Burjo – Antara Tradisi dan Ilmu Ekonomi

Mungkin adalah tulisan ane tentang burjo untuk kesekian kalinya. Namun hampir setiap tulisan tentang burjo yang ane tulis di Jagongan memiliki cerita yang berbeda. Kali ini ane akan bercerita tentang Tradisi bahkan menjurus ke ideologi warung burjo yang terkadang harus berbenturan dengan ilmu ekonomi dan kebutuhan.

Cerita menarik ini terinspirasi untuk menulis dari warung burjo dekat tempat ane tinggal. Dimana dia masih kekeh dengan tidak menjual sarden dan lauk lainnya. Walau masih ada nasi telur. Namun masih menggelitik menurut ane. Ane akan menceritakan sendiri cerita tentang masih lumayan ada Warung Burjo yang masih memegang Tradisi mereka berjualan. yaitu dengan tidak menjaul menu diluar Mie Instan dan bubur kaang ijo itu sendiri. Sebagian telah ane ceritakan di artikel ane yang berjudul Burjo Tertua di Jogja.

Core dari warung burjo sebenarnya adalah bubur kacang hijau itu sendiri dan mie instan. Namun setelahh berbaur dengan orang lokal, menurut kabar yang berhembus entah itu online atau offline, adanya kolaborasi dari pemilik warung yang akhirnya menikah dengan orang jawa yang instrinya pintermasak akhirnya memasukkan nagi goreng, nasi telur dan menu2 yang umum kita temui saat ini diwarung buro kebanyakan. Bahwa sekarang gak jauh beda antara warung burjo dengan warung ramesan, namun burjo tetaplah burjo semua akan beda jika kita sudah menghayati.

Bisnis inipun menggeliat dan masih menjadi bisnis menjanjikan, sebagian memang yang masih menjaga tradisi adalah warung warung yang sudah makan banyak garam sejarah pekembangan burjo itu sendiri dan yang warung warung mudapun jika menyaingi mereka sangat akan susah jika langsung hanya menjual bubur dan indomie. Namun sebagian yang muda juga ingin menjaga tradisi itu hasilnya tentu tidak akan rame.

Mereka yang masih menjaga tradisi masih tetap rame, menurut ane bukan karena mereka hanya menjual tradisi yang lama saja namun karena mereka sudah menjadi otoriti, Karena kebanyakan orang yang datang tentu orang lama yang sudah tahu apa yang hanya mereka jual dan faktor itulah yang menjadi mereka masih eksis sampai saat ini.

Menariknya warung samping ane ini kebetulan tergolong baru dan lumayan banyak yang menyakan menu sarden dll. Namun karena ingin menjaga tradisi mereka malah membuang banyak rejeki. Dan akhirnya tepatnya 2 hari ini akhirnya mereka bisa berdamai dengan kebutuan yang akhirnya menjual brbagai menu seperti warung burjo kebanyakan setelah hampir 2 tahun menahan diri. Dan kalian tahu alasan kenapa ketika ane tanya ? ” Buat tambah2 mas hasilnya lumayan 2 hari ini ” Padahal jika mereka menjual itu 2 tahun lalu ane rasa mereka akan menuai hasil yang lebih maksimal, namun tidak ada yang terlambat dalam berbisnis.

Ane tidak anti dengan burjo yang masih menjaga tradisi karena mereka tetep menjadi tujuan utama ketika benear2 ingin merasa Indomie Goreng telur dan bujo yang kafah, Namun burjo yang saat ini masih menjadi sumber uang yang paling realistis dengan margin roi bahkan sampai 200%. Yang paling masuk akal adalah nasi teelur dan nasi sarden. Bayangkan harga sarden yang hanya 18an ribu berisi 6 ikan bisa dijual engan harga 7000-8000 / porsi. Jika dihitung nasi secetakan kobokan pecel lele itu kita hargai modal 1000 berarti modal 1 kaleng sarden itu adalah 24.000 yang menghasilkan 8000×6 adalah 48.000 tanpa ribet mendapatkan untung 24.000 hampir untung 100%. Belum lagi nasi telur yang dijual 6000-6500 dengan modal 1 telur 1500 + nasi 1000 dan osng mungkin 500. Yang modalnya hanya 3000 rupiah berarti untung sekitar 3000 rupiah. Maka dari itu makin kesini tidak banyak yang juga menjual bubur kacang itu itu sendiri karena nilai ekonominya tidak banyak dan keuntungan tidak laku harus dibuang karena gak mungkin dipanasin buat besok harinya.

Pelajaran penting dari warung burjo hari ini adalah

Pada akhirnya keras kepala dan ideologi itu gak ada duitnya jika kita juga masih butuh duit. Ketika jelas jelas pasar banyak yang mencari.

Dan kata kata itulah yang juga sering ane lontarkan ke Hamid

Baca tulisan yang lain tetang Burjo :

Author: iQbal Khan

Full Time Blogger | Grey Hat SEO | Web Developer & Optimization

Comments 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + 6 =

Shares