu terlalu banyak nongkrong di angkringan jadi kuper. Gini lho, buat aku sepatu itu jadi seperti obat pede, percaya diri.” Jelas Dandung.

“Kok obat pede itu gimana?” Tanya Hamid yang belum bisa memahami penjelasan Dandung.

“Orang sekarang yang dilihat penampilan dulu Mid. Bajunya pake apa, celana jeansnya merek apa, termasuk sepatunya juga dinilai. Kalo penampilan kita udah trendi, orang-orang lebih memandang kita. Dari sepatu yang aku pakai, aku jadi yakin kalo mereka bakal lebih memandang aku.” Jelas Dandung.

“Ya kalo sepatumu ini jelas lebih dipandang orang, Ndung. Wong ya warnanya ijo ngejreng gini, kayak stiker warung es degan.” Kata Hamid.

“Ndung. Kamu kalo cari sepatu yang bagus, saya tau, ada di daerah pasar Godean. Cari saja satu-satunya toko sepatu di sana, namanya UWAUWU’S FOOT, terus kamu cari sepatu merek NIKI. Itu sepatu buatan lokal tapi kualitasnya eksport.” Pak Ngadiyo yang dari tadi mendengar penjelasan Dandung ikut urun bicara.

“Yang bener ini, pak? Apa yang buat sepatu itu bagus, pak?” Tanya Dandung yang langsung serius begitu tahu ada sepatu yang menarik.

“Weeh. Kamu katanya koleksi sepatu, kok malah nggak tau? Oh tapi kamu baru mulai koleksi ding ya? Kalo kolektor yang senior udah pada tahu semua.” Kata pak Ngadiyo sedikit nyinyir.

“Tadi pertanyaan saya belum dijawab lho, pak. Itu sepatunya bagus karena apa, pak. Kan ya buatan lokal to?” Cecar Dandung dan tidak mempedulikan nyinyiran pak Ngadiyo.

“Oh iya. Itu sepatu NIKI selain nyaman dipake, juga anti telek. Jadi sepatu kamu nggak bakal kotor, Ndung.” Jelas pak Ngadiyo kepada Dandung.

“Ah, masak sih? Aku sudah punya 70an pasang sepatu lebih tapi nggak ada yang anti telek gitu pak? Jadi penasaran aku.” Kata Dandung

Hamid yang dari tadi menyimak obrolan mulai menangkap sinyal-sinyal ketidak beresan omongan pak Ngadiyo. Tapi dibiarkannya rasa penasaran itu, dinikmatinya saja obrolan pak Ngadiyo dan Dandung.

“Coba kamu buktikan sana. Percuma jadi kolektor sepatu kalau nggak punya sepatu NIKI. Sepatu anti telek!” Kata pak Ngadiyo.

Dandung terdiam beberapa saat. Dari kerut di dahinya, Dandung terlihat penasaran dan ingin segera membuktikan omongan pak Ngadiyo.


Dua hari kemudian di angkringan pak Ngadiyo. Ketika Hamid dan pak Ngadiyo tengah berbincang seru tentang isu pergantian Kapolri yang ganjil dan kaitannya dengan pembongkaran polisi tidur di kampung mereka yang mendadak, tiba-tiba Dandung datang tergopoh-gopoh dengan raut muka sebal.

“Pak, ini sepatu NIKI sebenarnya anti telek nggak sih?” Tanpa basa basi Dandung langsung bertanya tentang sepatu kepada pak Ngadiyo yang dua hari lalu merekomendasikannya untuk membeli sepatu NIKI.

“Lhoo. Datang-datang langsung marah masalah sepatu? Memang ada apa?” Sahut pak Ngadiyo kalem.

“Lha aku sudah beli dan coba seharian lebih. Tapi kok tetep saja saya nginjak telek dan sepatunya tetap saja kotor?” Jelas Dandung.

“Lha lak tenan. Mesti ini pak Ngadiyo berulah lagi.” Kata Hamid dalam hati sambil siap-siap mendengar komentar pak Ngadiyo.

“Lho kamu jadinya beli sepatu NIKI ya? Bagus dong, koleksimu bertambah.” Kata pak Ngadiyo.

“Iya tapi teleknya itu gimana, pak?” Cecar Dandung.

“Sebentar, kalo tentang telek itu kamu yakin yang kamu injak benar-benar telek?” Pak Ngadiyo balas bertanya.

“Iya, aku yakin itu telek, pak. Itu telek ayam. Saya sengaja menginjaknya trus saya juga mencium baunya. Saya yakin seyakin yakinnya.” Jawab Dandung.

“Waaaaa.. Hahahahaaa…” Hamid langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai hampir menjatuhkan gelas di meja angkringan.

“Wah. Anak muda sekarang penampilannya keren tapi bodo juga.” Kata pak Ngadiyo.

Dandung hanya bisa bingung dan diam menunggu jawaban dari pak Ngadiyo.

“Jadi gini lho, Ndung. Yang pertama. Kesalahan kamu itu kalau kamu tahu itu telek kenapa kamu harus meyakinkan lagi dengan mencium baunya? Kan sudah pasti? Yang kedua adalah menelan mentah-mentah omongan saya. Ya tidak mungkin ada sepatu yang anti telek, toh kalau terpaksa atau tidak sengaja menginjak ya nggak papa, lha wong salah satu fungsi sepatu itu adalah melindungi kaki kita supaya tidak terkena langsung kotoran-kotoran. Namanya saja alas kaki.” Jelas pak Ngadiyo.

Hamid masih saja terpingkal-pingkal dengan ulah Dandung dan membayangkan bagaimana muka Dandung ketika dia meyakinkan dirinya bahwa yang diinjak sungguh telek ayam dengan cara menciumnya.

“Yang ketiga kalau kamu tahu ada telek di depan kamu, kenapa kamu injak? Kan bisa kamu lompati atau kamu hindari? Sepatumu itu memang anti telek, tapi tergantung siapa yang memakainya. Kalau kamu yang memakainya berhati-hati dalam melangkah, kamu pasti tidak akan menginjak telek. Jadi yang paling penting itu langkahmu, bukan sepatu yang kamu pakai.” Tambah pak Ngadiyo.

Dandung hanya terdiam menyadari kebodohannya. Pandangannya diarahkan ke tumpukan cakar bacem di depannya.

“Nah ini yang terakhir, yang keempat….”

“Cukup, pak. Sudah, saya mau pulang.” Kata Dandung memotong perkataan pak Ngadiyo sambil berdiri dari duduknya dan trus ngeloyor pergi tanpa pamit.

“Wah, marah dia, Mid.” Kata pak Ngadiyo kepada Hamid sambil melihat Dandung berlalu.

“Hahahaha. Jangan kuwatir, pak. Anak itu kalo marah cuma sejam kok. Saya temenan sama Dandung udah 10 tahun lebih, saya tahu sifatnya. Besok juga pasti bakal ke sini dan wedangan lagi.” Jelas Hamid.

“Eh, tapi omong-omong tadi sampeyan mau bilang apa sama Dandung? Yang keempat itu?” Tanya Hamid.

“Oalah. Yang ke-empat tadi sebenernya saya mau tanya, dia mau minum apa? Cuma itu saja, tapi keburu dia marah dan pergi.” Kata pak Ngadiyo sambil tersenyum dan disahuti dengan tawa Hamid.

Originally posted 2015-01-21 17:13:49.

Comments 9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares