Peran Arang Kayu Dalam Pembentukan Karakter Pemuda Pemudi Harapan Bangsa

“Dukun sampeyan baru ya, pak. Tumben jam segini udah rame banget?” Tanya Hamid mengamati meja-meja di angkringan pak Ngadiyo yang penuh terisi.
“Rejeki bakul wedang sholeh ini, Mid. Kamu itu kenapa sih nuduh terus kalo saya pake dukun kalo angkringanku rame? Agak nggak ikhlas kamu ya kalo saya sukses?” Kata pak Ngadiyo.

“Lho, siapa yang nggak ikhlas kalo temennya sukses. Nyatanya saya abis kerja ngetehnya di sini, bukan di mall-mall atau di restoran yang adem itu.” Ujar Hamid.

“Lha itu karena kamu nggak mampu aja jajan di sana. Tapi kamu ya nggak pantes kalo nongkrong di sana. Dari mukamu itu orang udah tau kalo kamu mandi aja sabunnya pinjem. Gitu kok mau nongkrong di tempat mewah.” Ejek pak Ngadiyo. Yang diejek cuma mringis sambil menyeruput teh gula batunya.

Angkringan pak Ngadiyo ini itungannya angkringan kontemporer. Tidak cuma sekedar angkringan gerobakan, dia menyewa halaman parkir kantor notaris yang lumayan lebar, kira-kira 3 m x 10 m. Ditatanya dibawah tenda trathak, sebuah gerobak dan 3 buah meja panjang berjejer. Dan sore itu memang terlihat banyak orang wedangan di sana.

Belum habis segelas minuman Hamid, sebuah mobil sedan hitam kinclong terlihat parkir di depan gerobak angkringan. Tak lama kemudian dari dalam mobil keluar 3 orang muda-mudi. 2 pria dan 1 perempuan.

“Itu, tambah lagi pelanggan sampeyan. Memang top tenan dukunmu itu. Sekarang mobil mewah aja mampir ke sini.
Rombongan pengunjung baru itupun terlihat melangkah menuju gerobak angkringan.
“Monggo mbak, mas, masih muat kalo cuma bertiga. Kamu pindah sini, Mid.” Pak Ngadiyo mempersilakan tamu-tamunya duduk.

Hamid pun berpindah tempat, kena gusuran pemilik angkringan.

“Minum apa, mas, mbak?” Tanya pak Ngadiyo kepada tamu barunya.
“Saya es teh pak manis, kamu apa?” Kata si pemuda berkaos kuning, sambil bertanya kepada 2 temannya.
“Ada teh botol pak?” Tanya si perempuan.
“Waduh, nggak ada, mbak. Botolnya baru dipake buat ngoplos bensin.” Jawab pak Ngadiyo sambil bercanda.
“Ya udah deh, es teh manis juga.” Sahut si perempuan.
“Eh, ada kopi jos nggak ya?” Salah satu pemuda bertopi dari rombongan tadi bertanya.
“Ada, mas. Mau kopi jos? Berarti 1 kopi jos, 2 es teh manis ya?” Tanya pak Ngadiyo yang lalu diiyakan oleh pemuda berkaos kuning.
“Emang kopi jos apaan?” Tanya si perempuan kepada temannya.
“Itu, kopi dikasih bara api. Kamu liat aja nanti. Aku juga baru nyoba, liat di internet kalo di Jogja ada kopi jos.” Jelas si pemuda bertopi.
“Eh, kapan-kapan kalian harus ke Itali deh. Nanti aku kasih tau coffee shop yang kapucinonya enak banget.” Kata si perempuan.
“Iya, aku pengen ke sana tapi mungkin tahun depan. Akhir tahun aku mau ke Singapore. Temen-temen SMA-ku mau ngajak reunian di sana.” Jawab si pemuda bertopi.
“Kamu kapan ke Singapore? Aku juga rencananya mau ke sana akhir tahun ini. Ada Temenku datang dari Inggris akhir tahun juga, aku mau nemuin dia di sana.” Kata pemuda berkaos kuning.
“Lho, bukannya kamu mau ke Sidney?” Tanya si perempuan kepada pemuda berkaos kuning.
“Nggak jadi, ternyata konser band Uwauwu2 dibatalin sama panitianya. Untung belum jadi beli tiket.” Jelas si pemuda berkaos kuning.
“Awal Desember. Ntar kabar-kabar deh, aku juga belum beli tiket kok, siapa tau bisa berengan berangkat.” Jawab pemuda bertopi.

Hamid yang mendengar pertanyaan itu langsung melirik ke pak Ngadiyo. Pak Ngadiyo yang sibuk membuat pesanan tamunya juga sebentar-sebentar melirik ke arah tamu-tamunya itu. Tak lama kemudian 2 gelas es teh dan segelas kopi jos hadir di hadapan mereka. Semua mata pengunjung baru itu tertuju pada kopi jos yang ketika disajikan masih mengebulkan asap dan menyisakan bara api yang perlahan mati.

“Ini kopi jos ya?” Tanya si perempuan.
“Iya, mbak.” Jawab pak Ngadiyo.
“Kenapa harus dikasih arang nyala sih?” Tanyanya perempuan lagi.
“Itu arengnya berkhasiat, mbak. Bukan areng dari kayu biasa.”Jelas pak Ngadiyo.
“Lho, dari kayu apa pak?’ Tanya si pemuda bertopi yang tadi memesan kopi jos.
“Itu arengnya terbuat dari kayu pohon semangka, mas. Beda dengan kayu biasa.” Jelas pak Ngadiyo.
“Emang apa bedanya dengan kayu lain?” Tanya si pemuda bertopi lagi.
“Beda, mbak. Kayu semangka konon kalo dibuat areng berkhasiat menyembuhkan masuk angin dan rasanya manis.” Jelas pak Ngadiyo.
“Lho? Masak arang rasanya manis?” Tanya si perempuan?
“Lho lha iya, buahnya aja manis. Lha dari mana rasa manisnya kalo nggak dari pohonnya?” Jelas pak Ngadiyo. Rombongan tamu itupun serempak mengangguk menyetujui teori ilmiah itu.
“Nanti kalo dingin coba diicipi saja arangnya diseruput. Kalo pas beruntung sih biasanya dapet areng pohon pisang. Itu kalo dibuat kopi jos, kopinya bisa mengeluarkan aroma pisang.”
“Oh iya? Aku baru tau ternyata arang banyak macemnya.” Kata si perempuan terkejut.
“Aku mau coba dong, ini udah nggak panas deh, keliatannya.” Kata si perempuan.

Kemudian perempuan itu mengambil arang di gelas kopi jos dengan sendok yang tersedia. Dengan perlahan diletakkannya arang yang sudah diambil itu ke sebuah piring kecil yang sebelumnya diberikan oleh pak Ngadiyo. Dipegangnya arang itu dengan hati-hati untuk memastikan arang itu sudah tidak panas lagi, lalu diambilnya arang itu dan dicucupnya. Semua orang yang ada di gerobak itu tegang melihat perempuan tadi menyucup arang, kecuali Hamid yang menahan tawanya. Pak Ngadiyo dengan muka serius melihat perempuan itu menyucup areng tadi.

“Iya manis, kok bisa ya?” Kata perempuan itu terheran-heran.
“Nah kan, kapan-kapan kalo sempet berkunjung ke Turi, Sleman.” Ujar pak Ngadiyo.
“Ada apa di sana, pak?” Tanya pemuda bertopi.
“Di sana ada agrowisata kebun salak. Bisa liat pemrosesan pohon salak jadi areng. Trus bisa manjat pohon salak, mas dan mbak boleh metik salak langsung dari pohonnya.”
“Wuih, asik itu. Aku mau nyoba manjat pohon salak.” Kata si perempuan dengan antusias kepada teman-temannya.

Hamid terpaksa harus menyingkir dari gerobak karena tidak bisa menahan tawanya. Cukup lama hingga rombongan itu keluar dari tenda dan berlalu dengan mobil mereka. Hamid kembali menuju ke gerobak menemui pak Ngadiyo.

“Bajigur, sampeyan tega nipu anak muda.” Kata Hamid kepada pak Ngadiyo.
“Yo biar, mereka itu ngobrolnya ngalor ngidul mbahas luar negri. Lha wong hal-hal sederhana yang ada di sekitar mereka saja mereka belum tau kok. Makanya, sering-sering nongkrong di angkringan pak Ngadiyo sini. Biar tau kalo manjat pohon salak itu butuh ilmu kebal duri. Hehehee.” Jawab pak Ngadiyo sambil terkekeh.

“Terserah, pak. Sak karepmu.” Kata Hamid masih tertawa terbahak-bahak membayangkan pohon semangka dan debog pisang yang dibuat areng, ditambah perempuan memanjat pohon salak yang berduri itu.

Comments 41

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 1 = 8

Shares