Apa Salahnya Nge-Love Postingan Instagram Lawas?

Sebelumnya mohon maaf atas kebodohan saya, tapi jujur saja hingga saat ini saya masih susah memahami mereka yang malu atau merasa tertangkap basah saat tidak sengaja “nge-love” sebuah postingan lawas dari akun instagram orang lain.

Maksud saya, apa salahnya to kita nge-love postingan lawas orang lain?

Lha wong secara sistem dan teknologi juga tidak dilarang bahkan sangat memungkinkan, tinggal telaten-telaten scrolling sampai menemukan postingan-postingan yang kita pengen love.

Kalau itu memang salah dan dianggap tidak etis, pasti instagram sudah menghapus foto-foto yang telah berusia sekian tahun, atau menetapkan semacam batas kedaluarsa sebuah postingan sehingga akan terhapus sendiri, seperti snapchat atau Instagram stories yang sekarang lagi populer itu.

Lagian, postingan-postingan lawas di instagram sebenarnya bisa kita anggap sebuah dokumentasi berharga baik untuk si pemilik akun instagram, maupun buat mereka yang mengunjunginya.

Setidaknya jika baru kenal dengan seseorang dan kita tahu akun instagramnya, kita bisa kenal lebih dekat dengan orang itu melalui postingan-postingan IG-nya. Bahkan mungkin kita bisa menemukan hal-hal keren di postingan IG lawas orang itu yang memang layak diberi “Love”, kenapa tidak kita beri saja? Nggak salah kan?

Atau ada yang merasa malu karena kalau nge-love postingan IG lawas seseorang itu, bakal khawatir kita ketahuan kepo-in dan stalking-in dia?

Jangan khawatir, kalau dia mikir kita kepo-in atau stalking-in dia, itu 100% masalah dia. Kalian tidak salah sama sekali. Lha wong akun IG dia terbuka untuk publik kok, semua orang bisa liat. Kenapa kok dia mikir yang enggak-enggak kalo ada yang nge-love postingan lama dia? Misalnyapun dia nggak mau di-kepo-in dan di-stalking-in, akunnya digembok aja atau mau lebih aman lagi, foto-foto-nya disimpan di hardisk dalam folder terproteksi password saja, jangan diupload di media sosial manapun. Aman.

Atau ada yang merasa malu atau gengsi karena ketahuan nge-love (atau tidak sengaja nge-love) postingan lawas mantan, mantan gebetan, mantan pasangan, atau apapun itu yang serupa?

Kalau seperti itu, berarti masalah ada di kita sendiri. Karena kalau mau jujur, mau kita nge-love postingan lawas mantan kita sampai jungkir jempalik, ya ndak banyak berefek buat hubungan kalian kan?

Karena secara teknis sebenernya tak ada bedanya kalian nge-love postingan lawas mantan kalian itu dengan postingan lawas DJ Butterfly, Winny Putri Lubis, Biebie Julius, Xena Xenita, atau mungkin Riris Arista. Karena yang mak grang-greng ya cuma kalian dan perasaan kalian aja, sementara mereka ya luweh-luweh aja.

Jadi kalau kasusnya seperti itu, yang bermasalah adalah kalian sendiri lengkap dengan gengsi yang terkandung di dalamnya. Padahal kata Masahiro Sawamura di komik Harlem Beat: “Walau diberi kecap-pun, gengsi tetap tidak bisa dimakan.”

Tapi sebenarnya kekhawatiran terbesar saya atas kecenderungan orang-orang enggan me-Love postingan IG lawas orang lain adalah, jika ini dilakukan oleh semua pengguna maka akan ada potensi jutaan mega byte data yang mubazir, karena data berupa postingan instagram tersebut tetap ada dan berdesak-desakan mengisi jagad internet kita, tapi sangat sedikit orang yang mengakses, menikmati, dan mengapresiasinya.

Postingan-postingan lama instagram yang tidak di-love hanya karena malu atau gengsi itu, ibarat kopi atau tembakau, sebenarnya masih sangat layak dinikmati. Tapi karena tidak diapresiasi, jadinya ya ngabar.

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | @temukonco

Comments 6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares