Dunia Perjodohan dan Cerminan Masa Depan Bangsa

Kali ini saya tidak akan bicara mengenai mistis-mistis. Saya ingin membahas sesuatu yang berkorelasi langsung dengan nasib bangsa, perjodohan. Mengapa perjodohan bisa terkait dengan nasib bangsa? Oke, mari pelan-pelan kita bahas.

Seperti kita tahu, perjodohan ini tidak hanya ada di negeri ini. Di semua negara, semua warna kulit, perjodohan selalu ada. Entah alasan budaya, agama atau bahkan sekedar pergaulan, maksudnya ya memang pingin menjodohkan temannya dengan adiknya misalnya. Kenapa begini? Nah ini perlu saya bahas terlebih dahulu. Jawabannya singkat saja, karena ini berkait dengan awal mula terciptanya manusia.

Manusia itu sebenarnya dulunya, dulu sekali, jaman kita masih bisa berbincang-bincang dengan para dewa, terlahir dengan tubuh dampit. Tuhan menurunkan manusia dalam satu paket, berdempetan dengan jodohnya masing-masing. Maka di masa-masa itu, tidak ada istilah galau dan sejenisnya. Hingga kemudian, manusia memupuk sifat serakahnya, dan menurunkannya pada keturunan berikutnya.

Melihat kemungkinan semakin membesarnya sifat serakah tersebut, Tuhan merasa perlu menciptakan kesibukan baru pada manusia. BLAR!! maka dipisahkanlah tubuh-tubuh sak jodho itu. Dunia gelap. Dan begitu terang kembali menyapa bumi, sibuklah manusia-manusia, mencari belahan dirinya. Itulah mengapa suami/istri/pacar/pasangan disebut sebagai belahan jiwa. Kalau tidak percaya, silakan tanyakan ke mas Katon.

Itu cerita mengenai asal muasal sifat galau kita. Tanpa sifat galau dan nggrantes, kita pastilah akan terjebak ke sifat-sifat serakah yang memang pada dasarnya kita miliki. Maka bersyukurlah kalau kamu galau. .. eh.. nganu..

Kembali ke topik awal, perjodohan. Maka ketika jiwa-jiwa pencari belahan tadi (belahan apapun itu) gelisah, mulai terciptalah khayalan-khayalan tentang sesuatu di luar mereka, yang membantu menemukan belahan jiwa yang mereka cari. Dewa-dewi perjodohan. Di sini mulai terbangun segregasi antara manusia. Batas-batas imajiner tentang wilayah, negara, suku dan dibantu dengan perbedaan warna kulit, cuaca serta bahan makanan, membuat khayalan-khayalan inipun menjadi sangat beragam.

Para bule, memilih dewa-dewi perjodohan mereka dalam bentuk anak-anak. Cupid. Lucu, menggemaskan, popoknya dipakai selendang, punya sayap imut. Bagi mereka, dewa-dewi perjodohan haruslah membawa semangat cinta. Dan cinta bagi mereka adalah sesuatu yang lucu, imut, menggemaskan sekaligus usil, kadang rewel. Kadang memaksa turunjaba. lho curhat.

Cinta sebagai bahan bakar manusia menemukan tujuan hidupnya, belahan jiwanya, memberi kekuatan pada manusia untuk menciptakan hal-hal yang tidak terbayangkan. Misalnya ngojek dari bantul ke kaliurang bablas gunung kidul naik ke bukit, bablas lagi kaliurang terus pulang lagi ke bantul. Tidak ada kekuatan lain, bahkan dorongan mencari uang sekalipun — kecuali dirimu berprofesi sebagai tukang ojek –, yang bisa memberi kita kemampuan menjalani hal itu, kecuali oleh cinta. Maka demikianlah, bahan bakar yang nganyeli, nggemeske dan kadang rewel itu, melahirkan bangsa superior yang kadang super egois dan menjajah kemana-mana. Bangsa bule.

Sementara kita? Di sini hal yang lucu terjadi. Kita hidup cukup santai. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh orang Jepang tentang Indonesia dan manusia di dalamnya, betapa tergambar jelas bahwa masyarakat kita ini adalah masyarakat super santai. Bahkan kalau ada dewa santai, mungkin dia akan pegal-pegal sendiri karena kita lebih santai. Etos kerjapun demikian pada akhirnya, kalau bisa dikerjakan besok, kenapa dikerjakan sekarang? Kalau bisa diketik malam, kenapa harus posting pagi? atau ngedraft postingan kemarin? Cih, ndak woles, ndak mbudaya.

Dan hasil akhirnya adalah mewujud dalam bentuk dewa dewi perjodohan kita, Mak Comblang. Tua, sanggulan, pake kebaya, kadang ngunyah susur. Riwil dan crewetnya tetap. Jadi, kebayang kan kira-kira nasib dan masa depan kita seperti apa? Nggak terima? Buktikan kalau kamu menyimpan energi bayi kecil ipel-ipel yang kemana-mana nembaki orang-orang!

vale, demi postingan

Originally posted 2014-11-08 20:24:22.

Comments 16

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares