Beda Potongan Pertama Tumpeng dan Cake Ulang Tahun

Jadi to, ternyata tulisan tentang potong tumpeng yang ternyata saru itu ditanggapi bermacam-macam oleh khalayak.

Untung saja, sekarang sudah ndak masa kampanye. Kalo masih masa kampanye kayak kemarin, kan bisa-bisa dituduh memecah belah kerukunan warga.

Tapi terlepas dari perdebatan antara simbolis – tradisional dengan praktis – modern, ada sebuah pertanyaan menarik seperti ini:

Misalnya simbolisme tentang hubungan manusia dengan Tuhan itu tidak ada, dan anggap pula budaya memberikan potongan pertama roti ulang tahun itu bukan datang dari barat. Bukankah yang tersisa hanya aktifitas memberikan potongan pertama suatu hidangan ke orang yang disayang? Terus, di mana letak salahnya?

Justru, ini adalah kesalahan mendasar di luar makna simbolis pemotongan tumpeng, yang makin menjelaskan ketidaksesuaian pemaksaan budaya barat ke budaya tumpeng kita ini.

Cake yang Telah Dipotong
Cake yang Telah Dipotong
Sumber: Wikipedia

Perbedaan bahan-bahan makanan antara tumpeng dan roti, serta bagaimana perbedaan bahan-bahan makanan tersebut diolah dan disusun antara dua jenis makann tersebutlah yang menyebabkan potongan pertama cake ulang tahun sangat sesuai untuk orang yang kita hormati/sayangi/cintai.

Sementara sebaliknya, potongan pertama pucuk tumpeng sangat tidak sesuai dan tak layak untuk orang yang kita hormati/sayangi/cintai. Dengan catatan tambahan, kedua kasus di atas tadi baru bisa dilakukan jika kita sudah PUNYA orang yang kita cintai/sayangi sih 😀

***

Cake ulang tahun, seperti yang kita ketahui, umumnya bahan dasar cake-nya dibuat dari tepung terigu, telur, kadang ditambahkan rhum atau vanilla sedikit, untuk aroma. Setelah cake jadi, kemudian tak jarang cake tersebut disusun berlayer-layer selang-seling antara cake dan olahan tertentu misalnya cream, cokelat, atau bahan-bahan lainnya yang akan memperkaya rasa cake tersebut.

Lalu pada bagian akhir biasanya sekujur permukaan cake tersebut diblonyo dengan lapisan yang biasanya terdiri dari gula serta butter/mentega, dan tak jarang diberi cokelat atau cheese cream untuk menambah rasa. Selain untuk “membungkus” cake tersebut, tujuannya juga untuk menghias cake tersebut agar terlihat cantik (dan njuk eman-eman nek arep dipotong dan dimakan). Ini istilah kerennya icing.

Karena telah terbungkus adonan icing tersebut, maka bagian dalam cake jadi terlindung dari udara luar. Ini membuat kelembutan, rasa, serta aroma di dalam cake tersebut tertahan di dalam, makin meresap, dan tidak “lari” karena menguap dari pori-porinya.

Dengan demikian, maka orang yang mendapat potongan pertama dari cake ini sesungguhnya mendapat “bagian paling sempurna” dari cake tersebut.

Karena potongan yang dia peroleh adalah bagian yang paling sedikit terkena udara luar setelah proses icing. Sehingga rasa, aroma, dan kelembutan cake yang dia peroleh masih dalam kondisi prima, berbeda dengan cake potongan-potongan berikutnya yang lebih lama terkena udara luar terutama pada bagian dalam bekas potongan cake tersebut.

Tentu saja, sangat wajar potongan pertama yang terbaik tersebut kita persembahkan pada orang yang kita hormati atau paling kita sayangi.

***

Itu sangat berbeda dengan tumpeng. Bentuknya yang kerucut, membuat penampang nasi tumpeng di bagian dasar lebih luas dari bagian pucuk. Ini membuat suhu di bagian dasar tumpeng lebih terjaga dan tidak cepat dingin, berbeda dengan bagian pucuknya. Apalagi di sekeliling bagian dasar tumpeng terdapat bermacam lauk pauk dan sayur-sayuran yang lebih menyusahkan aroma dan rasa yang ada di dalam menguap, dan udara dari luar masuk melalui sela-sela butiran nasi. Ini membuat rasa, aroma, dan kelembutan butiran nasi tumpeng di bagian dasar tetap terjaga dalam kondisi terbaiknya.

Berbeda dengan kondisi pucukan tumpeng, yang selain penampangnya lebih kecil sehingga memudahkan udara masuk dan rasa serta aroma di dalam butiran nasi lebih mudah menguap. Apalagi jika ada di udara luar cukup lama, beberapa jenis beras akan cepat mengeras dan kurang nikmat disantap. Ini yang dialami pucuk tumpeng yang sendirian di atas menantang udara terbuka dan ngabar dengan seksama.

Tentu saja, kondisi seperti ini membuat pucuk tumpeng sesungguhnya jadi terasa kurang enak jika dibanding bagian nasi tumpeng yang ada di dasar. Kita tentu tidak ingin memberikan bagian yang mulai mengeras dan aromanya ngabar ini pada orang yang kita hormati atau kita sayangi kan?

Ya ngono kuwilah… Ternyata ndak semua budaya dan tradisi bisa diterapkan pada makanan dan minuman dari budaya dan tradisi lainnya to?

Author: temukonco

traveling | movie | photography | food-lover | good-listener | secret-keeper | storyteller | @temukonco

Comments 11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

72 − 70 =

Shares