Tentang Janda dari Desa Dadapan

Sabtu, malam minggu, adalah hari yang pas untuk bercerita tentang apapun. Bisa sambil menidurkan anak, bisa sambil ngobrol ngalor-ngidul dalam rangka srawung, atau bisa juga sambil pacaran. Hanya saja kalau bercerita sambil pacaran, njuk pacarane kapan? Nah, sebagai bahan untuk nanti malam, saya ingin membahas tentang mbok rondo Dadapan.

Kalau mengingat cerita-cerita lama jaman kecil dulu, hampir selalu bisa dipastikan salah satu tokoh utamanya adalah mbok Rondo Dadapan. Apa dan bagaimana ceritanya beliau bisa muncul di berbagai cerita, saya sendiri masih penasaran. Biasanya seseorang disebut-sebut itu karena ada hal istimewa di dirinya. Dan tak bisa dipungkiri, di dunia yang dominan lelaki, ciri-ciri fisik yang amboi, aduhai, semlohay adalah syarat agar seseorang bisa menjadi tokoh utama. Anehnya, mbok rondo ini ndak seperti itu, lantas kenapa dia bisa jadi tokoh utama? Namun setelah kembali menyelidiki dengan metodologi antropologis, saya sampai pada kesimpulan bahwa beliau bukan tokoh utama, beliau adalah pemeran pembantu utama. Meski bukan tokoh utama, tetapi mbok Rondo Dadapan punya kans untuk memenangkan piala citra.

Nah, dikarenakan saya tidak bisa menemukan alasan utama mbok Rondo jadi tokoh cerita, maka saya akan membahas saja ciri-ciri dan hal-hal terkait lainnya. Dengan demikian paling tidak jika satu saat kita kesasar di hutan beneran, bukan keblasuk di alas mentaok, dan menemukan sosok dengan ciri-ciri berikut, maka waspadalah, bisa jadi kita adalah tokoh utama dari sebuah cerita. Baik-baiklah sama beliau, agar kita menjadi legenda.

Ciri-ciri Si Janda dari Dadapan

Ciri utama yang paling menonjol adalah beliau sudah cukup tua. Kalau menilik dari tafsiran atas kisah-kisah yang beredar dan terjaga kesahihannya, usia beliau kurang lebih sekitar 45 hingga 55 tahun. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa beliau mampu hidup sendiri dan menghidupi dirinya sendiri, meskipun beliau tidak memiliki bisnis kos-kosan. Usia di atas itu mestinya sudah tidak mampu mondhong kayu atau bongkotan daun ke pasar.

Ada kalanya beliau terlihat agak terbungkuk, tetapi mungkin ini hanya karena beliau sedang membersihkan kakinya dari telek lencung. Lha mondhong kayu je mosok wis bungkuk. Sangat kecil kemungkinan beliau terlihat mengunyah daun sirih. Sampai detik ini saya belum menemukan literatur cerita yang menerangkan demikian, jadi kalaupun ada yang menyebutkan beliau suka makan daun sirih, bisa jadi itu kisah dhaif. Walaupun saya akan menempatkannya sebagai dhaif khasanah. Karena memperkaya khasanah cerita. Lha.

Ciri yang lain adalah seperti sudah di awal, beliau hidup di rumah beliau sendiri. Bisa di tengah hutan, bisa di tepi hutan. Saya sudah pastikan di hutan biologi UGM ndak ada mbok Rondo, adanya pak dosen, itupun beliau sudah almarhum. Rumah mbok Rondo ini agak terpencil, jauh dari penduduk. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa beliau mampu menampung “pelarian” ataupun anak buangan. Jika rumahnya di Pogung Dalangan, sudah pasti didatangi pak RT, dimintai keterangan atau malah dikira memelihara teroris. Bahaya.

Lantas ciri ketiga, yang ini juga sudah saya sebutkan. Mbok Rondo menyambung hidupnya dengan memilih profesi sebagai pemungut kayu kering. Beliau tidak memiliki Chainsaw, jadi kalau ada yang menyebutkan mbok rondo mbopong chainsaw, saya pastikan itu tidak cuma dhaif tapi bathil! Selain kayu kering, beliau juga mengumpulkan daun-daun kering. Kadang daun jati, kadang daun pisang. Dan saya pastikan lagi, beliau tidak memiliki warung burjo!

Ciri berikutnya adalah beliau suka mencuci pakaian di sungai. Itulah mengapa beliau bisa mendapatkan popok beruk yang keli. Beliau pastinya berpakaian jarik dan kebaya sederhana. Sangat sulit saya membayangkan beliau mencuci jeans di kali, apalagi jaket kulit.

Mbok Rondo Dadapan juga orangnya ramah. Walaupun beliau juga bisa kejam kalau kamu berpakaian serba kuning dan bau tahi, atau kamu membuat keli popok dan/atau beruk. Keramahan beliau ini yang membuat beberapa tokoh utama krasan tinggal dengan beliau. Mungkin kadang kejam, tapi kejamnya itu kejam sayang. Mungkin mirip dengan kalau kamu nyubit pacarmu, nyubit itu kan sakit, tapi karena sayang jadinya sama-sama mak serr.

Keanehan Mbok Rondo

Nah setelah ciri-ciri sudah saya sampaikan, saya juga perlu membahas tentang keanehan mbok Rondo ini. Masih di ranah ciri sebenarnya tetapi karena ini cirinya bersifat non fisik jadi mungkin agak sulit ditengarai. Hanya bisa diketahui setelah sebuah cerita tuntas dilakoni.

Keanehan apakah itu? Mbok Rondo ini orang yang sangat bersahaja. Meskipun ditempati tokoh-tokoh utama yang di akhir cerita selalu bahagia, beliau tidak lantas nunut mulyo. Beliau tetap kembali ke tepi hutan dan menjalani kehidupannya, sambil setia menampung kalau ada tokoh utama yang mampir di kehidupannya.

Ada sih cerita dimana beliau dimanja harta, lantas beliau jadi lupa diri. Bisa jadi itu mitos saja, atau mungkin juga benar adanya. Maksud saya, bisa jadi memang beliau sempat hidup mulia, tetapi karena foya-foya, jatuh miskinlah lagi dia. Nah proses ini nampaknya mewarnai dirinya, membekas dalam, sehingga ketika tokoh utama berikutnya kembali hadir di rumahnya, beliau sudah capek nunut mulyo. Mungkin saja kan? Mungkin lho..

Waspada dan…

Maka ketika satu saat kita terdampar di tepi sebuah hutan, atau di tengah hutan, lantas menemukan orang dengan ciri-ciri di atas, waspadalah, bisa jadi kita sedang menjadi tokoh dari sebuah legenda. Jalani saja dan berbaik-baiklah dengan mbok Rondo. Kalaupun ternyata kita bukan tokoh utama, paling tidak bisa jadi nama kita akan di sebut –walaupun sekali lalu dilupakan– dalam sebuah epos cerita.

Sekali lagi saya ingatkan, waspadalah dan… tetap cincing. Soale togua banjir.

Nah itu saja yang bisa saya bagi tentang mbok Rondo Dadapan. Mungkin ada yang terlewat, kita bahas saja di hari lain, kalau saya ndak males. Atau mungkin kanca muda punya usul?

vale, demi kemandirian

el rony, nggoleki dadapan.

n.b: hampir setiap kota di Yogya dan Jawa Tengah memiliki desa bernama Dadapan.

Comments 20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares