Istilah JOMBLO Bisa Jadi Propaganda Kapitalis

Malam Minggu kalau hujan deras nyaris merata di seluruh kota sejak menjelang Maghrib. Biasanya kondisi ini membuat banyak orang enggan untuk berpergian jika tak benar-benar merasa perlu. Semua itu sangat masuk akal dan wajar.

 

Tapi saat melihat keriuhan di linimasa (yang ini nyaris enggak ada kaitannya sama pilkada), mendadak tersadar kalau selama ini ada yang rasanya kurang wajar deh. Kurang wajarnya karena keriuhan di linimasa itu isinya banyak bercandaan tentang “jomblo”.

Kenapa kurang wajar? Karena gojekan “jomblo” itu setahu saya sudah lawas banget, setidaknya secara nasional mungkin diawali oelh band GIGI dengan lagu yang juga berjudul JOMBLO dan hampir selalu diulang-ulang tiap hari.

Dilanjutkan lagi dengan adanya buku yang isinya kental dengan kisah suka duka dan kelucuan yang mengekspose ke-jomblo-an seseorang pemuda.

Masa itu nampaknya memang “JOMBLO” lagi naik daun, sehingga buku tersebut diangkat ke layar lebar. Maka jadilah deman “jomblo” sebagai bahan candaan makin memasyarakat ke mana-mana. Apalagi nyaris setiap komika di acara-acara stand up comedy televisi membawakan tema ini sebagai materi mereka.

Setahun, dua tahun, lima tahun, wajarlah. Lha ini…

Tahukah kawan-kawan semua, misalnya kita menggunakan lagu Jomblo-nya GIGI sebagai pemicu awal demam istilah ini, maka itu sudah lebih dari 10 tahun lalu. Karena lagu Jomblo adalah salah satu single andalan GIGI di album mereka berjudul Untuk Semua Umur, yang dirilis tahun 2001. Sementara, kalau ada yang lupa, sekarang sudah 2017, saudara-saudara…

Apa artinya ini?

Artinya, bisa jadi ada campur tangan jaringan kapitalisme global dalam tindakan melestarikan istilah “JOMBLO” sebagai bahan gojekan.

Kecurigaan ini muncul karena disadari atau tidak, JOMBLO berhasil dikemas secara taktis dan strategis untuk minimal menggoyahkan kepercayaan diri seseorang baik itu pemuda maupun pemudi yang kebetulan belum memiliki pasangan.

Karena kalau bener-bener mau jujur, sebenernya enggak ada yang salah dengan orang dewasa yang belum memiliki pasangan. Sungguh. Tapi begitu ada istilah JOMBLO, yang kemudian baik secara bercanda maupun serius dilabelkan kepada mereka yang belum berpasangan, seolah orang dewasa yang belum punya pasangan itu jadi suatu aib, jadi sebuah masalah besar yang jadi urusan banyak orang.

Efeknya, perlahan-lahan orang dewasa yang belum punya pasangan ini jadi merasa terintimidasi, merasa ada yang salah dengan dirinya karena kok belum juga memiliki pasangan, sementara kawan-kawan mereka banyak yang sudah punya.

Saat kepercayaan diri seseorang mulai goyah dan melemah, saat itulah jaringan kapitalisme global melancarkan serangannya. Dengan berusaha meyakinkan si orang yang belum berpasangan itu kalau keadaan mereka yang seperti ini hanya karena mereka kurang membeli hal-hal yang dijamin akan meningkatkan penampilan mereka di hadapan lawan jenis.

Mungkin yang itu berkaitan dengan kesehatan, masih masuk akal. Seperti sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi, shampo, dan parfum. Hal yang berkaitan dengan kerapian juga masih masuk akal, seperti sepatu, pakaian, sisir, minyak rambut, dan sejenisnya.

Tapi itu mulai tidak masuk akal saat mulai dimasukkan ke dalam pikiran mereka bahwa semua itu tak cukup untuk mendapatkan pasangan.

Mandi pakai sabun memang bersih, tapi kalian akan lebih tampak segar dan menawan kalau pakai sabun merek X yang biasanya berharga lebih mahal. Pakai pakaian bersih dan rapi memang oke, tapi akan lebih tampak tampan di hadapan orang-orang kalau pakai pakaian merek Y, yang juga harganya lebih “bunyi”. Sepatu juga tidak cukup merek biasa yang tak terkenal. Kudu merek terkenal di level global, agar penampilan makin handal.

“Tapi kan jodoh harus dicari, dan ini salah satu  bentuk usaha mencari jodoh. Apa itu salah?”

Ya jelas tidak salah sih, tapi ya tidak juga harus mengeluarkan biaya yang sesungguhnya tak perlu demi mencapai tujuan itu. Banyak cara lain memperoleh pasangan dengan biaya yang lebih masuk akal. Jogging dengan pakaian olahraga dan sepatu yang sederhana tentu saja, dan meditasi misalnya.

Padahal, ha mbok semahal apapun semua yang dipakai dan disandang, nek cen durung nemu jodoh ne ya tetep masih sendirian lah. Sementara di sisi lain hal yang pasti adalah pendapatan produsen-produsen barang-barang bermerk itu jadi makin meningkat.

Jadi sangat mungkin to kalau JOMBLO adalah bentuk propaganda kapitalisme, agar kita mengeluarkan uang lebih daripada yang sebenarnya kita butuhkan?

Mau bukti lain?

Dulu ada sebuah merek sabun yang punya tagline “satu untuk semua” karena sabun itu mengklaim bisa digunakan untuk apa saja, mulai dari untuk mandi sampai untuk mengepel lantai. Jadi sebelum ada istilah itu, semua orang sepakat bahwa fungsi sabun ya untuk membersihkan. Tidak ada kaitannya dengan “makin memancarkan aura maskulin, Anda”, misalnya.

Contoh lain lagi:

Pada memperhatikan enggak, iklan yang menakut-nakuti para perempuan yang ketiaknya hitam atau bahkan berbulu agar mereka membeli produk-produk penghilang bulu dan pemutih ketiak baru banyak muncul setelah istilah JOMBLO naik daun.

Padahal sebelum ada istilah JOMBLO, hal itu tidak masalah, bahkan bisa menjadi simbul keseksian perempuan. Tidak percaya? Coba googling “Eva Arnaz”.

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | @temukonco

Comments 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares