Saradan

Hari ini event Ngayogjazz digelar. Di dusun Brayut, Sleman. Event tahunan yang menghadirkan jazz di perkampungan ini seolah sudah jadi ciri tersendiri dari wajah Yogyakarta.  Sebagai salah satu warga, saya merasa ikut bangga dengan event ini.  Nah, event-event seperti ini, acara musik-musikan, selalu saja mengingatkan saya akan judul di atas, saradan.

Lho apa hubungane? Jadi begini, saya itu termasuk orang yang ndak bisa diam kalau dengar musik yang enak. Ndak peduli itu musik metal, rock, dangdut ataupun jazz. Kalau sudah merasa enak, ya goyanglah tubuh ini. Nah pergoyangan ini kadang tidak terkontrol juga, dalam artian bagian tubuh bergerak sendiri. Ketika seperti ini most likely bisa disebut saradan. Sebenarnya ya ndak juga sih, yo ming ben nyambung wae. 😐

Oke, jadi saradan itu bahasa Indonesianya apa ya? Kondisinya itu begini lho, misalnya kita itu sedang melakukan sesuatu, atau berkonsentrasi mengerjakan sesuatu, atau sedang ngalamun, lantas kaki kita goyang-goyang misalnya. Atau satu saat leher merasa pegal lantas kita mak klek klek “mematah-matahkan” leher malah koyo Gatotkaca, atau ngrepyek jari jemari. Nah itu saradan.

Pada beberapa kasus saradan, beberapa dokter meyakini bahwa itu berbahaya. Misalnya kebiasaan mematahkan leher tadi, bisa-bisa beneran patah leher kita, alias kesleo. Atau mematah-matahkan buku-buku jari, bisa mlengse juga. Nah paling parah ya soal goyang-goyang tadi, beberapa meyakini bahwa satu saat nanti hal itu bisa memicu parkinson. Katanya demikian.

Saya sendiri dulu punya saradan mematahkan leher itu, lantas membaca mengenai bahayanya di majalah Intisari bekas, maka sayapun berusaha menghentikannya. Berat sekali prosesnya, beberapa hari leher saya rasanya kenceng banget, kaku. Untunglah saat itu saya belum aktif coding, sehingga ya biarpun leher kenceng, bisa saya lawan. Akhirnya saya tidak lagi punya saradan itu.

Padahal saradan itu memberikan kepuasan batin walaupun sesaat. Ini cukup misterius sih menurutku, bisa jadi ini masalah psikologi, jadi rasa kepenak dan puas itu hanya di wilayah batin saja. Akan tetapi kegiatannya ataupun aktivitasnya kan fisik, jadi ya rasanya jadi lebih enak dan enteng saja gitu. Tapi, saat ini kalau saya mematahkan leher, yang saya rasa justru leher jadi nggak enak. Entah kenapa.

Nah itu sekelumit tentang saradan, teman-teman sendiri punya saradan apa saja? Mari kita berbagi sambil ngobrol sambil menikmati ngayogjazz sekalian hujan-hujanan!

vale, demi saradan

el rony, saradan bubur gudeg. eh kuwi sarapan.

Originally posted 2014-11-22 14:10:50.

Comments 6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares