Antara Hujan, Kenangan, dan Mie Rebus

Mas Husein, sang mahasiswa Universitas Terbuka yang juga berpropesi sebagaikru percertakan datang lagi dan bersedia untuk njagong lagi. Kali ini sodara beliau bercerita tentang mie rebus. Sekalian merayakan Palentin ala londho, mie rebus yang disajikan Mas Husein diberi bumbu spesiyal. Spesiyal pake nggrantes. Oiya, bagi yang belum juga berkenalan dengan Mas Husein, boleh lho follow twitternya


Janjane judul diatas kurang sreg buat saya, istilah mi rebus ki kurang membumi. Tapi, daripada saya jadi baser mi instan dadakan, mending dibuat netral saja.

Sudah memasuki musim hujan, wayahnya jaket dan payung jadi teman. Buat yang kerjaannya mondar-mandir, hujan bisa jadi alangan untuk menjadi manusia garing. Yang baru memasuki wayah galau bin gundah gulana, musim hujan adalah waktunya memandang ke jendela dan termenung. Disambi playlist pamityang2an juga #okesip itu, watonnya ndak kebablasen. Masa depan masih jauh membentang, ki sanak. *halah

Kalau mbahas hujan, mbuh kenapa banyak waktu selo dipake buat merenung, njur mengenang yang sudah-sudah. Buat sebagian kaum nggrantes, wayah hujan dipake ngeling-eling jaman yhangnya, trus senyam-senyum sendiri. Tak ingin hanya jadi kenangan, lelaki kita ini nyoba ngontak yhang-nya. Di-sms, ndak bales. Wasap, cuman centang abu-abu. Di-BBM, cuman D thok. Ditelpon ndak diangkat. Jebul lagi kelingan nek sudah pedot sama yhang-nya itu karena beda keyakinan. Yang cowok yakin, ceweknya
nggak. nggrantes meneh..

Buat kaum pemakan segala, seperti saya, musim hujan yang dingin ini enaknya makan mi rebus. Tambah telur 8/13 mateng, dikasih rajangan cabe rawit, dan gorengan, wes cocok tenan. Tempat makannya pun lebih pas kalo di warung burjo –yang jarang ada burjonya itu-. Walaupun tutorial rahasia mie ala aak sudah terungkap oleh pakar SEO muda di sini, tep feel paling sip itu pas ditanyain pake basa sunda itu. Apalagi kalo yang njualin teteh manis macam burjo di jakal itu. Dararamang wes pokokmen.

Saya jadi mbayangke, bagaimana kalau kaum pemakan ini dikombinasikan dengan kaum nggrantes. Jadi kaum pemakan nggrantes. Halah. Maksudnya, ketika makan mi rebus dengan penuh penghayatan merga kahanan pas itu bikin kelingan jaman ngeyup sama yhang-nya trus saling ngelap wajah dengan lengan jaket. Pesen teh panas, yang manis kayak pacarnya itu. Mesam-mesem njur pura-pura perhatian, model sinetron itu. “kamu makan apa yang? “ |“apa aja mas, yang penting kangmas temenin.”. wes, senyam-senyumnya tambah lebar itu. Mesthi.

Tapi, biar seperti sinetron, kudu ada konflik. Setelah bermanis manja grup, sang lelaki pun lagi kelingan kalo ndak bawa dompet. Si mbak ayu juga cuman bawa diri dan cinta. Alhasil, kudu ninggal jaket teles bin semi penguk sebagai jaminan. Kisinan tur isih marai ngguyu nek kelingan. Sampai saat itu tiba.. Mi rebus yang dimakan sudah habis, namun tidak kenangan itu. Senyum yang tersimpul berganti menjadi duka, saat kaum pemakan nggrantes kita ini teringat, bahwa kini ia #piyambakan. Sang mbak ayu sekarang sudah jadi pasangan kaum seleptuit yang sekali ngetuit bisa jadi trending topik dunia-akherat. Apalah lelaki kita ini, yang hanya memiliki follower kurang dari 500, dibandingkan sang pujaan baru yang berpengikut sekian –K.

Maka lengkaplah hubungan antara hujan, kenangan, dan mi rebus kita kali ini. Menyuplik dari mbak Deviana Safara, masa lalu biarlah masa lalu. Jangan kau ungkit jangan ingatkan aku. Marilah kita move on, terus bekerja, lupakan sang mantan. Ingatlah KPR dan cicilan menantimu. Njur nggrantes meneh..

Comments 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

33 − 28 =

Shares