Ngobrolin Makanan dan Konflik Rumah Tangga

Tak terasa sudah empat minggu menulis di sini, walaupun yang kadang agak-agak telat tapi ndak papa ya, santai jaa.. Namanya juga jagongan 🙂

Mendapat “piket” menulis di hari Minggu punya tantangan sendiri. Sebab di akhir pekan yang umumnya para netizen bersantai-santai melepas kepenatan selama hari-hari kerja, biasanya pada males kalo baca hal-hal berat (koyoto baca tulisan “jangan pake gancu” di karung yang masih berisi beras seberat satu kwintal). Saya juga gitu sih jan-jan e

Tapi di sisi lain, kalo nulisnya ke-enteng-en, takutnya malah jadi ndak seru saking enteng e. Sementara kalau mau nulis cerita ala situs-situs yang kena blok konten positif, nanti gek-gek jagongan ya ikut ke-blok. Rak malah kojur to itu? Lagian saya ndak tega nulis cerita-cerita kayak gitu, terutama kalau harus nulis yang bagian “begitu-begitunya”, gilo je.. 😀

Hidangan di Warung Makan
Hidangan di Warung Makan

Akhirnya saya coba nulis bab makanan/minuman, tapi bukan yang seperti: “hidangan di warung ‘Obah Mamah Anak Tambah’ ini, oseng genjer-nya mak nyusss, dan teh hasil cem-cem-am kemaren sore-nya top markotop.”

Karena sudah banyak yang bisa menulis hal-hal seperti itu jauh lebih baik, lebih wangun, dan tentunya bisa sangat menggoda selera. Ibarat kalau main bulutangkis, mereka pasti menang mudah kalau bertanding melawan saya, walaupun mereka cuma pegang raket pakai tangan kiri (dengan catatan yang bersangkutan tidak kidal).

Makanya akhirnya saya memilih mlipir dan menulis yang serba remeh temeh saja seputar makanan dan minuman.

Tapi eh tetapi, ternyata ada beberapa kawan yang punya pendapat sendiri atas tulisan tentang makanan dan minuman tersebut.

Pas waktu nulis tentang kopi dan juga teh misalnya, tak hanya satu dua kawan yang berkomentar: “Kopi (Teh) kok diobrolin/diomongin/diceritain/dibahas. Kopi (Teh) itu enaknya ya diminum.”

Pendapat kawan-kawan saya tadi tidak salah sih, ora maidho kalau kopi/teh itu enaknya diminum, sementara tumpeng dan cake itu enaknya dimakan.

Tapi —sama dengan title blog keroyokan ini— karena kita kadang butuh ngobrol, saya pikir tak ada salahnya kan ngobrolin makananan dan berbagi pengalaman tentang makanan. Selain bisa memperluas wawasan, setidaknya itu bisa mengurangi konflik rumah tangga.

Eh, ndak main-main lho, beneran itu. Lha wong pernah ada pengalaman seorang suami cerita (sebenernya sih curhat tapi kan cowok sama cowok, kalo diistilahkan curhat kok kesannya geli-geli gimanaaa gitu) ke saya kalau sang istri semenjak menerima kunjungan kerabat sang istri tersebut dari kampung, perilakunya berubah dan seolah sengaja membuat si suami kecewa.

Saat saya tanya gimana bikin kecewanya (perlu saya jelaskan kalau saya nanyanya tanpa diikuti adegan si suami shoulder to cry on di bahu saya terus tak puk puk), si suami cerita kalau si istri seolah sengaja bikin dia kecewa dan emosi dengan tiap hari memasak tempe goreng yang dalamnya masih mentah untuk dia.

Sayangnya, suami ndak tanya ke istri kenapa dia jadi gitu, ditambah lagi selama ini ndak pernah ada yang ngajak ngobrol si suami (bahkan istrinya ndak pernah dijak rembugan e), bahwa ragam olahan tempe ada bermacam-macam, tidak hanya tempe garit dan tempe kemripik yang biasa dia temui dan rasakan. Ada juga yang namanya tempe mendhoan, yang sering disuguhkan sang istri, oleh-oleh kerabatnya dari Banyumas itu.

Bayangkan, cuma gara-gara ndak pernah ngobrolin makanan lho itu..

Itu baru sebagian kecil pengalaman dampak negatif ndak pernah ngobrolin makanan. Belum lagi jika seseorang harus berhadapan dengan masyarakat yang latar belakang budaya dan pendidikan yang berbeda misalnya dalam hal penyuguhan makanan. Pernah ada seorang pelancong di suatu derah menemui kejadian disuguhi makanan yang diwadahi pispot keramik.

Untungnya si pelancong sering ngobrolin makanan, jadinya ya bisa ngerti dan paham. Ndak langsung berdiri berkacak pinggang sambil menuding-nuding dan berkata, ”Kalian akan saya tuntut karena telak melakukan tindakan tidak menyenangkan dan melecehkan saya!”

Ada pula yang karena mungkin karena kehidupan kota besar menuntut semuanya bergerak cepat, sehingga tidak memberikan ruang untuk ngobrolin makanan. Akibatnya seorang Mbak-mbak dan beberapa pemuda percaya bahwa untuk mendapatkan buah salak itu, kita harus memanjat pohonnya terlebih dahulu lalu memetiknya di atas.

Iya, benar separah itu dampak tidak pernah ngobrolin tentang makanan. Tentu saja kalau bisa ya sekalian mencicipinya, mosok ya ada makanan minuman di depan kita, cuma kita diemin dan kita rasani aja tapi ndak pernah dicicipi. Ha itu ya lebih kleru deh ketokke.

Jadi semoga tidak ada yang keberatan lagi kalau saya jadi sering ngobrolin makanan atau minuman yaa…

ditulis di Minggu pagi di dalam kamar sambil melihat dua ekor ayam jago yang sedang makan di halaman rumah. Melihat mereka asik notholi styrofoam yang entah dari mana, nampaknya mereka tidak pernah ngobrolin apa yang mereka makan deh…

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | TemuKonco

Originally posted 2014-11-23 09:32:04.

Comments 7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares