Gagan dan Puji: Nrimo #NjagongHamid

Waktu sudah manjing Dhuhur, dua jagoan kita Gagan dan Puji baru saja selesai sholat di masjid kesayangan marketing se-Bantul, Masjid Nurul Hidayah . Karena target dodolan sudah tercapai, mereka bersantai-santai dulu di serambi masjid. Leyeh-leyeh sambil ngisis, silir sekali siang itu. Gagan memperhatikan tingkah laku Puji yang tampak beda dari biasanya.

“Buos, kamu kenapa kok kayake tak mat-matke dari tadi, koyone ada yang berbeda, something wrong gitu?” Tanya Gagan, meskipun Puji lebih junior tapi Gagan memanggil Buos ke dia. Untuk lucu-lucuan saja.

“Ndak ada apa apa Mas, aku cuman lagi sedih aja mas” Jawab Puji agak lemes.

“Sik sik, nek seumuranmu ki mesti ming masalah urusan duniawi ki, percintaan yo? Ditinggal rabi po?”

Puji hanya mengangguk, lalu menata jaketnya agar bisa dijadikan bantal untuk tiduran. Setelah itu Puji pun bercerita ke Gagan perihal “ditinggal rabi”.

“Piye yo mas, padahal aku wes yakin nek deweke ki jodoku je” Kata Puji sambil agak mimblik-mimblik. “Tiap malam minggu pasti tak apeli di kosnya, bahkan kadang jatah apel tak tambah di malam jumat”

“Kalau kami yhang-yhangan, pacarku pun tak jak di tempat yang mbois-mbois, nonton di EX EX WAN, makan di peper launs pokoknya nak dek nak dek gitu Mas” Tambah Puji lagi. Gagan mendengarkan cerita Puji sambil manggut-manggut pertanda paham. Bisa juga pertanda pernah merasakan seperti yang Puji rasakan.

“Terus kowe njuk sedih Ji? Nglokro ngono?” Tanya Gagan

“La iyo to Mas, kuwi ki motivasi hidup ku je Mas. Motivasiku kerjo ki nggo dewek e je. Ngumpulke modal ben aku karo dewek e sesuk iso bebrayan”Kata Puji sambil menatap tajam ke langit-langit masjid. “La nek ditinggal rabi gini, aku njuk kudu ngapain mas? Kerjoku selama ini nggo ngopo? Uripku Mas, uripku iki nggo ngopo?”

“Tenang Ji, nek menurutmu wong sak donya iki ana ra sing mengalami hal koyo kowe? Gagan balik tanya

“Ya mestine ada mas” Jawab Puji

“Nah, berarti kowe kudu bangga no Buos, kalau masalahmu itu juga dialami wong sak dunia” Kata Gagan sambil menepuk pundak Puji.”Wes sakiki bayangno, artis kesenenganmu kae, sing wedok suarane apik kae? Raisa? Kae yo mesti udah pernah sedih patah hati kayak kamu. Kowe kudu bangga”

Puji manggut-manggut, dalam hatinya berpikir ada benernya juga perkataan seniornya ini. “Berarti njenengan yo sudah pernah Mas? Tanya Puji

“Aku? Koyo kowe iki?” Tanya Gagan lantang

“Iya mas, ditinggal rabi koyo aku ini?”Puji memperjelas pertanyaannya

“Kerep”Jawab Gagan

Puji tertawa terbahak-bahak “Asemik Mas, tak kiro njenengan ki belum pernah je”

“Hahahaha, la aku ki iso ngomong yo karena pengalaman to?” Gagan terbahak-bahak, Mereka berdua pun akhirnya tertawa terbahak-bahak, sebelum akhirnya sadar kalau masih berada di serambi masjid.

“Ji, aku mbiyen wes tau pacaran karo cah Psikologi. Njuk aku tau diajari lima tahapan kedukaan, nek basa kerennya ki The Five Stages of Grief”

“Opo kui mas? Enak ora” Tanya Puji

“Enak dengkulmu, jadi ada lima tahap dalam berduka, nek contohe kamu ya berdukanya itu karena ditinggal rabi pacarmu”

“Apa saja itu mas tahapannya?” Tanya Puji

“Sing Pertama, Penyangkalan atau Denial, itu contohnya kamu tuh masih merasa nek ijih pacaran, merasa nek dia itu masih milikmu”

“Yang Kedua”, Tambah Gagan “Marah atau Anger, dadi isine cuma muring-muring saja. Ngaku wae, mis mecahi pirang piring kowe?

“Belum mecahi piring mas, wong piring saya dari blek kok, pecah ora, peyok hooh :(” Aku Puji, “Terus yang ketiga apa mas”

“Yang ketiga itu Bargaining atau menawar” Kata Gagan

“Kok kaya di Pasar mas? Ngenyang”

“Hush kamu itu! Mau dijelasin nggak?”

“Mau dong mas”

“Jadi gini, mungkin kalau kamu gini, Biar kamu nggak jadi putus, kamu mau ngelakuin apa aja. Jadi nawar”.

“Nah yang keempat itu sedang kamu alami sekarang ini, yaitu Depresi. Sedih, ra perduli dengan hidupmu, males mau ngapa-ngapain, merasa hidupmu udah nggak ada artinya lagi”

“Woh kok kamu tahu mas?”

“Gagan gitu loh” Jawab Gagan sambil menepuk dada

“Itu sudah ada empat tahapan, terus tahapan terakhir apa mas? tahapan kelima?”

“Nah yang kelima ini adalah Penerimaan atau Acceptance” Jawab Gagan

“Kayak orang Sunda ya Mas?”

“Orang Sunda gimana?”Gagan bingung

“La itu Asep mas, Aseptans”

“Wah udah bisa bercanda kamu, mungkin kamu sudah mau di tahapan kelima ini. Sudah bisa mulai menerima apa yang terjadi. Sudah bisa menerima kenyataan”

“Ya kayane wes mulai sithik sithik bisa nrimo mas”

“Apik nek ngono Ji”. Kata Gagan.

“Laif Mas Gogon to mas?”

Gagan mengangguk dan tersenyum. Dalam hatinya dia setuju dengan Puji, hidup harus terus berjalan. Meskipun sedih tetapi tetap optimis.


hamid motor
honda kuat honda kuat 🙂

 

 

 

Author: Veta Mandra

Karyawan Kerja Waktu Tertentu bagian HRD, tinggal di Bantul bagian timur. Istrinya satu anaknya tiga. Tiga sudah cukup, karena yang ditanggung asuransi perusahaan cuma segitu.

Comments 6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares