Recehan Kricik

Rikala jaman feodal masih jaya, hari Kamis merupakan hari yang ditunggu-tunggu rakyat mengalap berkah udik-udik dari sang raja sehingga dikenal istilah ngemis. Namun kini istilah ngemis identik dengan meminta-minta dan biasanya dikasih uang receh kricik (koin).

Pengemis: nyuwun paring-paring den..
Ndoro: sanes e mawon mbah, ora duwe duit kricik

Percakapan standar ketika menolak pengemis yang saya dengar sejak dulu kala. Beneran ndak punya recehan? Biasanya saya dapat recehan dari kembalian membeli sesuatu, pernah menghitung sehari dapat berapa recehan? wah ya selo sekali ngitung nominal kecil ini.

Bagi yang sudah merasa financial freedom semacam Buos Adam recehan ini mungkin ndak ada artinya. Tapi lihat itu yang bikin acara Koin peduli ini peduli itu, mereka bisa mengumpulkan jutaan rupiah untuk membantu yang membutuhkan.

Sehari misalnya, beli onde-onde dapat kembalian rp 200, kembalian makan siang rp 500, malam jajan di angkringan dapat susuk Rp 500, beli kebutuhan lain misalnya dapat kembalian Rp 700. Total sehari kira-kira dapat uang recehan sebanyak Rp 1900. Dikalikan 30 hari jadinya Rp 57000, lumayan buat membeli pulsa.

Kalau saya, biasanya recehan yang didapat ditaruh di toples atau wadah apalah yang wangun untuk menyimpan recehan. Ada beberapa wadah recehan termasuk tabungan anak lanang. Sampai sekarang belum pernah juga menghitung total recehan itu. Dulu pernah, ketika satu wadah penuh kemudian recehan bernominal sama dibendel/diselotip per 10 keping. Lupa berapa rupiah terkumpul.

Banyak manfaat recehan, misalnya membahagiaan orang lain, misalnya mbak-mbak penjaga mini market pasti senang bila kita membayar dengan recehan. Untuk investasi akhirat, infak di Masjid atau sodaqoh. Sosial kemasyarakatan untuk jimpitan ronda, saya biasanya memasang Rp 500. Jaman saya sekolah dulu diberi uang recehan masih jaya, uang jajan 500an bisa buat jajan krip-krip, minuman, gulali. Anak sekolah sekarang uang jajannya sudah 10x jaman saya.

Tak sengaja ketika merogoh saku sekeping recehan jatuh mengelinding, merasa financial freedom buat apa ngopeni uang kecil yang jatuh. Ada yang pernah mengalami masa ketika tanggal tua, kantong kosong terus mencari recehan di bawah kolong kasur, laci atau yang terselip di kursi sofa?

Originally posted 2014-10-30 13:00:21.

Comments 15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares