Dampak Missing Font Terhadap Tukang Letter

typograph

Pemilihan huruf bisa menimbulkan intepretasi tersendiri bagi pembacanya. Mungkin pemilihan huruf yang terlalu artistik terlalu nyeni dengan konsep dan filosofinya masing-masing bisa menimbulkan ambigu bagi pembacanya. Seperti yang terjadi belum lama ini, gara-gara visualisasi huruf dengan filosofi level bakul necis berjas membuat geger sak negoro.

Bicara masalah huruf tak lepas dari peran tukang letter — sebut saja demikian karena berurusan dengan visualisasi huruf pada sebuah media. Kurang paham sejarahnya, sejak dulu di pinggir jalan banyak lapak yang menyebut seperti itu. Mungkin mereka tak mengenal konsep tipografi seperti cah desain. Eh.. tipografi bukan ahli typo lho ya. Para tukang letter itu berbekal ketrampilan tangan memvisualkan huruf secara rapi, kadang nyeni seperti keinginan pemesan — ini tukang letter profesional.

Rikala toko kaset lagu-lagu masih berjaya, para pelajar banyak yang mencoba menjadi tukang letter. Ingat Rugos? iya huruf gosok yang legendaris itu, dinamakan demikan karena huruf gosok merk rugos yang merajai pasaran kala itu. Rugos tersedia dalam bermacam jenis huruf, jenis huruf diidentifikasikan dengan nomer bukan nama huruf. Satu set rugos terdapat 5 abjad atau angka yang sama.

Para pelajar kala itu menggunakan rugos untuk membuat sampul tugas kliping suratkabar, dengan menata satu persatu huruf digosok. Sudah membuat garis dummy sebagai baseline huruf tapi susunannya tetap pating pentalit, tidak rata dan tidak rapi. Repotnya lagi kalau jatah hurufnya habis, kembali ke toko stationary tapi jenis huruf bernomer sama sudah habis. Nah itu sepenggal kisah pelajar masa lalu yang berurusan dengan letter.

Lain kisah, Lek Karjo yang memenuhi kebutuhan sandang-pangannya dengan menjadi tukang letter. Lek Karjo ini masih nak-sanak dengan Pakdhe Sarwo dalam cerita kamis yang lalu. Dia membuka lapak dengan label menerima pesanan spanduk, papan nama, dan sejenisnya. Kadang-kadang menerima pesanan plat nomer kendaraan juga.

Dengan intuitif, Lek Karjo memainkan cutter memotong kertas karton membentuk huruf satu-persatu sebagai mal. Kemudian mal tersebut disemprot cat di atas media kain spanduk atau plat seng, membutuhkan dua-tiga hari pesanan bisa selesai. Dulu usaha Lek Karjo sempat berjaya namun kini sudah meredup.

Kalau ada acara di kampung, karena keahliannya menata huruf Lek Karjo sering didapuk sebagai koordinator dekorasi. Dengan bahan kertas Asturo warni-warni, dipotong membentuk huruf, ditempel pada kain backdrop warna biru dongker. Jadilah backdrop bertema “Syawalan Kampung”.

Namun, tahun ini peran Lek Karjo sebagai koordinator dekorasi digantikan pemuda kampung yang canggih. Sebut saja Suta, Naya, Dadap dan Waru, tahun ini mereka didapuk menyiapkan backdrop acara Pitulasan.

Suta di depan laptopnya, dengan sigap mulai membuat desain backdrop dengan program komputer canggih. Tulisan “Peringatan” dengan font yang nyeni meliuk-liuk, “Kemerdekan RI” dengan font warna merah-putih yang unik juga, “17 Agustus” dengan font Arial Bold. Kemudian ditambahkan gambar pejuang nan heroik.

Suta bertanya kepada teman-temannya, “Enake dicetak neng ndi yo dab?” Dadap bilang, di enggok-enggokan dekat SD harganya murah. “Di dekat Jokteng saja printernya canggih sak negoro,” sahut Naya. “Lor kampus kae, baru buka sesasi kepungkur, opo sing kidul pasar mbak-mbake ketoe semanak” kata Waru.

Oh nganu wae, ngarepe anggkringan Lek Ngadiyo, karo nunggu iso leyeh-leyeh neng angkringan, piye?” kata Suta. Akhirnya mereka setuju usul Suta.

Mereka berempat memasuki lapak berjuluk Digital Printing. “Mau nyetak apa mas?” kata mbake CS. Backdrop mbak jawab mereka. “Per-meter lima belas ribu, mana mas flesdisknya biar ditangani operator,” ujar mbake CS. Setelah file disainnya dibuka, ZONK!

missing-font

“Wah maaf mas missing font, font-nya gak di-convert,” kata Mas Operator. “Yo wes mas, font e diganti sak anane pokoke waton wangun wae,” kata Suta. Mas Operator bilang, oke tunggu sak jam yo. Akhirnya Suta, Naya, Dadap dan Waru menunggu di Angkringan Lek Ngadiyo.

Sementara itu, Lek Karjo yang makin sepi order hanya jagongan di emper rumah dengan tetangganya.

Originally posted 2014-11-20 16:59:56.

Comments 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares