Lanang lan Wadon, luwih saru sopo?

Tanpa bermaksud menyudutkan salah satu jenis kelamin, saya mau mencoba memberikan beberapa pengalaman saya berbaur di masyarakat yang sangat memungkinkan terjadi percakapan yang nyrempet-nyrempet babagan saru. Terlebih hidup di desa yang banyak banget acara atau kegiatan yang mengharuskan srawung, obrolan yang awalnya biasa saja jadi mrembet ke perkara saru dan ternyata seru ya. Hahaha! Nggak! Saya Cuma pendengar saja. Tolong dicatat, ya.

Setelah beberapa kali saya mengalami sendiri, sepertinya saya berani bilang kalau ternyata perempuan itu sangat rentat terseret pembicaraan saru dan bahkan bisa dibilang saru banget kalau sudah mulai mbablas. Coba bayangkan saja, pada saat kegiatan rewangan pas saya membantu goreng tempe untuk makan siang, seorang ibu nyletuk bilang “tempene aja lali diwalik, dik”. Saya jelas menjawab “nggeh, budhe”. Eladalah, seorang ibu-ibu di sebelah saya nimbrung bilang “ha karang nek diwolak-walik ki ben enak j”. Lantas apa yang selanjutnya terjadi? Para ibu-ibu yang mendengar kalimat itu, kebanyakan sudah bersuami, tertawa semua. saya? Ndomblong karo gedheg-gedheg, ngelu sirahe.

Itu hanya perkara tempe goreng, belum kalau pas ngupas timun, bengkoang (besusu), terong, dll. Pokoknya, ada saja yang bisa disangkut pautkan dan jadi bahan obrolan yang embuh bagi saya. La gimana, coba? Posisi saya kan nanggung banget, mau nimbrung dikira sudah tahu, tidak nimbrung ya cangkeme gatel pengen melu komen. akhire? Pindah nang patehan. Apa yang saya dapatkan atau ya saya nguping di sana?

Malah berkebalikan sekali. Para bapak-bapak yang banyak nongkrong di patehan malah blas tidak membahas babagan yang saru bin nyrempet-nyrempet sama sekali. Lantas, apa yang mereka bahas? Bal-balan, onderdil motor, anake sek meh sekolah, dan pengalaman mancing biasanya. Saya yakin, kalau bahan obrolan itu diobrolkan oleh ibu-ibu tadi pasti jadi panjang dan membuat tertawa ger-geran. Bagaimana saya bisa yakin? Pernah saya dengar ada ibu-ibu tidak sengaja bilang kalau dia semalaman ditinggal suaminya pergi mancing. Reaksi ibu yang lain? Mancing ki mancing iwak apa mainan alat kencing? Dhuar!!! Sem tenan pokoknya mah. Serba embuh kalau pas rewangan. Tempat yang paling aman ya kalau di rewangan ya ikut bantu anter nasi. Jadi bisa sekalian jalan-jalan 🙂

Eh, kog tibane kayak ghibah ya? Hahahaha..

Eh, eh.. Kalau yang suka saru di timeline Twitter sa tahu loh.. *menandai akun

(“,)

Author: Alfonsa Juliana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares