Galengan Sebagai Simbol Kebahagian

Negeri agraris nan elok, subur, dan permai, menanam tongkat kayu dan batu menjadi tumbuhan, kata lirik lagu. Kalau batang kayu ketela atau tebu pasti tumbuh, coba menanam kayu randu alas.

Menurut berita, kini negeri agraris sedang mencari peruntungan di atas wahana maritim, Jalesveva Jayamahe! Konon, nenek moyangku seorang pelaut namun saya lebih dekat dengan lingkungan agraris. Saya hanya kenal laut sebatas pantai laut kidul yang ditunggu Nyai berpakaian hijau.

Lingkungan agraris identik dengan petak-petak sawah yang dibatasi galengan (pematang sawah). Sawahe pirang bau? satuan bau sebagai ukuran luas peninggalan rikala jaman kolonial era Cultuurstelsel. Sekarang petak sawahnya makin kecil sepersekian bau, sawah warisan mbah canggah dibagi-bagi kepada anaknya diturunkan lagi semacam skema MLM.

“Kene kene, leren disik Dik Jono, lungguhan neng galengan,” kata Pakdhe Sarwo sambil nglinting tembakau dengan kertas kwalitet istimewa, usai matun, menyiangi rerumputan yg tumbuh diantara padi.

Pakdhe Sarwo hanya petani penggarap. Dia dipercaya menggarap sawah milik seorang pegawai yang bekerja di negoro. “Sawah ini saya garap sejak jaman bapaknya beliau, sistemnya bagi hasil,” kata Pakdhe sambil ngempake udud.

“Hasile pripun pakdhe ?” tanya Jono. “Ya kalau ditung-itung kaya cah sekolahan kae ya nganu… nanging ngalkhamdulillah dicukup-cukupke iso nggo nyukupi keluarga lan nyekolahke bocah-bocah nganti mentas,” ujar Pakdhe Sarwo.

Di atas galengan seberang tampak Mas Har, Pakdhe Sarwo berteriak, Tindak pundi Mas Har? “Kundur Pak Dhe, pun siang ngaso riyin, saking ngoncori sabin wetan mriku,” jawab Mas Har.

Kemudian Pakdhe Sarwo berkata sudah siang saatnya rolasan sambil mengambil rantang bekal dari Bu Sarwo, “Rolasan sek Dik Jono, iki digawani jangan lodeh karo tempe garit,” ujarnya.

Sambil makan siang Pakdhe bercerita, dahulu ketika anak-anaknya masih kecil sering menemaninya di sawah. Nyenengke ono kancane, mereka bermaian di galengan, mencari ceplukan atau mencari welut.

“Putrane mboten wonten sing neruske tani,” tanya Jono. “Wah ora ono dik, podo ora gelem kekeceh neng sawah tur yo ora duwe sawah,” kata Pakdhe. Sekarang anak-anaknya sudah mentas, mbarep bekerja di pabrik, yg nomer dua ikut suami ke seberang laut dan ragil mbuka warung di rumah.

Jono bergumam dalam hati, negeri agraris tapi makin sedikit petaninya. Sawahnya kok nganu… galengan berubah jadi pagar, petak sawah bertingkat dengan kamar mandi dalam yang bisa dipanen ajeg tiap bulan, bahagia level financial freedom.

Originally posted 2014-11-13 14:49:56.

Comments 12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares